Memahami Pahala dan Dosa, Serta Amal yang Mengantarkannya

Shortlink:

alhijr ayat 25Alhijr Ayat nomor 25 menunjuk, bahwa Tuhan akan mengumpulkan semua ciptaan untuk diberi balasan atas amalnya masing-masing. Dalam memberi balasan ini, apa standar yang dipakai Tuhan baik pahala bagi orang yang berbuat baik maupun siksa bagi orang yang berbuat buruk?

Kaum ahlus sunnah menyerahkan sepenuhnya segala urusan pembalasan kepada Tuhan, terserah mau menggunakan standar apa. Mereka berpendapat bahwa tidak ada aturan apapun, pemikiran siapapun yang berhak mengatur-atur Tuhan. Meski bebas menggunakan cara-Nya sendiri, tapi mereka berfikir positif, bahwa Dia akan menggunakan standar ganda yang sangat menguntungkan umat manusia.

Jelasnya, bahwa untuk amal bagus, Tuhan akan memberinya lebih dari standar normal. Kelebihan yang dimaksud bisa saja lebih banyak dibanding pahala standar. Amal sedikit dilipatgandakan pahalanya hingga bisa mengantar pemiliknya bebas dari api neraka dan langsung menuju surga. Tapi tak salah bila Tuhan memberi balasan setimpal sesuai standar, orang tersebut harus menjalani hukuman neraka lebih dahulu beberapa saat. Bahkan, tak ada yang menghalangi andai Tuhan malah tidak memberi pahala sama sekali. Itulah standar “fadhal” (pemberian) namanya.

Sedangkan untuk amal-amal buruk, Tuhan lebih suka menggunakan standar keadilan. Artinya, siksaan yang diberikan maksimal sesuai standar. Misalnya sepuluh kesalahan dihukum dengan sepuluh siksa dan tidak pernah lebih. Bahkan berpotensi dimaafkan dan bebas tanpa hukuman apa-apa. Demikian itu meski dinggap tidak adil menurut menusia, tapi wajar-wajar saja menurut referensi Tuhan. Pengampuan macan itu bisa terjadi atas dasar pertimbangan dari pihak lain, seperti para kerabat atau atau orang-orang islam yang memohonkan maaf, atau tanpa pertimbangan sama sekali.

Tidak sama dengan kaum Mu’tazilah yang cenderung menggunakan standar keadilan berdasar konsekuensi akaliah. Yakni, Tuhan memang harus memberi pahala surga bagi orang yang telah berbuat bagus dan harus menyiksa di neraka bagi orang yang berbuat buruk. itulah konseskuensi keadilan yang sudah digariskan oleh Tuhan dan Dia wajib mematuhi apa yang sudah digariskan sendiri. Begitu pula besaran balasan, semuanya sesuai standar, tidak lebih dan tidak kurang.

Dengan demikian, meski Dia sebagai Tuhan, tapi tidak boleh berbuat semena-mena walau bisa. Misalnya memasukkan surga bagi orang-orang yang durhaka kepada-Nya atau memasukkan neraka bagi orang yang benar-benar betaqwa kepada-Nya. Untuk menghindari anggapan ini, maka kebijakan Tuhan perlu diatur.

Pengaturan ini bukan menggurui atau membatasi kewenangan Tuhan, melainkan berdasar pada pernyataan Tuhan sendiri yang Maha adil. Dan konsekuensi keadilan adalah sebagai mana tertutur di atas. Lagi pula, bila tidak dirumus dengan standar akaliah, maka tidak ada kepastian atas pahala dan dosa dan itu buruk akibatnya bagi syari’ah yang sudah ditetapkan.

Cerita populer tentang seorang pelacur yang katanya masuk surga karena ikhlas memberi minum anjing yang sedang kehausan berat. Anjing itu menjilat-jilat tanah basah sehingga membuat si pelacur tersentuh dan peduli. Dia ambil ikat jarik dan menjulurkan ke dalam sumur hingga basah. Ikat kain diperas dan anjing itu meminum. Dia lakukan berulang hingga anjing kenyang.

Hendaknya cerita ini diafahami sebagai perintah menyayangi sesama makhluk Tuhan yang disuguhkan dalam gaya dramatisir, meski itu anjing yang dianggap najis. Seorang manusia beriman mesti bisa membedakan antara kenajisan dengan rasa peduli dan kasih sayang bidang prikeanjingan.

Janganlah difahami secara to the point, bahwa pahala sekali memberi minum anjing kehausan cukup untuk merevisi dosa-dosa melacur bertahun-tahun. Bisa-bisa banyak yang melacur sepuasnya, nanti tinggal nyari anjing kehausan dan beres.


Artikel Terkait