Pengguna Jasa Jin Komersial Malas Baca Al-Qur’an

Shortlink:

Dengan ditutupnya berita langit sejak nabi Muhammad SAW diutus, para dukun perewangan tidak lagi sakti seperti dulu dan hanya sepuluh persen ramalannya yang kebetulan benar.

Kondisi ini membuat mereka tidak sakti lagi dan semua ucapannya hanya coba-coba, barang kali ada yang nyantol dan benar. Akibatnya, lambat laun mereka ditinggalkan oleh klien atau pengguna jasa dukun, sehingga berefek buruk pada pendapatan harian yang terus turun.

Keadaan ini tentu saja membuat mereka makin geram dan dendam, sehingga berbagai upaya dilakukan untuk mencelakai nabi, disihir dan lain-lain. Ada yang berusaha meracun Rasulullah SAW melalui makanan yang dihidangkan. Sindikat Yahudi menyuruh seorang wanita tetangga nabi memasak masakan kesukaan Nabi, lalu mengantarnya kepada beliau sebagai hadiah.

Begitu nabi menyebut asma Allah dan hendak mencicipi, tiba-tiba daging masakan terebut berkata “..inni masmus”, aku ini daging yang taburi racun ganas. Nabi menaruh kemebali daging itu ke mangkok semula, tidak marah dan tidak pula menyuruh menyelidiki siapa pelaku, siapa otak intelektual di balik percobaan pembunuhan dll. Nabi hanya menyuruh membuang daging racunan tersebut ke tempat sampah.

Begitu hebat mukjizat yang dimiliki nabi, di samping jiwa nabi yang sungguh dijaga Tuhan dari gangguan apapun, lembut, licik, keras atau kasar. Atas dasar kisah ini, maka jangan heran bila ada dukun perewangan yang biasa menggunakan jasa syetan tidak bersahabat dengan para kiai yang shalih-shalih.

Bagi mereka, kiai itu musuh dan pengganggu sandang-pangan mereka. Sebab sekuat apapun sihir, teluh, tenung, santet pasti hambar di tangan kiai yang ahli ibadah, ahli berdzikir dan ahli munajah. Jiwa yang selalu terisi oleh kalimah thayyibah, ayat-ayat al-Qur’an, dzikir, tasbih, tahmid, shalawat tidak akan tersentuh oleh tangan-tangan syetan, bahkan si syetan lari terbirit kepanasan ketika ayat-ayat al-Qur’an dibaca. Ayat-ayat al-Qur’an tidak akan bisa bersahabat dengan mantra-mantra syetan. Maka jangan heran apabila dukun-dukun hitam tidak bersahabat dengan para penghafal al-Qur’an.

Dari sini, sejatinya al-Qur’an itu bisa kita jadikan ukuran atau tanda untuk menilai apakah sebuaah padepokan, sanggar, perkumpulan wirid atau kadegdayan itu murni sebagai wirid ibadah atau menggunakan jasa jin.

Pertama, Lihat saja pelakunya, gurunya, santrinya, apakah aktif membaca al-Qur’an atau tidak. Tidak cukup dilihat isi ceramahnya, apalagi wiridnya. Pengguna jasa Jin komersial biasanya malas membaca al-Qur’an.

Kedua, pandangilah wajahnya. Adakah cahaya keshalehan memancar dari wajah mereka. Bukan karena kulit putih atau hitam, meski kulit hitam, tapi bila wajah itu aktif bertatap muka dengan mushaf al-Qur’an, jika mata itu aktif dipakai membaca huruf-huruf al-Qur’an, jika lisan itu aktif dipakai menyuarakan Kalam Tuhan, maka pasti memancarkan cahaya kesalehan. Ya, karena al-Qur’an itu cahaya yang dapat memancar melalui pembacanya. Tidak sama dengan wajah-wajah dukun perewangan, dukun pengguna jin komersial, meski pakai surban, pakai jubah putih, masih kelihatan suram dan kurang bercahaya. Untuk ini, silakan berguru kepada ahlinya.


Artikel Terkait