Santri tak Masuk NU?

Shortlink:

image

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Muhammad Sulton
Fatoni/Wakil Sekretaris Jenderal PBNU, Dosen
STAINU Jakarta

(Melengkapi Tulisan KH Ali Mustafa Yaqub)
Pada Senin (13/4), harian Republika memuat
opini yang berjudul ‘ KH Hasyim Asy’ari dan
Umat’ yang ditulis Imam Besar Mesjid Istiqlal
KH Ali Mustafa Yaqub. Atas saran dari
seorang aktivis Nahdlatul Ulama di
Yogyakarta, saya menyempatkan diri untuk
memberikan kesempurnaan informasi tentang
satu poin yang beliau angkat, yaitu “KH
Hasyim tidak pernah menyuruh santrinya
untuk masuk NU, bahkan salah satu putera
beliau, Gus Kholik (KH Abdul Khalik Hasyim)
tidak masuk NU.”

“Tampaknya, Hadhratusy Syaikh mempunyai
prinsip, selama masih dalam rumpun
Ahlussunnah wal Jamaah, beliau tidak
mempermasalahkan apakah menjadi NU atau
bukan. Tak mengherankan bila kemudian
banyak santri Hadhratus Syaikh yang aktif di
ormas Islam bukan NU.”

Benarkah KH Hasyim Asy’ari tidak mengajak
santri-santrinya masuk NU? Pada tulisan ini
saya menambah penjelasan dari dua sumber.
Pertama, penuturan KH Abdul Muchit Muzadi
kepada saya saat silaturahim ke kediaman
beliau di Jember, Jawa Timur, pada 2001 dan
2011 untuk keperluan Nahdlatul Ulama.
Menurut Kiai Muchith—begitu kami biasa
menyapa—KH Hasyim Asy’ari tidak pernah
bercerita tentang Nahdlatul Ulama kepada
para santri Tebu Ireng saat itu. Setidaknya
sepengetahuan beliau selama kurang lebih
lima tahun nyantri di Tebu Ireng.
Setiap berada di lingkungan Pesantren Tebu
Ireng, KH Hasyim Asy’ari fokus mendidik dan
mengajar santri. Sikap beliau sering kali
membuat para santri Tebu Ireng saat itu
gundah. Para santri saat itu berharap KH
Hasyim Asy’ari bercerita tentang Nahdlatul
Ulama, terutama saat beliau baru datang dari
aktivitas ke-NU-an setelah beberapa hari
meninggalkan pondok pesantren.
Namun, harapan itu tak pernah terwujud
hingga Kiai Muchith menyelesaikan studinya
di Tebu Ireng. Barulah setelah selesai belajar
di Tebu Ireng, Muchith muda mendaftarkan
diri masuk Nahdlatul Ulama dengan proses
dan persyaratan yang ketat.
Persyaratan ketat memang diberlakukan bagi
seseorang yang ingin menjadi anggota NU.

Menurut Kiai Muchith, seseorang yang masuk
anggota NU tidak langsung mendapatkan
kartu anggota NU. Ia harus melalui beberapa
tahapan ujian dan persyaratan. Namun,
berbagai privilege diberikan kepada seseorang
yang telah menjadi anggota NU. Misalnya,
anggota NU dibolehkan menggunakan
lambang NU untuk aktivitas ekonominya
dengan imbalan 1 hingga 2,5 persen untuk NU
(Feillard, 1999).

Kedua, dalam Qanun Asasi Nahdlatul Ulama
yang dideklarasikan pada Muktamar ke-3 NU
pada 28 September 1928 di Surabaya, KH
Hasyim Asy’ari menuliskan (terjemah dalam
bahasa Indonesia), “Marilah, wahai para
ulama sekalian para pengikutnya, baik dari
kalangan si fakir, si kaya, maupun si lemah
dan si kuat! Bersatu padulah ke dalam satu
organisasi yang dinamakan Nahdlatul Ulama.
Masuklah kalian menjadi warga organisasi
Nahdlatul Ulama dengan penuh iktikad baik
dan kasih sayang serta bersatu, rukun, baik
lahir maupun batin.”

Penuturan Kiai Muchith dan dokumen KH
Hasyim Asy’ari di atas memberi pemahaman
bahwa KH Hasyim Asy’ari memberi batasan
tegas antara urusan Nahdlatul Ulama dan
pondok pesantren. Kedua institusi tersebut,
meski substansinya sama, tapi secara praksis
berbeda, mulai dari konsentrasinya, locus,
hingga alokasi waktunya. Karena itu saya
memahami Kiai Hasyim Asy’ari tidak mau
mengganggu konsentrasi belajar santri Tebu
Ireng, meskipun karena urusan Nahdlatul
Ulama.

Menjadi warga Nahdlatul Ulama itu
mempunyai konsekuensi. Di antara
konsekuensinya adalah bentuk tuntutan bagi
seseorang yang masuk menjadi anggota
Nahdlatul Ulama, terlebih menjadi
pengurusnya. Pada Muktamar ke-12 NU
tanggal 25 Maret 1937 di Malang, misalnya,
para kiai dalam forum itu memutuskan,
seseorang yang telah ditetapkan sebagai
pengurus NU, mulai dari tingkat ranting
hingga pusat, wajib mengerjakan segala
Anggaran Dasar NU.

