Semua Rais-Ketua Tanfdiziah se-Indonesia Harus Dijadikan Anggota Ahwa

Shortlink:

 Poin-poin pemikiran para Rais Syuriah PCNU ditulis dalam huruf Arab pegon. (foto: BANGSAONLINE.com)

Poin-poin pemikiran para Rais Syuriah PCNU ditulis dalam huruf Arab pegon. (foto: BANGSAONLINE.com)

NGANJUK (BANGSAONLINE.com) – Para kiai NU – terutama jararan Rais Syuriah PCNU – ternyata selalu merujuk kepada kitab kuning dalam merespon setiap persoalan sosial kemasyarakatan. Maklum, kitab kuning adalah khasanah intelektual Islam yang selama ini menjadi kekayaan NU. Bahkan dalam setiap acara Bahtsul Masail NU kitab-kitab mu’tabarah standar pesantren selalu jadi acuan utama dan basis argumentasi dalam merespon setiap persoalan, termasuk soal suksesi kepemimpinan.

Karena itu, mudah dipahami ketika PBNU mewacanakan sistem Ahlul Halli Wal Aqdi (Ahwa) untuk memilih Rais Am, para kiai di berbagai daerah lalu menelaah dari sudut pandang kitab klasik secara kontekstual. Ternyata pandangan para kiai daerah itu sangat cerdas dan punya nuansa intelektual luar biasa. Nalar mereka tajam. Bahkan dengan merujuk kepada kitab kuning mereka bisa mengonktekstualisasikan era kepemimpinan era Khalifaurrasyidin ke dalam konteks kepemimpinan modern sekarang. Jadi mereka mampu menjawab problem suksesi era modern dengan mengacu kepada fakta sejarah kepemimpinan para Sahabat Rasulullah SAW.

Setidaknya, itulah nuansa yang tampak dalam acara pertemuan para kiai di Pesantren Miftahul Huda Nganjuk Jawa Timur kemarin (Ahad, 12/4/2015). Di pesantren yang diasuh KH Qolyubi Dahlan, wakil Rais Syuriah PCNU Nganjuk itu, hadir para pengurus NU terutama Rais Syuriah PCNU Nganjuk, Ngawi, Madiun, Blitar, dan Kediri. Acara silaturahim para kiai itu semula dijadwalkan dimulai jam 10.00 pagi. Namun molor dan baru dimulai pukul 11.00.

Yang menarik, semua kiai mengemukakan pendapat secara aktif. Tentu dengan kultur NU yang santun dan bijak. ”Pokoknya saya pasrah kepada para kiai,” kata Kiai Qolyubi selaku tuan rumah merendah.

Dalam pertemuan itu para kiai sepakat bahwa Rais Syuriah dan Ketua Tanfidziah PCNU seluruh Indonesia harus dijadikan Ahwa. Karena, menurut mereka, Ahwa itu adalah gambaran dan representasi umat. Artinya, anggota Ahwa harus mencerminkan jumlah umat. Jadi kalau jumlah umat sedikit, maka jumlah Ahwa sedikit. Tapi jika jumlah umat banyak, maka jumlah Ahwa harus banyak. Alasan ini mengacu kepada Kitab Al-Fiqhu Islam Wa Adillatuhu Juz 6 halaman 684.

Para kiai itu menguraikan jumlah anggota Ahwa pada era Sahabat. Menurut mereka , jika Khalifah Abu Bakar ditunjuk oleh 5 orang sahabat, ketika Rasulullah wafat, karena waktu itu jumlah sahabat hanya 124.000 orang. Tapi ketika mengangkat Utsman sebagai Khalifah para sahabat tidak lagi mewakilkan kepada 5 orang, tapi bertambah satu orang, yakni jadi 6 orang (Ahwa). Karena jumlah sahabat saat itu sudah bertambah.

Di bawah ini poin-poin pemikiran para kiai soal Ahwa yang ditulis dalam huruf Arab pegon:

Demi kebesaran dan keselamatan Nahdlatul Ulama dari pengaruh Syiah, Liberal (maksudnya Islam Liberal-Red), radikal dan menghilangkan pro-kontra di dalam memilih Rais Am dan Ketua Umum Tanfidziah, agar dilaksanakan dengan cara sebagai berikut:

Semua Rais Syuriah Cabang (PCNU) dijadikan Ahlul Halli Wal Aqdi di dalam memilih Rais Am dan semua Ketua Tanfidziah Cabang (PCNU) dijadikan Ahlul Halli Wal Aqdi di dalam memilih Ketua Umum Tanfidziah karena:

A. Sedikit banyak Ahwa tidak ada ketentuan di dalam kitab Mu’tabarah An-Nahdliah dan sesuai dengan AD/ART NU Bab XIV Pasal 41 huruf a.

B. Pemerintah kita sekarang sedang sibuk mengatasi ISIS, teroris, radikalis, dan semua (maksudnya mereka) itu tidak mau menerima sistem demokrasi yang dilaksanakan di negara kita ini. Bahkan (mereka) ingin mendirikan negara Khilafah. Padahal melaksanakan demokrasi menurut Nahdlatul Ulama tidak dilarang oleh Islam (Keputusan Bahtsul Masail Wilayah (PWNU) Jawa Timur hal. 347 dan Al-Fiqhul Islam wa Adillatuhu halaman 684)

C. Nahdlatul Ulama satu-satunya organisasi yang mempunya andil besar didalam mempertahankan NKRI. Terbukti Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari mengeluarkan resolusi jihad untuk mengusir penjajah. Oleh karena itu tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama mengatakan bahwa NKRI adalah harga mati.

D. Nahdlatul Ulama menerima Pancasila sebagai dasar negara dan sila keempat adalah: kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan dan jumlah DPR RI sekarang 560 orang. Oleh karena itu Nahdlatul Ulama membentuk Ahwa dengan jumalah 500 itu juga ada baiknya. Pada jaman Rasulullah wafat jumlah sahabat 124.000 orang. Sekarang warga NU hampir 100 juta. Waktu pengangkatan Khalifah Abu Bakar Ahwa 5 orang, sekarang anggota Ahwa 500 orang sudah sesuai.

E. Sementara Rais Syuriah PCNU Nganjuk KH Ahmad Baghowi dalam acara itu mengklarifikasi bahwa dirinya tak pernah memberi pernyataan yang minta hak PCNU jangan diambil alih oleh PWNU seperti ditulis HARIAN BANGSA. ”Saya gak pernah menyatakan itu,” katanya sembari menunjukkan koran HARIAN BANGSA . Menurut dia, kalau ia mengemukakan pendapat soal Ahwa di HARIAN BANGSA semata didasarkan kepada kitab kuning. ”Itu referensi yang saya punya,” tambahnya. (tim)


Artikel Terkait