Tiga Sikap Manusia Menyikapi Kehidupan setelah Kematian

Shortlink:

Pada ayat sebelumnya, Tuhan mengabarkan bahwa segala apa yang ada di dunia ini adalah milik-Nya, berasal dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya. Dia memiliki segala-galanya dan berkuasa terhadap segala-galanya, menghidupkan dan mematikan (23).
alhijr ayat 23
Kemudian berbicara tentang umat terdahulu dan umat masa kini, di mana Tuhan mengetahui apa yang mereka perbuat, baik yang berprestasi maupun yang terbelakang.
alhijr ayat 24

Lebih khusus lagi terhadap ibadah shalat berjamaah. Meski dengan bahasa “mengetahui”, ” walaqad ‘alimna” (24), tapi itu artinya Tuhan menyikapi beda terhadap mereka yang berada di shaff depan dan yang di shaff belakang. Servis lebih ini wajar dan sudah berlaku dalam kehidupan kita. Semisal perjalanan pakai pesawat terbang komersial, meski berangkatnya sama dan datangnya juga sama, tapi servisnya berbeda.

Mereka yang ada di kelas bisnis dipersilakan duduk di kursi depan dengan servis yang lebih spesifik ketimbang penumpang yang duduk di kelas ekonomi. Servis itu diberikan sejak check in, boarding, turun duluan, penjemputan khusus, bahkan bisa hingga di hotel berbintang. Tidak sekedar hotelnya yang berbintang, melainkan servis luar-dalamnya juga berbintang. Meski tamsil ini tidak mutlak pas, tapi seperti itulah Tuhan memuliakan hamba-Nya yang sungguhan beribadah kepada-Nya. Hamba yang memilih ibadah KW satu, wajar bila mendapatkan servis kelas satu.

Kini Tuhan menyatakan, bahwa nanti semuanya akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan tidak ada satupun yang terlewatkan. Di situlah Tuhan akan membuktikan Diri-Nya sebagai Dzat yang mahabijak (Hakim) dan maha mengetahui sedetail-detailnya (‘alim). Di sini, Tuhan hanya memberitahukan sifat hakim dan ‘alim-Nya, tanpa memperjelas apa sesungguhnya yang akan dilakukan.

Inilah penghormatan Tuhan terhadap hamba-Nya yang beriman. Mereka diperlakukan sebagai orang cerdas yang bisa diajak berbeicara, meski hanya menggunakan bahasa sederhana. Mereka juga bisa memahami sindiran, meski hanya pakai tamsilan. Untuk apa Tuhan mengumpulkan kita?

Terhadap ayat ini, ada tiga kubu dengan sikap berbeda. Pertama, mereka yang tidak menggubris dan menganggap firman Tuhan itu sebagai omong kosong. Mana mungkin, jasad yang sudah jutaan tahun mati, musnah tak berbekas bisa dihidupkan kembali. Begitulah pandangan orang-orang kafir.

Kedua,Tuhan mengumpulkan kita untuk diberi balasan dan tak mungkin hanya sebatas ngumpul-ngumpul. Hakim, artinya Tuhan akan mengambil kebijakan dengan memeberi pembalasan atas amal perbuatan kita. Alim, artinya Tuhan akan mengkalkulasi seluruh amal kita secara tepat sebagai dasar menentukan besaran pembalasan. Hukum alam kita membuktikan kebenaran asas kausalitas, bahwa “siapa yang menanam, dialah yang akan memanen”.

Soal menghidupkan kembali itu sangat kecil bagi Tuhan. Dulu, kita tidak berupa apa-apa, tapi Tuhan mampu mewujudkan. Kini kita sudah terwujud, meski sudah hancur lebur, bila sekedar merekonstruksi kembali tentu jauh lebih mudah.

Ketiga, untuk apa dikumpulkan, memangnya Tuhan ngajak kita arisan?. Begitulah kira-kira omongan orang-orang munafik yang cenderung kepada kekafiran.


Artikel Terkait