Surah al-Ra’d: Surah Ke 13, Juz 13, Pada Ayat 13, Angka Sial [?]

Shortlink:

ara`du ayat 1Terjemah al-Ra’d: 1

Alif laam miim raa. Ini adalah ayat-ayat Al Kitab (Al Quran). Dan Kitab yang diturunkan kepadamu daripada Tuhanmu itu adalah benar: akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman (kepadanya).

Tafsir

Surah al-Ra’d ini surah yang ke 13 dari 114 surah dalam al-qur’an, berada pada juz 13 dan nama al-Ra’d tersebut diambil dari kata yang ada pada surah itu sendiri yang juga terdapat pada ayat nomor 13, (wayusabbih al-ra’d bihamdih…) Ra’d artinya petir. Dari namanya terbayang kengeriannya yang beraroma malapetaka. Apakah benar demikian?

Tidak diingkari, bahwa al-Qur’an al-Karim sungguh kalam Allah yang punya nilai mu’jizat hebat dari berbagai sisi. Dulu, ulama klasik memetakan kemu’jizatan cukup simpel, seperti kemu’jizatan sisi redaksi, sisi perundangan,keilmuan dan sisi pemberitaan. Semua itu terbukti secara realistik dan bisa dipertanggung jawabkan secara akademik.

Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan, kemu’jizatan al-Qur’an tersebut ditilik juga dari perspektif matematik atau angka. Diketemukan jumlah kata “al-syahr” (bulan) sejumlah dua belas yang cocok dengan jumlah bulan dalam satu tahun. Kata al-yaum”(hari) sekian yang ternyata cocok dengan jumlah hari setahun dan seterusnya. Bahkan ada yang masuk lebih mendalam ke jumlah huruf dalam al-Qur’an. Bahwa jumlah huruf dalam basmalah (bi ism Allah al-rahman al-rahim) ternyata cocok dengan begini, begini dan seterusnya.

Ini ilmu dan bagus, meski bukan tujuan utama al-Qur’an diturunkan. Al-Qur’an adalah petunjuk bagi umat manusia menggapai kebahagian hidup universal. Soal kelebihannya hingga pada level mu’jizat itu hanya pelengkap dan bukan tujuan. Begitu ibn al-Hammam menuturkan. Lalu, apakah papar analisis hasil temuan para ilmuwan terkait kemu’jizatan al-Qur’an itu masuk bagian yang wajib diimani?.

Dipilah lebih dulu, ada al-Qur’an dan ada tafsir al-Qur’an. Sebagai Kalam Tuhan yang berkebenaran mutlak, maka al-Qur’an secara utuh wajib dimani, dimengerti maksudnya atau tidak. Sedangkan tafsir adalah buah kerja akademik para ahli dalam memahami pesan tersebut. Karena buah pikiran mansuia, maka punya resiko kesalahan sehingga satu sisi boleh diingkari. Itulah, maka bertafsir wajib mematuhi kaedah yang sudah ditetapkan para pakar agar keslahan bisa diminimalisasi.

Terhadap temuan para ahli soal keunikan angka-angka dalam al-Qur’an wajib kita apresiasi setinggi-tingginya sebagai kerja akademik yang gemilang. Ilmu Tuhan itu mahaluas dan diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki, meski tidak beriman kepada-Nya. Begitulah kasih Tuhan. Karena temuan tersbut sifatnya sebatas ilmu, maka bisa diuji dan bisa pula digugurkan.

Semisal huruf-huruf pada Basmalah, bisa gugur dengan menghadapkan status basmalah dalam al-Quran, apakah sebagai bagian firman-Nya atau tidak. Bagi al-Imam Malik ibn Anas, basmalah bukan bagian dari ayat al-Qur’an. Dengan demikian, maka menghubung-hubungkan basmalah yang bukan al-Qur’an dengan ayat-ayat dalam al-Qur’an tidak punya korelasi dan harus batal.

Termasuk pula serba angka 13 pada surah al-Ra’d ini, dari urutan surat, urutan juz dan nomor ayat. Berindikasi sialkah surah ini? Angka 13 ditengarai sebagai angka sial itu hanya bagi tradisi yang meyakini, lalu bagaimana dengan yang tidak meyakini angka itu, melainkan meyakini angka 12, 14 dan lain-lain?. Sisi lain, nomor ayat 13 tersebut karena basmalah pada awal surah tidak dihitung sebagai ayat pertama. Sedangkan bagi al-imam al-Syafi’iy yang menghitung basmalah sebagai ayat pertama, maka nomor ayat tidak lagi jatuh pada urutan 13, melainkan pada angka 14.

