Surat Terbuka Untuk Nuril Arifin Atas Klaim Sunni Titik Temu Dengan Syiah

Shortlink:

image

Surat Terbuka untuk Gus Nuril terkait Diskusi Titik Temu antara Sunni dan Syiah yang diadakan di IAIN Purwokerto

Oleh Akhmad Khoyrun Najakh* (Warga Nahdliyin yang masih belajar tentang Islam)

Assalamu ‘alaikum warrahmatullah wabarakatuh

Alhamdulillahirrabbil’alamiin… Segala puji bagi Allah SWT yang telah menciptakan dan mengatur alam semesta ini. Shalawat serta salam semoga selalu tercurah limpah kepada suri tauladan kita Rasulullah SAW beserta para keluarga dan para sahabatnya hingga yaumil akhir nanti. Aamiiin.

Surat terbuka ini saya sampaikan khususnya kepada Gus Nuril dan Muhsin Labib sebagai himbauan untuk kembali ke jalan kebenaran Islam yang berlandaskan al-Qur’an dan as-Sunnah. Surat ini juga saya sampaikan kepada teman-teman pada umumnya untuk memberikan pemahaman terkait kerancuan pemikiran Gus Nuril yang menganut paham Pluralisme dan kesesatan Syiah saat ini yang jelas-jelas ada di sekitar kita. Surat ini dituliskan berangkat dari sebuah kegelisahan melihat kondisi keterpurukan umat Islam dan bangsa ini. Keterpurukan yang dikarenakan adanya permasalahan multidimensi mulai dari masalah moral hingga masalah perekonomian. Permasalahan multidimensi ini diakibatkan lepasnya agama Islam dari para penganutnya. Propaganda-proganda eksternal (barat-kristen-yahudi) dan faktor internal (perpecahan umat Islam) adalah hal-hal yang menjadikan umat Islam ini semakin ‘kering’ dari ‘sejuknya’ ajaran agama Islam.

Gus Nuril dan Pluralisme Agama

Gus Nuril, merupakan Kiyai yang berasal dari Gresik, Jawa Timur. Awal kemunculan Kiyai yang bernama lengkap DR. KH Nuril Arifin Husein, MBA ini yaitu pada saat KH. Abdurrahman Wahid (Gusdur) lengser dari jabatan presiden Republik Indonesia. Gus Nuril sendiri kemudian dikenal sebagai Panglima Pasukan Berani Mati.

Dalam perkembangannya, Gus Nuril ini kemudian dikenal sebagai Kiyai yang aktif mengisi ceramah pada acara-acara yang diadakan oleh beberapa gereja di Jawa Tengah yang konon katanya ceramah yang disampaikan ini hanyalah pada saat perayaan natal saja (setiap tanggal 25 Desember).

Ada yang ingin saya pertanyakan tentang kegiatan ceramah yang dilakukan Gus Nuril didalam gereja-gereja ini. Jika selama ini Gus Nuril sering mengadakan ceramah di gereja-gereja, Sudah berapakah panganut Kristen yang kemudian masuk ke dalam agama Islam? Kemudian terkait kerancuan cara pandang Gus Nuril terkait Islam. Seringkali Gus Nuril ini menyampaikan bahwa Islam adalah agama yang Rahmatan lil ‘alamin, akan tetapi mengapa Gus Nuril menyampaikan ceramah-ceramahnya di dalam upacara keagamaan umat beragama lain? Padahal untuk menyampaikan bahwa Islam adalah agama yang Rahmatan lil ‘alamin tidak perlu dengan ceramah di gereja-gereja.

