Manusia, seperti Tumbuh-tumbuhan

Shortlink:

arra`du ayat 4Terjemah al-Ra’d: 4

Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon korma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.

Tafsir

Ayat sebelumnya membicarakan jawaban terhadap orang-orang kafir yang menyoal eksistensi al-qur’an, lalu Tuhan menegaskan bahwa al-qur’an adalah firman-Nya dan bukan kreasi Muhammad SAW. Untuk memperkuat kawaban-Nya, Tuhan menunjukkan kekuasan-Nya menciptakan langit, bumi, buah-buahan dan pergantian waktu, malam dan siang.

Ayat ini mengajak umat manusia melihat makin dekat bukti kebesaran Tuhan yang lain, yakni ada kebon buah yang di perkampungan atau dekat dengan perkampungan (mutajawirat) dan ada yang jauh (ghair mutajawirat). Di samping itu, ditunjuk pula jenis tetumbuhan : a’nab (anggur) sebagai sampel tetumbuhan yang merambat, menjalar, zar’, tanaman yang sekali panen dan mati, seperti padi, gandum, jagung dll., dan nakhil (kurma), mewakili tanaman berbatang kokoh dan berbuah dengan hasil panen berkali-kali.

Tidak sekedar menjelaskan jenis tanaman, melainkan dijelaskan juga sifat buahnya. Ada yang menggerombol (shinwan) seperti anggur, kurma, kelapa dan ada yang berpencar (ghair shinwan) seperi apel, juwet, keres, ciplu-an dll. Dan setelah itu, Tuhan kini hadir dengan statemen yang cukup menohok akal untuk berfikir, ”semua itu disirami dengan air yang sama”. (yusqa bi ma’ wahid). Belum sempat manusia berfikir lebih jauh, “kok bisa ya?”, Tuhan menambah dengan keajaiban berikutnya, “ternyata rasa dan khasiat masing-masing buah berbeda antara yang satu dengan yang lain”, (wa nufadl-dlil ba’dlaha ‘ala ba’dl fi al-ukul). Apa maunya Tuhan dengan paparan ini?

Setiap Orang Miliki Kelebihan Sendiri

Dalam edisi kemarin diuraikan tidak sekedar menjelaskan jenis tanaman. Melainkan dijelaskan juga sifat buahnya. Ada yang menggerombol (shinwan) seperti anggur, kurma, kelapa dan ada yang berpencar (ghair shinwan) seperi apel, juwet, keres, ciplu-an dll. Dan setelah itu, Tuhan kini hadir dengan statemen yang cukup menohok akal untuk berfikir, ”semua itu disirami dengan air yang sama”. (yusqa bi ma’ wahid). Belum sempat manusia berfikir lebih jauh, “kok bisa ya?”, Tuhan menambah dengan keajaiban berikutnya, “ternyata rasa dan khasiat masing-masing buah berbeda antara yang satu dengan yang lain”, (wa nufadl-dlil ba’dlaha ‘ala ba’dl fi al-ukul). Apa maunya Tuhan dengan paparan ini?

Pertama, menunjuk kemahakuasaan Tuhan yang tak terhingga.

Kedua, begitu pulalah manusia, meski lahir dari orang tua yang sama, tetapi prilaku dan perwatakannya berbeda. Sama-sama dari ayah Adam A.S. dan ibu Hawwa’ prilaku anak cucunya tak sama. Ada yang kafir dan ada yang beriman. Yang kafir, yang buruk akhlaqnya, yang durhaka diharap segera sadar dan kembali ke fitrah asalnya, fitrah kenabian, Adam A.S.

Ketiga, bahwa masing-masing orang punya kelebihan sendiri-sendiri termasuk juga punya kekurangan. Kelebihan wajib dikembangkan dan kekurangan segera disempurnakan.

