Awas, Bahaya Santri Google

Shortlink:

santri google
Oleh: NU Garis Lurus

Orang-orang yang mengaku-ngaku “kembali kepada Al Qur’an dan As Sunnah” pada umumnya menggunakan metodologi tafsir bil ma’tsur yakni penafsiran ayat-ayat al-Qur’an yang didasarkan dan mengutip ayat-ayat al-Qur’an yang lain, Sunnah yang tertuang dalam hadits-hadits Nabi, pendapat Sahabat, Tabi’in maupun Tabi’ut Tabi’in.

Namun permasalahannya metodologi tafsir bil ma’tsur yang mereka lakukan mengikuti orang-orang yang mengikuti pola pemahaman Ibnu Taimiyyah seperti Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad bin Abdul Wahhab yakni orang-orang yang memahami Al Qur’an dan As Sunnah bersandarkan mutholaah (menelaah kitab) secara otodidak (shahafi).

Abdullah bin Mubarak, salah satu murid Imam Malik berkata :

ﺍﻻﺳﻨﺎﺩ ﻣﻦ ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻭﻟﻮﻻ ﺍﻻﺳﻨﺎﺩ ﻟﻘﺎﻝ ﻣﻦ ﺷﺎﺀ ﻣﺎﺷﺎﺀ

“Isnad /sanad merupakan bagian dari agama, dan apabila tidak ada sanad maka orang akan seenaknya mengatakan apa yang ingin ia katakan“

Imam Syafi’i juga berkata :
“Yang mencari ilmu tanpa sanad adalah bagaikan pencari kayu bakar dimalam hari yang gelap dan membawa pengikat kayu bakar yang padanya ular berbisa yang mematikan dan ia tak mengetahuinya”.

Munculnya paham tersebut menyimpang dan menyesatkan karena tidak memperhatikan masalah sanad. Seseorang yang belajar dari sebuah buku terjemahan saja atau mungkin dari sebuah situs di internet yang tidak jelas, kemudian orang tersebut memamahaminya dengan pemikirannya yang tidak sesuai dengan maksud sebenarnya atau kadang salah paham dengan maknanya. Maka jadilah pemahamannya tersebut telah menyesatkan dirinya dan bahkan orang lain.

Berhati-hatilah, dengan orang bodoh bicara soal agama.


Artikel Terkait