Ahlussunah Wal Jama’ah Menurut Gus Anam

Shortlink:

image

Menyikapi Munculnya Berbagai Gerakan / Jaringan Dalam Kemajemukan Masyarakat Modern

Oleh : KH. Zuhrul Anam Hisyam

Pendahuluan

Ketika Rosululloh SAW menyatakan “umatku
akan mengalami perpecahan menjadi 73
golongan”, sebetulnya Beliau sedang
mengeluarkan sebuah warning terhadap
umatnya sepeninggal Beliau untuk selalu
menapaki jalan lurus yang telah di lalui oleh
Beliau dan para Sahabatnya yang akan
mengantarkan ke gerbang Surga. Fakta
sejarah kemudian membenarkan hadits shohih
di atas yang di riwayatkan oleh Imam Tirmidzi
yang agaknya kurang menarik bagi sebagian
orang. Seperti selalu di ulang-ulang oleh para
sejarawan, bahwa pada paruh abad pertama
hijriyyah telah terjadi perkembangan yang
sangat signifikan dalam sejarah umat Islam.

Pertama, kenyataan bahwa di kalangan umat
terjadi konflik internal yang boleh jadi tidak
pernah di inginkan oleh mereka sendiri, di
mana satu kelompok bukan saja telah
mengutuk kelompok yang lain, tapi telah
saling membunuh. Perkembangan yang tragis
ini yang terjadi dua kali, di kenal dengan
sebutan fitnah kubro “cobaan besar”.
Perkembangan.

Kedua adalah masuknya bangsa Persi dan
sekitarnya ke dalam Islam berikut pemikiran
dan keyakinan-keyakinan lamanya yang sudah
terbentuk kuat dalam benak masing-masing.
Dengan kedua perkembangan itulah muncul
pertanyaan-pertanyaan theologis yang
sebagian darinya berangkat dari persoalan
politik pasca Rosul. Di mulai dari kebijakan-
kebijakan politik Utsman RA, yang berujung
kepada terbunuhnya Beliau, pengangkatan Ali
sebagai kholifah yang mendapat tantangan
sangat keras dari Mu’awiyyah Gubernur
Damaskus dan kontak fisik yang berakibat
jatuhnya banyak korban dan banyak hal yang
tragis dan menyedihkan.
Pesoalan-persoalan yang terjadi dalam
lapangan politik di atas inilah yang akhirnya
membawa pada timbulnya persoalan-
persoalan theologi. Timbullah persoalan siapa
yang kafir dan siapa yang bukan kafir dalam
arti siapa yang telah keluar dari Islam dan
siapa yang masih tetap dalam Islam. Khowarij
memandang bahwa Ali, Mu’awiyyah, Umar
ibnu Al Ash, Abu musa Al Asy’ari, dan lain-lain
yang menerima arbitrase adalah kafir, karena
Al Qur’an menyatakan :

ﻭﻣﻦ ﻟﻢ ﻳﺤﻜﻢ ﺑﻤﺎ ﺃﻧﺰﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﻓﺄﻭﻟﺌﻚ ﻫﻢ ﺍﻟﻜﺎﻓﺮﻭﻥ

Dari ayat inilah mereka mengambil semboyan
La hukma illa lillah. keempat pemuka Islam di
atas telah di pandang kafir dalam arti bahwa
mereka telah keluar dari Islam, yaitu menilai
mereka harus di bunuh. Maka kaum khowarij
mengambil keputusan untuk membunuh
mereka berempat, tetapi menurut sejarah
hanya orang yang di bebani membunuh Ali
bin Abi Tholib yang berhasil dalam tugasnya.
Lambat laun kaum khowarij pecah menjadi
beberapa sekte. Konsep kafir turut pula
mengalami perubahan. Yang di pandang kafir
bukan lagi hanya orang yang tidak
menentukan hukum dengan Al Qur’an, tetapi
orang yang berbuat dosa besar, yaitu Murtakib
al kabair juga di pandang kafir.
Persoalan orang berbuat dosa inilah
kemudian yang mempunyai pengaruh besar
dalam pertumbuhan theologi selanjutnya
dalam Islam. Persoalanya ialah masihkah ia
bisa di pandang orang mu’min atau ia sudah
menjadi kafir karena berbuat dosa besar itu ?.