Sementara itu, Surah ini termasuk salah satu dari 29 surah al-Qur’an yang diawali dengan al-huruf al-muqatta’ah, huruf sandi rahasia Tuhan yang hanya dimengerti oleh Tuhan sendiri, Alif Lam Ra. Huruf ini sengaja dipakai sebagai unjuk demonstratif atas kemahabisaan Tuhan dalam berfirman. Hal itu terjadi akibat ulah orang-orang kafir yang lagi-lagi mempersoalkan al-Qur’an sebagai kreasi Muhammad sendiri dan bukan dari Tuhan.

Tuhan menjawab, bahwa al-Qur’an benar-benar kalam-Nya yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW. Mengawali jawaban-Nya, Tuhan mendemonstrasikan huruf-huruf aneh yang sebelumnya tidak pernah didengar oleh telinga bangsa Arab. Para sasterawan hanya bisa terperanjat kagum tanpa bisa mempersoalkan. Sebab, meski mereka tidak mengerti maksudnya, tetapi bisa menikmati keindahan lantunannya yang serasi sekali dengan untaian kata sesudahnya, sehingga mereka gemes dan penasaran. Dengan mendramatisir sastera aneh ini, jawaban menjadi makin meyakinkan.

Soal fadlilah atau keutamaan surat, sejatinya merupakan bonus atau servis tersendiri dari firman suci. Tidak sekedar sebagai petunjuk kebahagiaan universal, melainkan pula sebagai petunjuk praktis pada zona kasuistik. Khasiat ayat atau surat bisa diketahui dari petunjuk Rasulullah SAW, seperti khasiat surat al-Fatihah dan ayat kursi dan bisa juga dari pengalaman spiritiual para ahli atau hasil riyadhah dan munajah orang-orang shalih yang sudah diujicobakan.

Terkait surah al-Al-Ra’d ini, paling populer diyakini sebagai surah peretas aji-aji atau bahkan upaya radikal untuk mempercepat kejelasan keputusan Tuhan. Seperti orang yang lama menderita sakit dan ditengarai sebagai tidak wajar, kasihan, mati tidak tapi sembuh pun tak ada harapan. Lagi-lagi sekarat dan normal kembali, sekarat lagi dan tidak jadi mati, begitu seterusnya, sehingga mengundang dugaan yang bukan-bukan. Untuk ini, ahli hikmah menganjurkan keluarga agar banyak-banyak membaca surah Yasin di samping penderita. Surah ini amat menyejukkan dengan harapan segera ada keputusan Tuhan yang terbaik.

Hanya saja kerja khasiat surah Yasin ini halus dan lamban. Tidak sama dengan dibacakan surah al-Ra’d, maka keputusan Tuhan biasanya lebih cepat. Sebab kerja khasiat surah ini lebih efektif dan radikal. Tapi perlu difahami, bahwa pembacaan surah al-Ra’d sebaiknya hanya untuk penderita sakit yang ditengarai sebagai tidak wajar seperti dicontohkan di atas. Insiden sekarat tersebut bisa karena ada dosa penganjal atau ada aji-aji hitam, wirid-wirid bermahar terkait kontrak dengan pihak Jin jahat yang tak terlunasi. Surah al-Ra’d – insya Allah – cepat meretas itu semua.

Harus dibedakan antara surah al-Ra’d dengan tindakan eutanasia, melakukan atau tidak melakukan suatu tindakan medik yang pastiberakibat kematian pasien karena pertimbangan tertentu. Seperti pasien yang koma berat dan lama, nadi masih aktif sehingga tanda kehidupan masih ada, tetapi semuanya sudah off dan tak mungkin pulih normal, menurut ilmu kedokteran.Tinggal diinsuf dan oksigen saja yang bisa menunjang si penderita bisa bertahan hidup. Jika oksigen dicabut, pasti mati. Sedangkan surah al-Ra’d tidak demikian. Kerja khasiatnya memohon kepada Tuhan keputusan yang terbaik dan tercepat, cepat disembuhkan atau cepat dipanggil.

Soal eutanasia, bolehkah?. Tindakan eutanasia bisa atas pertimbangan beaya yang terkuras habis-habisan dan tidak menentu batas, sehingga menyengsarakan keluarga tanpa ada harapan sembuh sama sekali. Juga kasihan terhadap si pasien yang terus-menerus menderita. Meskipun atas dasar maslahah dibolehkan, tetapi kaum sufistik tidak membenarkan, sebab masih ada peluang turunnya keajaiban Tuhan. Allah a’lam.


Artikel Terkait