Tafsir Al-Hijr 42: Pakai Logika, Cara Iblis Menjerumuskan Kalangan Intelektual

Shortlink:

alhijr ayat 42

Tuhan memberi jaminan, bahwa Ibils tidak akan mampu menjerumuskan semua anak Adam, kecuali mereka yang mau mengikuti saja. “Inn ‘ibady lais lak ‘alaihim sulthan, illa man ittaba’ min al-ghawin”. al-Ghawin artinya curang dan melewati batas aturan. Ternyata manusia yang mengikuti Iblis lebih banyak ketimbang yang tidak ikut. Kalangan ahli nahwu menjadikan ayat ini sebagai dalil, bahwa sisa pada al-mustatsna minh boleh lebih sedikit dibanding kumulasi pada al-mustatsna, atau, jumlah akhir al-mustatsna boleh lebih besar daripada jumlah akhir pada al-mustatsna minh setela praktik istirtsna’ selesai.

Iblis yang pertama kali menggunakan logika ketika berdialog dengan Tuhan soal pembangkangan yang ia lakukan. Bahwa api lebih baik daripada tanah. Kini Iblis tahu bahwa anak Adam banyak yang pinter, maka Iblis harus pakai cara akademik juga. Ketika menggoda kaum intelektual, maka cara terbagus adalah penggelinciran pemikiran, “zallah”.

Itulah, maka di kalangan perguruan tinggi agama sering kali muncul pemikirian-pemikiran menyimpang, seperti tidak perlu shalat, sebab yang dipentingkan itu tujuannya, yakni mengingat Allah. Yang penting ati iling, hati ingat kepada Allah sebagai Rabb, maka cukuplah. Lalu berdalil bla bla bla.

Termasuk menghapus hukuman berat, seperti hukuman mati, rajam, potong tangan, cambuk dan sebagianya. Mereka berkata, hukuman mati tidak sesuai dengan Hak Asasi Manusia, tidak sejalan dengan budaya kita, kejam, sadis, tidak menyelesaikan masalah, tidak ada bukti penurunan kejahatan dan lain-lain.

Mereka tidak mau berpikir balik, “apalagi tidak ada hukuman mati, tidak ada rajam, tidak ada hukuman potong tangan?”. Kenapa tidak dicoba saja, potong saja tangan pencuri dan koruptor yang sudah memenuhi syarat. Berlakukan sedikitnya 10 tahun ke depan, lalu nanti kita lihat hasilnya dibanding dengan yang sekedar dipenjara. Wong belum dicoba, kok sudah berkoar-koar.

Penjahat narkoba yang dihukum mati masih jauh dari keadilan dan sama sekali tidak sebanding dengan jumlah korban akibat ulah mereka. Bisa dibayangkan, di negeri ini ada sekitar 40 orang mati setiap hari akibat narkoba, yang berarti 1,200 orang mati perbulan dan 14.400 orang pertahun, belum dihitung biaya rehabilitasi dan pengobatan. Sementara keuntungan hanya dinikmati oleh beberapa gelintir orang jahat, malah banyak warga negara asing.

Terhadap efektifitas godaan Iblis, apakah nabi juga terkena?. Jawabnya, sama sekali syetan tidak bisa menyentuh diri nabi. Oke, tapi nabi pernah bangun kesiangan hingga tidak shalat shubuh tepat pada waktunya. Bukankah itu menunjukkan bahwa baliau juga terlelap dalam buaian syetan?.

Jawabnya :” tidak. Kejadian tidak bangun shubuh itu cuma terjadi sekali, ketika suasana perang. Bilal yang sudah sanggup berjaga malam, ternyata ikutan ngorok juga. Justru nabi yang bangun duluan. Lalu mambangunkan Bilal dan menyuruhnya segera adzan untuk melakukan shalat shubuh qadha’.

Ketiduran yang dialami Nabi adalah bagian dari rencana Tuhan untuk memberi pelajaran kepada umat islam secara praktik, bagaimana qadha’ shalat fardhu dilakukan. Yakni, harus dilakukan segera, tidak boleh menunda dan sebaiknya dilakukan secara berjamaah, jika pelakunya orang banyak. Tidak sama dengan kita, kesiangan memang kelemahan, mungkin kemalasan kita dan bisa terjadi lebih dari sekali. Semoga tidak ada umat islam yang langganan bangun siang.


Artikel Terkait