Pengurus ASWAJA NU CENTER Jatim Sindir Kyai Gereja Nuril Arifin

Shortlink:

image

Setelah sebelumnya muncul video Kyai Gereja Nuril Arifin yang meremehkan Rotib Haddad dan Maulid Simtud Duror. Berikut tulisan pengurus ASWAJA NU CENTER Jawa Timur;

TAK PERLU MEMBENTURKAN ISTIGHATSAH
DAN RATIB, SHALAWAT BADAR DAN SIMTHUD
DURAR

Oleh Faris Khoirul Anam, Pengurus Aswaja NU
Center Jawa Timur

Beberapa hari ini, grup medsos yang saya
ikuti, membahas statemen seseorang yang
intinya, tidak perlu membaca Ratib, karena
sudah ada istighatsah, tidak perlu membaca
Simthud Durar, karena sudah ada Shalawat
Badar. Pembahasan tersebut berada di antara
tumpukan bahasan keumatan lainnya. Muslim
Rohingya. Baca al-Qur’an dengan langgam
Jawa. Beras plastik.

Saya tidak mau terlibat polemik antara siapa
yang mengatakan itu, mewakili siapa dia
berbicara, apa motifnya, dan seterusnya. Hal
terpenting dalam kasus semacam ini adalah
mendudukkan masalah, lalu solusi. Ya, solusi
yang langsung dapat dirasakan umat, tanpa
harus terlibat lebih runcing dalam kecamuk
perdebatan yang tidak perlu. Hingga yang
muncul adalah pengutamaan suku, kelompok,
afiliasi, dan jamaahnya sendiri. Ingat, teori
Muhammad Abu Zahrah dalam Tarikh al-
Madzahib al-Islamiyah, menempatkan
penyebab pertama dan utama perbedaan umat
Islam dalam rentang sejarahnya, adalah al-
ashabiyah. Fanatisme berlebihan terhadap
kelompoknya, dan itu merupakan warisan
Jahiliyah.

Secara tekhnis dakwah dan di tengah
hangatnya iklim keberagamaan Ahlussunnah
Wal-Jama’ah di Nusantara, “pembenturan”
amaliah Ratib dengan Istighatsah, serta
Shalawat Badar dengan Simthud Durar,
dikhawatirkan memicu pada pengotakan
penganut Aswaja itu sendiri. Lebih jelasnya,
antara para pengamal Ratib dengan pengamal
istighatsah, antara “da’i berbasis kultur”
dengan “da’i non kultur”. Bahkan, antara
habaib sebagai keturunan Rasulullah dengan
para kiai, yang keduanya telah terbukti
berperan besar dalam dakwah Ahlussunnah
Wal-Jama’ah di bumi Nusantara.
Istilah Ratib dan Simthud Durar memang
secara tendensius merujuk pada amaliah para
habaib dan muhibbin (pecinta habaib).

Sementara istilah istighatsah dan shalawat
badar merujuk pada amaliah yang selama ini
dipraktikkan warga Nahdlatul Ulama
(nahdliyyin). Sekali lagi, kedua kalangan ini
merupakan khazanah berharga bagi
Ahlussunnah Wal-Jama’ah di bumi Nusantara.
Sudah maklum, Ratib al-Haddad, adalah
kumpulan doa dan zikir yang disusun oleh
Imam Abdullah bin Alawi al-Haddad, seorang
ulama abad 16-17 M dari Tarim, Hadramaut,
Yaman. Disebut penyusun, karena beliau
menghimpun doa dan dzikir, baik dari al-
Qur’an dan hadits Rasulullah SAW. Sekarang
ini banyak bermunculan syarah atau
keterangan, serta fadhilah Ratib tersebut,
termasuk takhrij haditsnya. Sebenarnya Imam
Abdullah al-Haddad memiliki kumpulan doa
dan dzikir lainnya, misalnya al-Wirdul Lathif.
Istilah Ratib juga dapat dinisbatkan pada
Ratib al-Aththas, yang disusun oleh Habib
Umar bin Abdurrahman al-Aththas, Huraidhah,
Hadramaut.

Sementara Simthud Durar adalah kumpulan
kisah maulid dan shalawat kepada Nabi Besar
Muhammad SAW. Kitab yang berjudul lengkap
Simthud Durar fi Akhbar Maulid Khairil Basyar
wa Ma Lahu min Akhlaq wa Aushaf wa Siyar
(Untaian Mutiara Kisah Kelahiran Manusia
Utama; Akhlak, Sifat dan Riwayat Hidupnya)
ini disusun oleh ulama Hadramaut lainnya,
yaitu Al-Habib Ali bin Muhammad bin Husain
al-Habsyi.
Baik Ratib maupun Simthud Durar ini, dibaca
oleh umat Islam Indonesia, utamanya
kalangan habaib dan muhibbin.

