Tafsir Al-Hijr 88: Hari Buruh, Hari Unjuk ‘Kekufuran’

Shortlink:

alhijr ayat 88 “La tamuddann ‘ainaik ila ma matta’na bih azawaja minhum”. Pesan ayat studi ini cukup jelas, yakni larangan “maddul ‘ain” (panjang mata) kepada duniawi, uang dan sebangsanya. Panjang mata berarti rakus, tamak, iri dan tidak nerimo pemberian Tuhan dan tidak pula bersyukur terhadap apa yang dimiliki. Begitulah istilah yang arab yang kemudian dipakai sebagai bahasa metaforis pada ayat studi ini.

Tanggal 1 Mei adalah May Day, hari buruh internasional yang lazim diperingati dengan cara berdemo besar-besaran. Tujuan utamanya itu-itu saja: “menuntut kesejahteraan, kenaikan upah”. Kata-kata yang dipidatokan umumnya mencemooh pemerintah, menghujat pengusaha habis-habisan sebagai buruk melulu, tidak pernah ada baiknya, menzalimi, memeras dan menindas. Pemerintah dituding lebih berpihak kepada pengusaha ketimbang buruh dst.

Ya, itu sah-sah saja, semoga ada kebaikan bagi semuanya di masa mendatang. Semoga para buruh sadar kekurangannya sendiri. Ketahuilah, seorang teman dari Beijing menggumam: “pekerja negeri ini tergolong “paling malas” dibanding pekerja asing, seperti Korea, China dan Jepang. Buruh negeri ini lebih pandai menuntut, ketimbang meningkatkan kualitas kinerjanya. Lebih memperhatikan hak ketimbang kewajiban”.

Seorang teman pengusaha menimpali: “Kami hanya membuka peluang kerja, gajinya sekian, ketentuannya demikian dan sama sekali tidak memaksa. Mereka daftar dengan suka hati, bahkan ngerayu-ngerayu untuk bisa diterima. Sekiranya tidak cocok, ya silakan keluar dan beres kan?. Tapi, nyatanya setelah di dalam malah ingin menguasai kami-kami dan sering memaksakan kehendak”.

Penulis tidak tahu apakah keluhan itu beralasan atau tidak. Mudah-mudahan tidak ada demo majikan dan para boss menuntut kualitas kerja para buruh.

Sebagai orang beriman yang butuh curahan rahmat Tuhan, tentu berharap hari buruh diperingati sebagai hari “kesyukuran” bukan hari “kekufuran”. Bersyukur kepada Tuhan yang masih memberi rejeki lewat memburuh. Berucap terima kasih kepada para pengusaha yang berkenan memberi pekerjaan sehingga keluarga bisa makan. Berucap terima kasih kepada pemerintah yang mengatur ekonomi meski di sana sini ada kekurangan. Bukan hari “kekufuran” yang menafikan rahmat Tuhan dengan hujatan dan tuntutan lebih dan lebih. Demo macam itu sungguh menyinggung perasaan Tuhan dan bisa berakibat rejeki yang didapat tidak berbarakah.

Jika hari buruh diperingati dengan cara bersyukur, kayak kita syukuran pada Maulid Nabi atau setelah panen raya, di mana pemerintah, pengusaha dan sedulur-sedulur kaum buruh duduk tersenyum dalam satu arena, saling mengucap terima kasih atas jasa dan kebaikan masing-masing, saling meminta maaf atas segala kekurangan masing-masing, lalu bertekad memperbaiki diri sesuai kewajiban masing-masing, sungguh Tuhan-pun ikut duduk bersama mereka sembari menabur keberkahan tak terhingga. Itulah janji Tuhan.

“Aku adalah orang ketiga dari dua orang yang menjalin kerja sama, selagi tidak ada kecurangan di antara mereka”.


Artikel Terkait