Hilwa, Menemukan Tuhan di Daun Talas

Ayat sebelumnya berbicara tentang buah beraneka ragam dan aneka rasa, padahal disirami dari air yang sama. “yusqa bi ma’ wahid”. Sama-sama manis, tapi manisnya pisang dengan manisnya mangga, durian, rambutan, semangka berbeda. Bahkan, sama-sama mangga -mislanya-, tapi beda jenisnya, beda pula rasanya. Mangga gadung tidak sama rasanya dengan manalagi, podang atau kuweni.

“wa nufadl-dlil ba’dlaha ‘ala ba’dl fi al-ukul”. Tafdlil (kelebihan) di atas tidak sebatas ada pada rasa, melainkan juga ada pada manfaat atau khasiat. Masing-masing buah punya khasiat sendiri-sendiri yang sangat barmanfaat bagi umat manusia bahkan sudah disesuaikan dengan tempat di mana buah itu tumbuh.

Misalnya ubi jalar khas Papua, ternyata berkhasiat hebat sebagai penangkal penyakit malaria yang ganas dan populer di sana. Alamnya yang menghutan adalah surga bagi nyamuk-nyamuk promotor utama penyakit ini. Pendatang baru yang tidak prima hampir bisa dipastikan terserang penyakit ini. Hebatnya, di situ ada penyakit, di situ pula Tuhan sediakan obatnya. Bahkan di dalam satu buah, terdapat kelezatan sebagi biang penyakit, tapi di dalam buah itu juga sudah tersedia penangkalnya. Hanya Tuhan yang mampu menciptkan begini.

Sasaran ayat ini tertuju kepada mereka, para penikmat buah-buahan, termasuk para petani. Madinah yang agraris cocok diberi tamsilan macam ini lalu diajak berpikir untuk menemukan Tuhan. Petani dan penikmat buah mestinya tunduk dan beriman jika mau memikirkan buah yang sedang mereka santap. Mestinya, saat kita menggigit buah dan merasakan rasa yang tidak kita inginkan, kecut, asem, pahit, maka kita tidak boleh mencibir dengan komentar miring. Misalnya, ” Hih, jeruknya kecut banget, tidak enak dst.”. Seharusnya diam dan meyadari, bahwa kita sendiri yang salah pilih. Jeruk tak pernah salah. Jeruk telah membentuk dirinya sesuai tugas yang diamanahkan Tuhan. Yaitu spesial kecut banget, pahit banget dst.

Jeruk super kecut itu sejatinya disajikan Tuhan lebih untuk obat dan bukan sebataskonsumsi. Kita sendiri yang kurang pengetahuan, sehingga tidak mengenali tanda lahiriah yang sudah ada pada bodi jeruk itu, semisal sifat kulit, warna dan postur. Silakan kecewa, tapi kepada si penjual jeruk yang menipu, bukan kepada Tuhan yang mencipta. Pada diri jeruk kecut itulah sesungguhnya Tuhan ada dan bisa ditemukan dan di situ jugalah keimanan bisa bertambah, jika kita pandai memanfaatkan.

Sore itu, si kecil Hilwa ikutan berajin-rajin merawat bunga di depan rumah menemani ibunya. Sentuh sana dan sentuh sini sambil ngedumel sendirian. “ini bagus, yang ini juga manis dan seterusnya”. Tangannya yang nakal menyentuh tanaman hias jenis Talas. Daunya lebar berwarna dasar hijau, dengan lukisan bermotif batik kombinasi yang simetris dan indah. Lalu komentar sendirian,”Gusti Allah itu kok bisa ya mewarnai begini, bagus dan tidak cepres. (Cepres, bahasa Jombang yang artinya tidak rapi, pewarnaan yang keluar dari garis sketsa. Maklum, sang cucu masih TK dan suka mewarnai, tapi sering cepres). Mudah-mudahan kita selalu bisa menghadirkan Tuhan di setiap langkah kita dan keimanan kita tidak “cepres” kemana-mana.


Artikel Terkait