Persoalan ini menimbulakan tiga aliran
theologi dalam Islam. Pertama, aliran
khowarij yang mengatakan bahwa orang
berdosa besar adalah kafir, dalam arti keluar
dari Islam atau tegasnya murtad oleh karena
itu ia wajib di bunuh. Aliran kedua, ialah
murji’ah yang menegaskan bahwa orang yang
berbuat dosa besar tetap masih mu’min dan
bukan kafir. Adapun soal dosa yang di
lakukanya, terserah kepada Alloh SWT untuk
mengampuni atau tidak mengampuninya.
Kaum mu’tazilah sebagai aliran ketiga tidak
menerima pendapat-pendapat di atas. Bagi
mereka orang yang berdosa besar bukan kafir
tetapi bukan pula mu’min. orang yang serupa
ini kata mereka mengambil posisi di antara
kedua posisi mu’min dan kafir yang terkenal
dengan istilah : Al-Manzilah Bainal-
Manzilatain. Dalam pada itu timbul pula dua
aliran dalam theologi yang terkenal dengan
nama : Al-Qodariyyah dan Al-Jabariyyah.
Menurut Al-Qodariyyah manusia mempunyai
kemerdekaan dalam kehendak dan
perbuatanya dalam istilah inggrisnya Free Will
dan Free Act. Al-Jabariyyah, sebalikny
berpendapat bahwa manusia tidak mempunyai
kemerdekaan dalam kehendak dan
perbuatanya. Manusia dalam segala tingkah
lakunya, menurut faham Jabariyyah bertindak
dengan paksaan dari Tuhan. Segala gerak
gerik manusia di tentukan oleh Tuhan. Faham
inilah yang di sebut faham perdisnuation
ataufatalism.

Selanjutnya, kaum mu’tazilah dengan di
terjemahkanya buku-buku filsafat dan ilmu
pengetahuan yunani ke dalam bahasa Arab,
terpengaruh oleh pemakaian rasio atau akal
yang mempunyai kedudukan tinggi dalam
kebudayaan yunani klasik. Pemakaian rasio
atau akal ini di bawa oleh kaum mu’tazilah ke
dalam lapangan theologi Islam dan dengan
demikian theologi mereka mengambil corak
theologi liberal yang cenderung
mengunggulkan otoritas “akal” (nalar) atas
“naqli”, suatu pendirian yang oleh mayoritas
muslim di pandang sangat membahayakan
keutuhan doktrin. Tak pelak, aliran mu’tazilah
yang bercorak rasional ini mendapat
tantangan keras dari golongan tradisional
Islam terutama golongan Hanabilah (pengikut-
pengikut madzhab ibnu Hanbal).
Perlawanan ini kemudian mengambil bentuk
aliran theologi tradisional yang disusun oleh
Abu Al-Hasan Al-Asy’ari (935 M.). Al-Asy’ari
sendiri pada mulanya adalah seorang
Mu’tazily, tetapi menurut riwayat setelah
beliau melihat dalam mimpi bahwa ajaran-
ajaran Mu’tazilah dicap Nabi Muhammad
SAW sebagai ajaran-ajaran yang sesat, Al
Asy’ari meninggalkan ajaran-ajaran itu dan
membentuk ajaran-ajaran baru yang
kemudian terkenal dangan theologi Al
Asy’ariyyah.

