Tafsir Al-Hijr 36-38: Iblis, Makhluk Pertama yang Bilang ‘Aku Ra Popo’

Shortlink:

Alhijr Ayat 36 Alhijr Ayat 37 Alhijr Ayat 38

 

Dialah Iblis, makhluk pertama yang berani melawan Tuhan, terang-terangan menolak perintah Allah bersujud kepada Adam A.S. Dialah Iblis, makhluk pertama yang menggunakan pemikiran analogik atau pola qiyas yang salah. Merasa dirinya lebih unggul daripada Adam karena dicipta dari api, sementara Adam dari tanah liat. Dia menganggap tidak level dengan Adam, sehingga tidak mau bersujud. Dialah Iblis, makhluk pertama yang dibentak Tuhan dan dikutuk habis-habisan, tapi tegar-tegar saja dan ra popo. Dialah Iblis, makhluk pertama yang meminta agar diberi umur panjang hingga hari kiamat nanti dan Tuhan mengabulkan.


 

Pertama, adalah pelajaran, bahwa pelanggaran atau kemaksiatan sekecil apapun pasti berakibat tidak baik, bahkan buruk bagi kehidupan masa depan. Sekali orang berbuat maksiat dan aman, maka terus ketagihan. Apalagi maksiat pribadi seperti berzina, berjudi, menenggak narkoba dll. Termasuk meninggalkan amal baik. Sekali anda meninggalkan amalan sunnah yang sudah biasa anda lakukan, pastilah cenderung untuk meninggalkan lagi. Lalu mudah meninggalkan, lalu ditinggalkan

Pada sisi yang lain, melanggar itu sebuah gengsi dan kenikmatan tersendiri. Pelanggar aturan ingin menunjukkan eksistensi dirinya sebagai sosok tersendiri yang tidak sama dengan umumnya manusia. Dia ingin diperhitungkan sebagai orang khusus dan saat jiwa sedang demikian, maka itulah kesombongan. Pengendara sepeda motor malam hari tidak mau menyalakan lampu, tidak melengkapi kaca spion, tanpa helm mengandung maksud tampil beda dengan yang lain. Tapi berisiko dan nyatanya sudah banyak korban akibat pelanggaran tersebut.

Kedua, alasan Iblis pakai pola berpikir analogik dan elitis. Hanya berdasar tercipta dari api Iblis merasa lebih mulia ketimbang Adam. Ini bahaya bagi anak-anak yang lahir dari keturunan bangsawan, ningkrat, kiai, pejabat dan sebagainya. Belum punya prestasi apa-apa sudah merasa lebih tinggi ketimbang yang lain. Saat jiwa merasa begini ini, sejatinya dia sedang menjadi anak-anak Iblis, meski wujudnya anak kiai. Bila berprestasi dan merasa lebih unggul, maka wajar dan biasa. Bila anak kiai berprestasi tapi tetap tawadhu’ dan bershaja, maka itu istimewa dan luar biasa.

Ayat studi ini mengandung pesan bahwa pelanggaran berkait erat dengan alasan dan alasan itu berkait erat dengan mengada-ada alias kemunafikan. Artinya, pelanggaran acap kali dibungkus dengan sejuta alasan kemunafikan. Pelanggar aturan, pelaku maksiat adalah orang munafik dan bukan orang beriman sejati. Itulah, maka jangan heran bila ada alasan panjang lebar, bagus-bagus dan masuk akal lahir dari mulut pelaku maksiat, maling atau koruptor. Meski sudah tertangkap tangan, masih saja ada alasan yang bagus dan masuk akal. Ya, sebab alasan itu bisa spontan muncul meski tanpa konsep, karena dibantu oleh Iblis.

Untuk itu, orang beriman sangat menghindari pelanggaran, menjauhi maksiat, karena efeknya panjang hingga ke kemunafikan. Jadinya, sudah melanggar ditambahi kemunafikan sehingga dosanya dobel. Di sinilah, maka Tuhan memberi resep praktis, yakni “istighfar”. Begitu seseorang berbuat salah, berbuat maksiat, maka segeralah ber-istighfar, titik. Perkara selesai dan tidak berlarut-larut dalam kebohongan. Ketahuilah, ” Alasan itu hanya lahir dari orang-orang yang gagal saja”.


Artikel Terkait