Ternyata, Langit Pakai Tiang Penyangga

Shortlink:

 arra`du ayat 2Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu.(arra`du ayat 2)

Tafsir

Terkait dengan jawaban Tuhan kepada orang kafir yang mempersoalkan eksistensi al-Qur’an. Mereka menuduhnya sebagau kreasi Muhammad sendiri, tetapi Tuhan mengklarifikasi, bahwa al-Qur’an dari kalam-Nya, bukan kreasi siapapun. Untuk lebih menguatkan jawaban itu, maka Tuhan perlu menunjukkan kemahahebatan-Nya, di mana tidak sekadar berhebat-hebat dalam berfirman saja, melainkan juga sangat hebat dalam menciptakan yang lain.

Ditunjuklah langit yang dibangun begitu luas tak bertepi, tinggi dan indah serta sangat mengagumkan. Tak ada satupun tiang penyanggah yang mereka lihat, lalu ada arasy di atas sana, mentari dan rembulan berjalan sesuai garis edar yang sudah ditetapkan tanpa pernah bergeser sedikitpun. Tidak pernah terlambat dan tidak pernah berjalan lebih cepat. Sema itu dalam pengawasan yang super teliti sehingga seharusnya difahami sebagai tanda kebesaran pencipta-Nya, lalu beriman kepada-Nya. Iman atau tidak iman, kelak akan dipertanggungjawabkan di depan pengadilan-Nya.

Paparan Tuhan soal mentari dan rembulan ini begitu menusuk hati mereka, karena mereka hidup sangat tergantung pada jasa kedua planet tersebut. Mereka menggunakan jasa rembulan sebagai tanda waktu bulanan terkait dengan musim dan jasa matahari terkait dengan waktu harian, ada siang dan ada malam. Mereka juga bisa membayangkan andai mentari dan rembulan tidak berjalan displin, tentu efeknya sangat besar bagi mereka.

Lalu, benarkah langit dibangun tinggi bak atap raksasa di atas sana tanpa tiang peyangggah? Ayat studi ini menyatakan demikian “Allah al-ladzi rafa’ al-samawati bigahir ‘amad tarawrana”. Allah dzat yang meninggikan langit tanpa tiang yang kamu lihat”. Kata “tarawnaha” (yang kalian bisa lihat) mengandung dua pengertian,: Pertama, sesungguhnya langit benar-benar ditinggikan tanpa tiang penyanggah, makanya kalian tidak melihat satupun tiang-tiang itu, karena memang tidak ada, dan kedua, sesungguhnya langit ditinggikan pakai tiang penyanggah, hanya saja kalian tidak bisa melihatnya. Tapi Allah bisa melihat.

Bila pendapat pertama yang kita pilih, maka persoalan selesai. Tapi jika pendapat kedua yang kita pilih, maka perlu dipikirkan tiang penyanggah yang ajaib dan misteri itu berupa apa?. Bagi madzhab fisika, mungkin menunjuk atmosfir dan sebangsanya sebagi penyanggah atau ada pemahaman lain soal langit, sedangkan bagi madzhab teologi, wajar jika meyakini tiang penyanggah itu para malaikat yang ditugaskan. Bagi anda..?


Artikel Terkait