Disamping aliran Asy’ariyyah, di Samarkand
muncul pula suatu aliran yang bermaksud
menentang aliran Mu’tazilah dan didirikan
oleh Abu Manshur Al Maturidi (w. 944 M).
Aliran ini kemudian terkenal dengan nama Al
Maturidiyyah.
Selain dari Abu Al Hasan Asy’ari dan Abu
Manshur Al Maturidi ada lagi seorang theolog
dari Mesir yang juga bermaksud untuk
menentang ajaran-ajaran kaum Mu’tazilah.
Theolog ini bernama Al Tohawi (w. 933 M)
dan sebagaimana halnya dengan Al Maturidi
ia juga pengikut dari Abu Hanifah (Imam dari
Hanafi dalam lapangan hukum Islam). Tetapi
ajaran-ajaran Al Tohawi tidak menjelma
sebagai aliran theologi dalam Islam.
Dengan demikian aliran-aliran teologi penting
yang timbul dalam Islam ialah aliran
Khowarij, Murji’ah, Mu’tazilah, Asy’ariyyah dan
Al Maturidiyyah dan jangan dilupakan aliran
Syi’ah yang sebenarnya pada awalnya
sebagaimana halnya khowarij lebih tepat
disebut sebagai madzhab politik daripada
madzhab theologi, yang justru sekarang
sudah mulai mewabah di Indonesia. Aliran-
aliran khowarij, Murji’ah dan Mu’tazilah tak
mempunyai wujud lagi kecuali dalam sejarah.
Yang masih ada sampai sekarang adalah
aliran-aliran Asy’ariyyah, Maturidiyyah
keduanya disebut Ahlu Sunnah Wal Jamaah
dan Syi’ah ditambah yang hadir belakangan
Wahabiyyah, Ahmadiyyah, dan Baha’iyyah.

Dengan masuknya kembali paham
rasioanalisme kedunia Islam yang kalau
dahulu masuknya itu melalui kebudayaan
Yunani Klasik, akan tetapi sekarang melalui
kebudayaan barat modern maka ajaran-ajaran
Mu’tazilah mulai timbul kembali, terutama
sekali dikalangan kaum intelektual Islam yang
mendapat pendidikan barat. Kata neo-
mu’tazilah mulai dipakai dalam tulisan-tulisan
mengenai Islam. Sebetulnya kalau agak
cermat mengamati fenomena banyaknya
ragam kelompok yang mengatasnamakan
Islam dewasa ini di dunia Islam, kita, meski
secara samar bisa menangkap benang merah
atau pertalian nasab teologis antara sebagian
kelompok-kelompok yang dewasa ini dengan
kelompok-kelompok tersebut diatas atau
paling tidak ada kesamaan dalam pola-pola
tertentu.

FIRQOH-FIRQOH HADITSAH.

Berbarengan dengan hadirnya era reformasi
pasca kejatuhan rezim soeharto, jagad
Indonesia dipusingkan oleh hiruk-piruk partai-
partai yang serentak bermunculan dengan
berbagai simbul, kemasan, dan ideologinya
masing-masing termasuk ikut meramaikan
panggung sejarah Indonesia semaraknya
gerakan da’wah, front-font, dan laskar yang
seakan-akan muncul sangat tiba-tiba dan
membesar begitu saja, mencengangkan dan
teramat fenomenal. Kita menjadi sering
menyaksikan orang-orang berjubah, bersurban
putih, berjenggot, juga wanita bercadar ering
muncul dalam tayangan media elektronik juga
berita-beritanyan menghiasi banyak mass
media. Aktivitas mereka menampakkan
mobilitas yang teramat tingi, terorganisir dan
merambah banyak sektor. Orang-orang
kemudian dengan tiba-tiba mengenal dan
mendengar nama-nama seperti jama’ah
tabligh, laskar jihad, jama’ah salafi, jama’ah
Al muslimin (Jamus), Hizbut Tahrir, FPI dan
yang lain-lain. Yang menarik secara lahiriyah
mereka sering tampil justru lebih islami, lebih
khusyu’ dan lebih berkomitmen kepada islam
dari kelompok yang muncul dan besar lebih
awal ( baca : NU dan Muhammadiyyah) yang
ironisnya sering nampak mengendur dalam
memegangi hal-hal yang prinsipil, disisi lain
juga muncul mainstream yang sangat
menggelisahkan nurani kita seperti
keberadaan JIL, Islam Paramadina dan apa
yang disebut sebagai kiri islam belum lagi
jaringan LKIS-nya Mas Imam Aziz dengan
tulisan dan terjemahan-terjemahan yang suka
menggoncang ﺍﻟﻤﻘﺪﺳﺎﺕ ﺍﻟﺪﻳﻨﻴﺔ tak pelak banyak
orang dibuat bertanya-tanya siapakah
sebetulnya mereka ? samakah mereka dengan
kita (In Group) ? ahlussunnah-kah ? dan
banyak pertanyaan yang lain.
Dalam kontek inilah, penulis dengan segala
keterbatasannya secara sekilas mengulas
untuk didiskusikan dan mencari sikap yang
arif terhadap fenomena diatas ketika kita
umat islam dipelbagai belahan dunia
termasuk indonesia masih saja belum bisa
menjadi Al faa’il Al haqiqi dalam percaturan
kehidupan berbangsa dan bernegara. Umat
islam masih sering menjadi maf’ul dan orang-
orang yang asing justru seperti dirumah
sendiri.