Maksud anggaran Dasar Nahdlatul Ulama
adalah segala aktivitas yang terkait dengan
realisasi empat agenda besar Nahdlatul
Ulama, yaitu memberikan perlindungan
(jam’iyyatu aman ), memperjuangkan keadilan
(jam’iyyatu ‘adl ), upaya meningkatkan kualitas
hidup ( jam’iyyatu ishlah), dan jam’iyyatu ihsan,
yaitu mengupayakan kemakmuran (Hasyim
Asy’ari, 1938).

Dua fakta tentang KH Hasyim Asy’ari di atas
saling berkaitan. Keduanya mengonstruksi
integritas KH Hasyim Asy’ari sebagai
pemimpin besar umat Islam Indonesia. KH
Hasyim Asy’ari menempatkan dan menjaga
pondok pesantren sebagai institusi yang
harus steril dari segala kepentingan selain
ilmu pengetahuan.
Sedangkan, Nahdlatul Ulama ditempatkan
sebagai wahana perjuangan para kiai dan
pengikutnya untuk mewujudkan empat
gagasan besarnya. Mencermati penuturan dan
pengalaman Kiai Muchith menunjukkan bahwa
pondok pesantren adalah wahana pengaderan
para kiai yang di masa depan diharapkan
menjadi penggerak Nahdlatul Ulama.
Kalaupun terdapat kasus seorang santri tidak
menjadi kiai, ia masuk NU karena mengikuti
gerakan kiainya. Hal ini merujuk kepada
statement KH Hasyim Asy’ari yang
menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama adalah
perkumpulan para kiai dan pengikutnya (KH
Hasyim Asy’ari, 1938).

Pusat pengaderan kiai

Perkembangan NU yang pesat tak lepas dari
strategi menempatkan kiai sebagai motor
gerakan. Menjelang pendirian Nahdlatul
Ulama, KH Hasyim Asy’ari meminta agar KH
Abdulwahab Chasbullah berkunjung ke KH
Mas Nawawi Sidogiri, Pasuruan. Kunjungan
itu akhirnya direspons KH Nawawi dengan
menggelar pertemuan para kiai se-Pasuruan
yang ditempatkan di Masjid Jami Pasuruan.
Konsolidasi para kiai tersebut akhirnya
melahirkan Nahdlatul Ulama. Masyarakat
secara cepat menyambut NU karena mereka
telah terkonsolidasikan sebelumnya oleh para
kiai.

Pada 1935, NU sudah mempunyai 68 cabang
dengan 67 ribu anggota. Tiga tahun kemudian
mempunyai 99 cabang dan mulai berkembang
ke luar Jawa: Sulawesi Selatan, Kalimantan
Selatan, dan Sumatra Selatan (Feillard, 1999).
Prinsipnya, semakin banyak kiai yang
bergabung, maka warga NU terus bertambah
mengingat para kiai membawa komunitasnya.
Para pengikut kiai ini, Andree Feillard
menyebutnya dengan ‘non-ulama’, sejak 1926
hingga sekarang telah disediakan tempat yang
disebut dengan ‘tanfidziyah’ dan perangkat
teknis di bawahnya. Jumlah anggota NU itu
tidak menghitung para santri yang berada di
pondok-pondok pesantren.

Setelah 92 tahun berdiri, kini warga NU tak
kurang dari 76 juta jiwa yang tersebar hampir
di 27 negara. Terdapat 23 ribu pondok
pesantren, 13 ribu madrasah, 210 perguruan
tinggi, 350 ribu mahasiswa, 4.000 dosen, dan
536 ribu guru serta ustaz, dan 3,5 juta siswa.

Atas capaian ini, the Royal Islamic Strategic
Studies Centre yang berpusat di Yordania
menempatkan Nahdlatul Ulama berada di
urutan ketujuh sebagai organisasi Islam
berpengaruh di dunia.

Lantas, berapakah jumlah santri saat ini? Tak
kurang dari 7 juta santri yang tersebar di
berbagai pondok pesantren di dalam dan luar
negeri. Merekalah yang diharapkan menjadi
penerus estafet kepemimpinan Nahdlatul
Ulama di masa depan. Mereka harus diberi
ruang dan waktu belajar yang terbaik.
Inilah generasi yang menurut KH Muchith
Muzadi ‘tak diajak ngomong tentang NU’ oleh
KH Hasyim Asy’ari. Masuk NU harus dengan
iktikad baik, rasa kecintaan, bersatu, rukun
secara lahir dan batin. Inilah sikap KH Hasyim
Asy’ari.

Soal ada santrinya yangg tidak masuk NU,
tentu beliau tak akan memaksa. Saya pun
teringat saat nyantri di Pesantren Sidogiri
Pasuruan sekira 22 tahun lalu. Enam tahun di
pesantren, tak satu pun kiai Sidogiri pernah
mengajak para santri untuk masuk NU.
Padahal, salah satu kiai Sidogiri, Nawawi,
termasuk pendiri Nahdlatul Ulama pada 1926.


Artikel Terkait