Reinkarnasi Versi Kafir Jahiliah

Shortlink:

arra`du ayat 5arra`du ayat 6Terjemah al-Ra’d: (5-6)

5. Dan jika (ada sesuatu) yang kamu herankan, maka yang patut mengherankan adalah ucapan mereka: “Apabila kami telah menjadi tanah, apakah kami sesungguhnya akan (dikembalikan) menjadi makhluk yang baru?” Orang-orang itulah yang kafir kepada Tuhannya; dan orang-orang itulah (yang dilekatkan) belenggu di lehernya; mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.

6. Mereka meminta kepadamu supaya disegerakan (datangnya) siksa, sebelum (mereka meminta) kebaikan[766], padahal telah terjadi bermacam-macam contoh siksa sebelum mereka. Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mempunyai ampunan (yang luas) bagi manusia sekalipun mereka zalim, dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar sangat keras siksanya.

[766]. Orang-orang musyrik dengan cara mengejek meminta kepada Nabi Muhammad s.a.w., supaya disegerakan turunnya siksa, padahal semestinya mereka lebih dahulu meminta rahmat dan keselamatan.

Tafsir

Tujuan Allah SWT mengungkap keajaiban buah beraneka rasa tapi bersumber dari air yang sama seperti tertera pada ayat sebelumnya adalah mengajak umat manusia merenung tentang kemahakuasaan-Nya. Lalu menyadari dan memetik hikmah, kemudian beriman kepada-Nya. Dasar kafir, malah mengatakan yang bukan-bukan dan mentertawakan Tuhan.

Pertama, pada ayat nomor 5, mereka menuntut Tuhan agar mematikan mereka dan menjadikan tanah, lalu menghidupkan kembali sebagai makhluq baru. “a’idza kunna turaba a’inna lafi khalq jadid”.

Permintaan macam ini karena pola pikir mereka ingin hidup terus di dunia dan menikmati segala fasilitasnya tanpa batas akhir. Mereka menerima kematian, tapi sifatnya sebentar, lalu cepat dihidupkan lagi menjadi sosok baru dengan ruh lama. Kayak memodifikasi mobil, dengan membuat bodi baru yang keren, tapi tetap menggunakan mesin lama.

Pengajuan orang-orang kafir ini sesungguhnya hanyalah bentuk kerewelan belaka untuk merendahkan agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Tentu usulan gila macam ini ditolak oleh Tuhan karena tidak mungkin. Dunia bukan tempat keabadian. Semua makhluq hidup harus mati dan kelak harus mempertanggungjawabkan segala amal perbuatannya. Selanjutnya masing-masing akan mendapat imbalan abadi, di neraka atau di surga. Satu ruh untuk satu bodi, sehingga tidak ada yang mengulang atau reinkarnasi.

Tuhan itu Maha Pemaaf

Dalam edisi kemarin dikisahkan kerewelan orang-orang kafir untuk merendahkan agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Usulan gila mereka ditolak Tuhan karena tidak mungkin karena dunia bukan tempat keabadian. Semua makhluq hidup harus mati dan kelak harus mempertanggungjawabkan segala amal perbuatannya. Selanjutnya masing-masing akan mendapat imbalan abadi, di neraka atau di surga. Satu ruh untuk satu bodi, sehingga tidak ada yang mengulang atau reinkarnasi.

Pada ayat nomor 6, Tuhan mengingatkan, bahwa pembuktian kekuasaan Tuhan dengan cara menyiksa mereka yang durhaka ketika masih hidup di dunia itu hanya bagi umat terdahulu saja yang kini sudah berlalu. Kebijakan Tuhan terhadap umat nabi Muhammad SAW telah berganti, yakni membuka kesempatan bertobat dan memohon ampunan, lalu beriman dan beramal baik. Segala dosa masa lalu akan bersih dimapuni. Itulah makna kembali ke penciptaan baru. Baru dalam mengisi lembar amal, bukan baru dalam renovasi fisik. Cukuplah kejadian masa lalu sebagai contoh untuk diambil pelajaran, “wa qad khalat min qablihim al-matsulat”. Bagaimana Fir’uan dibenamkan di laut merah, bagaimana Qarun mati tragis ditelan bumi dst.

Begitu besar kasih Tuhan untuk umat ini, sehingga masa pertobatan diberikan sepanjang umur. Tuhan sungguh maha pemaaf, meski sezalim apapun perbuaatan manusia. Memaaf itu sifat utama bagi-Nya. Tapi jika mereka membandel dan terus durhaka, maka sikap Tuhan berubah menjadi maha penyiksa. Begitu bunyi pesan penutup ayat ini, ” wa inn Rabbak ladzu maghfirah li al-nas ‘ala dhulmihim, wa inn rabbak lasyadid al-‘iqab”. Untuk penutup ayat ini ada cerita :

Dialah Abu Hisan al-Ramady, seorang sufi pedesaan yang disegani. Suatu malam bermimpi berada di ruang aneh yang tak terbayangkan. Mata batinnya melihat nabi Muhammad SAW duduk bersimpuh di hadapan Tuhan sembari memohonkan syafaat untuk seseorang dari uamatnya. Tuhan tidak langsung mengabulkan, melainkan menohok dengan kata-kata yang sifatnya mengingatkan adanya jaminan pemaafan yang sudah difirmankan: “Tidak cukupkah ayat pada surah al-Ra’d (6) yang Kami turunkan kepadamu itu sebagai jawaban?, ” wa inn rabbak ladzu maghfirah ‘ala dzulmihim” (Ibn Katsir : II/501). Artinya, datang saja langsung kepada-Nya, Tuhan sangat terbuka, mudah dilobi dan loyal memaaf.


Artikel Terkait