A. Jama’ah Tabligh

Di dirikan oleh seorang Ulama besar yaitu
Syeikh Muhammad Ilyas (1303 H). Berawal
dari keperihatiannya yang mendalam terhadap
gerakan riddah dan kembali pada ajaran
agama “ﺍﻷﺑﺎﺀ ” agama berhala, brahmaisme. Hal
yang memang mendapat sokongan dari
pemerintah kolonoal Inggris dengan cara
memberi kebebasan untuk memeluk agama
apapun dan menegakkan gerakan-gerakan
yang melemahkan Islam, serta menghidupkan
kembali tradisi dan budaya hindu. Membaca
tulisan Al-Nadawi kita mengetahui betapa
pembangun jama’ah tabligh adalah seorang
mujaddid, pembaharu yang di turunkam Alloh
SWT untuk membawa misi Islah, penyegaran
dan revivalisme. Ia adalah seorang Alim besar
mujaddid, sunni pelaku thorikat dengan pola
hidup yang mengingatkan saya pada pola
hidup salafussholih. Coba simak tulisan Al-
Nadawi di bawah ini:

ﻭﻛﺎﻥ ﻛﺜﻴﺮ ﺍﻟﻌﺒﺎﺩﺓ ﻣﺸﻐﻮﻻ ﺑﺨﺎﺻﺔ ﻧﻔﺴﻪ ﻭﻛﺎﻥ ﻣﻮﺿﻊ ﺍﺣﺘﺮﺍﻡ ﺑﻴﻦ
ﺍﻟﻤﺸﻴﺎﻳﺦ ﻭﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﻳﻌﺘﺒﺮﻭﻥ ﺑﺘﻘﻮﺍﻩ ﻭﻭﺭﻋﻪ ﻭﺍﻟﻌﻨﺎﺑﺔ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺍﺷﺘﻐﻞ
ﻣﺪﺭﺳﺎ ﻓﻰ ﻣﺪﺭﺳﺔ ﻣﻈﺎﻫﺮ ﺍﻟﻌﻠﻮﻡ ﺑﻤﺪﻳﻨﺘﻴﻦ ﺳﻬﺎﺭﻥ ﻧﻮﺭ ﺍﻟﺘﻲ ﺗﻤﺘﺎﺯ
ﺑﺎﻻﻣﺘﻨﺎﻉ ﺍﻟﺰﺍﺋﺪ ﺑﻌﻠﻢ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻭﺗﺨﺮﻳﺞ ﺍﻟﺪﻋﺎﺓ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺍﻟﻘﺎﺋﻤﻴﻦ
ﺑﺎﻟﺪﻋﻮﺓ ﺍﻟﺪﻳﻨﻴﺔ ﺍﻟﺸﻌﺒﻴﺔ ﻭﺍﻟﻤﺸﺘﻐﻠﻴﻦ ﺑﺘﺪﺭﻳﺲ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺍﻟﺸﺮﻳﻒ .

Masih menurut Al-Nadawi. Pembangunan
jama’ah tabligh adalah

ﺭﺟﻞ ﻧﺤﻴﻞ ﻧﺤﻴﻒ ﺗﺸﻒ ﻋﻴﻨﺎﻩ ﻋﻦ ﺫﻛﺎﺀ ﻣﻔﺮﻁ ﻭﻫﻤﺔ ﻋﺎﻟﻴﺔ ﻋﻠﻰ ﻭﺟﻬﻪ
ﻓﺤﺎﻳﻞ ﺍﻟﻬﻢ ﻭﺗﻔﻘﻴﺮ ﻭﺍﻟﺠﻬﺪ ﺍﻟﺸﺪﻳﺪ ﺍﻟﻰ ﺃﻥ ﻗﺎﻝ ﺭﺃﻳﺘﻪ ﻓﻰ ﺣﺎﻟﺔ ﻋﺠﻴﺒﺔ
ﻓﺔ ﺍﻟﺘﺄﻟﻢ ﻭﺍﻟﺘﻮﺟﻊ ﻭﺍﻟﻘﻠﻖ ﺍﻟﺪﺍﺋﻢ ﻛﺄﻧﻪ ﻋﻠﻰ ﺣﺴﻚ ﺍﻟﺴﻌﺪﺍﻥ ﻳﺘﻤﻠﻤﻞ
ﺗﻤﻠﻤﻞ ﺍﻟﺴﻠﻴﻢ ﻭﺗﻴﻔﺲ ﺍﻟﺴﻌﺪﺍﺀ ﻟﻤﺎ ﻳﺮﻯ ﻣﻦ ﺍﻟﻐﻔﻠﺔ ﻋﻦ ﻣﻘﺼﺪ ﺍﻟﺤﻴﺎﺓ
ﻭﻋﻦ ﻏﺎﻳﺔ ﻫﺬﺍ ﺍﻟﻐﺮ ﺍﻟﻌﻈﻴﻢ . ﺭﻓﻘﺘﻪ ﻓﻰ ﺍﻟﺴﻔﺮ ﻭﺍﻟﺤﻀﺮ ﻓﺮﺃﻳﺖ ﻧﻮﺍﺣﻰ
ﻣﻦ ﺍﻟﺤﻴﺎﺓ ﻟﻢ ﺗﻨﻜﺸﻒ ﻟﻰ ﻣﻦ ﻗﺒﻞ، ﻓﻤﻦ ﺃﻏﺮﺏ ﻣﺎ ﺭﺃﻳﺖ: ﻳﻘﻴﻨﻪ ﺍﻟﺬﻯ
ﺍﺳﺘﻄﻌﺖ ﺑﻪ ﺃﻥ ﺃﻓﻬﻢ ﻳﻘﻴﻦ ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔﻓﻜﺎﻥ ﻳﺆﻣﻦ ﺑﻤﺎ ﺟﺎﺀﺕ ﺑﻪ ﺍﻟﺮﺳﻮﻝ
ﺍﻳﻤﺎﻧﺎ ﻳﺨﺘﻠﻒ ﻋﻦ ﺍﻳﻤﺎﻧﻨﺎ ﺍﺧﺘﻼﻓﺎ ﻭﺍﺿﺤﺎ ﻛﺎﺧﺘﻼﻑ ﺍﻟﺼﻮﺭﺓ ﻭﺍﻟﺤﻘﻴﻘﺔ
ﺍﻳﻤﺎﻧﺎ ﺑﺤﻘﺎﺋﻖ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﺍﺷﺪ ﻭﺍﺭﺳﺦ ﻓﻰ ﺍﻳﻤﺎﻧﻨﺎ ﺑﺎﻟﻤﺎﺩﻳﺎﺓ ﻭﺑﺘﺠﺎﺭﺏ ﺣﻴﺎﺗﻨﺎ
ﺍﻟﻰ ﺃﻥ ﻗﺎﻝ : ﻭﻛﺄﻧﻪ ﻳﺮﻯ ﺍﻟﺠﻨﺔ ﻭﺍﻟﻨﺎﺭ ﺭﺃﻱ ﺍﻟﻌﻴﻦ .

Barang kali nama besar Al-Nadawi sebagai
tokoh islam kaliber dunia yang mendapat
kepercayaan dari berbagai kelompok Islam di
duni Islam yang demikian terkagum-kagum
kepada Syeikh Ilyas. Sedikit banyak
menyiratkan semacam jaminan bahwa
jama’ah tabligh secara esensial sebetulnya
tidak menyalahi doktrin Ahlissunnah Wal
jama’ah. Saya teringat Al-Buthi Ulama sunni
terkemuka dari Syiriya menyebutkan dalam
salah satu ceramahnya bahwa:

ﺟﻤﺎﻋﺔ ﺍﻟﺘﺒﻠﻴﻎ ﺍﺣﺴﻦ ﺍﻟﺠﻤﺎﻋﺔ ﺍﻹﺳﻼﻣﻴﺔ ﻓﻰ ﺍﻟﻌﺎﻟﻢ ﺍﻹﺳﻼﻣﻰ

Ada sederet nama-nama tokoh jama’ah atau
paling tidak pendukung yang semakin
meneguhkan keyakinan saya bahwa jamaah
tabligh bukanlah aliran sesat, seperti Syeikh
Yusuf penulis Hayat Al shohabah, Syeikh
Zakariya Al-Kandahlawi penulis Anjazul
Masalik yang merupakan komentar atas kitab
Al Muwattho’ (dialah yang menulis buku
pegangan jamaah yaitu Fadloilul A’mal) dan
Syeikh Muhammad yusuf Al-Binnawi penulis
syarah sunan Tirmidzi. Kedua Ulama ini
tercatat sebagai guru Syeikh Yasin Al-Fadani
da hampir semua Masyayikh jam’iyyah
Dyuban India adalah pengikut dan pendukung
jama’ah tabligh.
Pada akhirnya saya harus berterus terang
bahwa saya kurang tertarik dan agak ragu
terhadap tulisan seorang penulis yang di
terbitkan oleh penerbit Turkey yang sangat
terdensius dan teramat mendiskriditkan
jama’ah tabligh.

B. Jamaah Salafi

Abu Zahro menulis bahwa kelompok yang
menamakan dirinya sebagai Assalafiyyun
muncul pada abad IV H. dan kemudian di
bangun kembali oleh ibnu Taimiyyah pada
abad VII H dengan persoalan tambahan dari
dia sendiri . selanjutnya pada abad 18 M di
padang pasir Arab muncul seorang figur
bernama Abdul wahab mengibarkan kembali
panji – panji yang pernah di kibarkan oleh
Ibnu Taymiyyah . Secara umum dapat saya
sebutkan persoalan – persoalan yang menjadi
trade mark kelompok Salafiyyah sebagai
berikut :

· Sangat skripturalis
· Ayat – ayat sifat dan mutasyabih
· Pemberantasan hal – hal yang di anggap
TBC
· Gampang mengkafirkan orang yang tidak
sepaham
· Beranggapan pendapat kelompoknya tidak
mungkin salah sedangkan paham orang lain
tidak mungkin benar .
· Permusuhan yang sangat keras terhadap
Asy’ariyah dan tariqat sufiyyah .
Tokoh-Tokoh Salafi
Di antara tokoh salafi yang sering disebut
adalah Nashiruddin Al Bani, Sholeh ‘Utsaimin,
Muqbil dan untuk Indonesia adalah Ja’far
Thalib, Panglima Laskar Jihad.

PENUTUP

Pada akhirnya saya ingin mengajak teman-
teman untuk memahami betul cerita
Ahlussunnah Wal Jama’ah sebagaimana
diungkapkan oleh Dr. Al Buthi :

· ﺍﻻﻟﺘﺰﺍﻡ ﺑﺎﻟﻨﺼﻮﺹ ﺍﻟﺸﺮﻋﻴﺔ
· ﺍﻻﻟﺘﺰﺍﻡ ﺑﻘﻮﺍﻋﺪ ﺗﻔﺴﻴﺮ ﺍﻟﻨﺼﻮﺹ
· ﺍﻻﻟﺘﺰﺍﻡ ﺑﻘﻮﺍﻋﺪ ﻭﻗﻮﺍﻧﻴﻦ ﺍﻟﻠﻐﺔ ﺍﻟﻌﺮﺑﻴﺔ
· ﺍﻻﻟﺘﺰﺍﻡ ﺑﻤﻮﺍﺯﻳﻦ ﺍﻟﻤﻨﻄﻖ ﺍﻟﺴﻠﻴﻢ

Demikianlah yang bisa saya sampaikan dalam
diskusi kali ini dengan harapan semoga kita
tergolong Firqoh Annajiyyah pengikut
ahlussunnah wal jama’ah. Wassalam

KEPUSTAKAAN
Tarikhul Madzahib Al Islamy Dr. Abu Zahroh
· Assalafiyyah Dr. Al Buthy
· Kasyfusyubuhat ‘an Jama’ah At tabligh
Syeikh Maulawi
· Asyakhshiyyat wal Kutub Abu Hasan Al
Nadawi
· Al Madkhol ilal Ilmi al Hakim


Artikel Terkait