Dalam QS. Al-Kafirun disebutkan bahwa Katakanlah: “Hai orang-orang kafir, Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” Dalam surat ini, Rasulullah Muhammad SAW berbicara dengan kaum kafir Quraisy. Kaum kafir Quraisy menawarkan segala bentuk kekayaan dan jabatan kepada Rasulullah SAW dan juga kaum kafir Quraisy ini mengatakan akan masuk Islam dengan syarat Rasulullah SAW menganut agama kafir Quraisy satu tahun terlebih dahulu. Disini jelas bahwa kaum kafir Quraisy mempunyai kepentingan untuk menjerumuskan Rasulullah SAW kedalam ajaran kafir Quraisy dan kemudian Rasulullah SAW pun menolaknya bersamaan dengan turunnya QS. Al-Kafirun ini.

Kemudian, Apa motif Gus Nuril menjelek-jelekkan Ikhwanul Muslimin dan Hizbut Tahrir? Padahal Ikhwanul Muslimin dan Hizbut Tahrir ini termasuk kepada Ahlus Sunnah. Apakah Gus Nuril ini berniat untuk memecah belah umat Islam? Apa yang dilakukan Gus Nuril ini pantas saja mendapatkan penolakan dari umat Islam yang hadir dalam acara Maulid Rasul di Masjid Jatinegara Jakarta Timur beberapa waktu yang lalu.

Apa yang dilakukan oleh Gus Nuril ini kemudian kita kenal dengan Pluralisme agama. Mencampur adukkan ritual agama-agama dan menganggap semua agama adalah sama. Padahal jelas, setiap agama mempunyai ciri khas masing-masing dan tidak bisa dicampuradukkan. Pluralisme Agama tidak diperbolehkan dalam Islam. Banyak sekali ayat al-Qur’an yang menyampaikan tentang pelarangan Pluralisme Agama ini. Bahkan pada Tahun 2005, MUI (Majelis Ulama Indonesia) telah mengeluarkan fatwa tentang haramnya paham Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme (No.7/ Munas VII/MUI/11/2005) yang mencampuradukkan aqidah dan ibadah umat Islam dengan aqidah dan ibadah umat agama lain.

Perbincangan dengan Syiah di Purwokerto

Sore itu, saya diajak berdiskusi secara langsung oleh salah satu penganut Syiah di Purwokerto. Setelah lama berdebat di facebook, akhirnya permintaan tersebut saya setujui. Pertemuan kami terjadi pada bulan Desember tahun 2013 di Sekretariat KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) Daerah Purwokerto yang saat itu masih di Jalan Brigjen Encung Purwokerto yang tak jauh dari kampus STAIN Purwokerto (sekarang IAIN Purwokerto).

Ketika waktu menunjukkan pukul 16.30 wib. Abe (nama salah seorang penganut Syiah di Purwokerto) beserta kedua temannya masuk ke dalam ruang tamu Sekretariat KAMMI Daerah Purwokerto. Saya bersama teman saya Anas pun menyambut mereka dengan senyum dan sapa. Dalam pertemuan tersebut, saya tidak ingin memperdebatkan perbedaan antara Islam (Sunni) dengan Syiah. Karena sudah terlalu banyak literasi dan argumentasi yang beredar melalui buku-buku dan artikel-artikel di dunia maya. Yang saya ingin dengarkan adalah ‘pengakuan’ mereka (syiah) mengenai perbedaan yang mereka yakini sebagai sebuah jalan kebenaran yang mereka anut.

Diskusi pun di mulai, Mereka membuka dengan memperkenalkan diri mereka, kegiatan dan tempat tinggal mereka. Bahkan mereka juga menyebutkan masjid mereka yang hanya diperuntukkan penganut Syiah saja. Masjid tersebut terletak di sebelah utara kelurahan grendeng dan mereka juga menyebutkan bahwa mereka mempunyai forum diskusi yang digunakan untuk membahas permasalahan umat saat ini seperti masalah palestina. Seingat saya, mereka ini berafiliasi dengan ABI (Ahlul Bait Indonesia) salah satu organisasi syiah yang terdapat di Purwokerto