Keberadaannya melengkapi khazanah amaliah
umat, di samping amaliah dan tradisi islami
lainnya. Dilihat dari perspektif Fiqh Ikhtilaf,
keduanya bila disandingkan dengan amaliah
seperti istighatsah dan Shalawat Badar,
adalah ikhtilaf tanawwu’ (sesuatu yang
berbeda, namun dapat dijadikan pilihan dan
saling melengkapi), bukan ikhtilaf tadhadh
(sesuatu yang berbeda dan saling menafikan
atau bertentangan).

Bahkan, bila ditelusuri sejarah dan motifnya,
amaliah-amaliah tersebut bersatu padu di
Nusantara, tanpa harus dipertentangkan satu
sama lain. Apalagi sampai disinyalir bahwa
mengamalkan salah satu dan meninggalkan
yang lain dapat menyebabkan kehancuran.
Sejarah penyusunan Shalawat Badar, sangat
kental diwarnai nuansa “kerjasama” kalangan
habaib dengan kiai. Yaitu antara Ketua NU
Banyuwangi di era 60-an, Kyai Ali Mansur
sebagai penyusun, Habib Hadi al-Haddar
Banyuwangi sebagai konsultan, dan Habib Ali
bin Abdurrahman al-Habsyi, Kwitang Jakarta
sebagai perestu, bahkan penyebar Shalawat
Badar (lihat: Antologi NU : Sejarah – Istilah –
Amaliah – Uswah, karya H. Soeleiman Fadeli
dan Mohammad Subhan)

Bagaimana dengan posisi Ratib di tengah
nahdliyyin? Kumpulan doa dan dzikir ini juga
telah lama diamalkan warga NU. Bahkan,
ulama kharismatik Nahdlatul Ulama, KHR
As’ad Syamsul Arifin, Sukorejo, beberapa kali
menasihati para santrinya untuk membaca
Ratibul Haddad.

Dalam buku Rangkuman Sebagian Dawuh-
Dawuh Almaghfurlah KHR As’ad Syamsul
Arifin Kepada Santri, Pengurus, dan Umum,
halaman pertama, disebutkan dawuh beliau
tertanggal 27 Januari 1983:

“Rawatibul Haddad (Ratibul Haddad) adalah
doa sapujagat, karena di dalamnya semua
permohonan.”
“Santri sampai sekarang ini barakahnya
Rawatibul Haddad.”
“Baca Haddad (Ratibul Haddad, pen) akan
mempengaruhi ilmu dan rizqinya.”

Pada tanggal 6 Agustus 1984, menjelang HUT
kemerdekaan RI, KHR As’ad Syamsul Arifin
mengulang pesan agar Ratibul Haddad
dibaca, bahkan dihapalkan:

“Tanggal 17 Agustus tidak prei (santri tidak
libur, pen), berkumpul baca tahlil, Haddad
(Ratibul Haddad) dan munjiyat, doakan
pahlawan yang gugur, dan agar pelaksana
pemerintah baik.”

“Santri harus hafal Haddad, barakahnya
nampak.”

Menariknya, di halaman terakhir buku yang
dikeluarkan PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo
itu, KHR As’ad Syamsul Arifin menasihati
umat untuk istiqamah membaca Ratibul
Hadad, dan istighatsah sekaligus.

Beliau Dawuh, “Istiqamah baca Ratibul
Haddad: (1) Jadi pagar, (2) terhindar dari
asah. Kalau tani, taninya tidak asah. Dagang,
dagangannya tidak asah. Punya santri,
santrinya tidak asah. Istiqamah baca
Istighatsah: jadi pagar, pasti kaya, terutama
kaya hati.”

Akhirul kalam, bila dicermati, kegiatan
bertabligh di Nusantara sejak dulu hingga
saat ini, tetap berada di tangan para kiyai dan
alawiyin (habaib). Mereka tersebar di pelosok-
pelosok kepulauan Indonesia. Perpaduan dan
kerjasama itu tentu akan makin menguatkan
Islam, berdasarkan akidah dan amaliah
Ahlussunnah Wal-Jama’ah.

Kita jaga, bukan kita runtuhkan.
Kita kuatkan, bukan kita rapuhkan.
Kita padukan, bukan kita senjangkan.

Wallahu al-Musta’an.


Artikel Terkait