Kemudian mereka menjelaskan tentang perbedaan Rukun Islam dan Rukun Iman versi Sunni dengan Syiah. Dalam penjelasan mereka, mereka menggunakan kata ‘Sunni’ dan ‘Syiah’ dikarenakan mereka masih beranggapan kalau Syiah adalah bagian dari Islam. Rukun Islam versi syiah adalah Shalat, Shaum, Zakat, Haji dan Wilayah sedangkan rukun Iman versi Syiah adalah Tauhid, Nubuwah, Imamah, Ma’ad dan Ad’l. Mereka masih saja mengklaim bahwa Syiah masih bagian dari Islam. Padahal jelas dalam argumen mereka menjelaskan bahwa memang Rukun Islam dan Rukun Iman versi Islam (Sunni) dan syiah berbeda. Mereka beranggapan bahwa perbedaan tersebut bukanlah perbedaan dalam hal yang mendasar akan tetapi hanya dalam hal cabang-cabang saja.

Diskusi pun berlanjut, mereka kemudian menjelaskan tentang kitab yang mereka pedomani seperti al-Kaafi. Saya sempat bertanya tentang Al-Qur’an kepada mereka, akan tetapi jawaban mereka tidak pasti bahkan meragukan keaslian al-Qur’an saat ini dengan alasan adanya mushaf yang terbakar atau mushaf yang termakan oleh kambing. Dalam diskusi tersebut, mereka juga mengulang pernyataan mereka tentang Risalah Amman yang didalamnya mengakui Syiah Zaidiyah dan Syiah Ja’fariyah masuk ke dalam golongan Islam Ahlus-Sunnah wal Jama’ah.

Waktu terus berlalu hingga tak terasa adzan maghrib pun berkumandang. Saya dan Anas pun kemudian mengajak Abe dan teman-temannya untuk sholat maghrib berjamaah di musholla belakang sekretariat KAMMI. Akan tetapi, hal yang benar-benar membuat saya kaget adalah ketika Abe dan teman-temannya menolak ajakan kami dan kemudian menjelaskan bahwa mereka akan melaksanakan sholat setelah masuk waktu Isya’. Saya bertanya “Apakah sholatnya diigabung?”. Abe menjawab “Tidak, saya memang melaksanakan sholat hanya tiga waktu yaitu pagi, siang dan malam”. Kemudian mereka bertiga pun pamit dan diskusi pun disudahi karena sudah masuk waktu maghrib.

Dari diskusi tersebut, saya bisa menyaksikan langsung pengakuan kesesatan ajaran Syiah dari penganutnya langsung. Belakangan diketahui, kalau Abe ini masih berinteraksi dengan beberapa kader HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) Fisipol Unsoed. Saya hanya bisa mencurigai bahwa Syiah di Purwokerto saat ini sedang melakukan pengkaderan di kalangan mahasiswa dengan mewacanakan keberhasilan Khomeini dalam menjalankan Revolusi Iran yang mereka klaim sebagai Revolusi Islam. Saya pun hanya bisa mengingatkan untuk mewaspadai tipu muslihat dari penganut Syiah yang sesat ini.

Bicara tentang titik temu antara Islam (Sunni) dengan Syiah sampai kapanpun akan sangat sulit diwujudkan karena Syiah selalu ingin mendominasi Islam (Sunni) yang sampai akhir zaman pun jumlah penganut Islam (Sunni) akan tetap menjadi mayoritas. Titik temu akan terjadi ketika penganut Syiah menyadari dan mengakui kesalahan-kesalahan mereka serta mau kembali menganut Islam sebagai ajaran yang sempurna dan menyeluruh. Dalam artian, penganut Syiah harus bertobat kepada Allah SWT atas kesesatan dan kesyirikan yang telah dilakukan serta tidak mengulanginya lagi.

Allahu a’lam bishawab.

*Penulis juga aktif dalam kegiatan #IndonesiaTanpaJIL chapter Purwokerto

Sumber semangatprogresivitas.wordpress.com


Artikel Terkait