Manjanya Pelacur Dolly, Seharusnya Dicambuk

Shortlink:

dolly-tolak-tutup

Arra`du Ayat 40

Terjemahan Surat Al-Ra’d : 40

“Dan jika Kami perlihatkan kepadamu sebahagian (siksa) yang Kami ancamkan kepada mereka atau Kami wafatkan kamu (hal)itu tidak penting bagimu,karena sesungguhnya tugasmu hanya menyampaikan saja, sedang Kami-lah yang menghisab amalan mereka.”

TAFSIR

Ayat sebelumnya bertutur tentang para rasul yang punya keluarga, anak dan istri seperti layaknya manusia kebanyakan. Hal itu wajar sesuai kodrat manusia, punya hasrat seksual dan kebutuhan berinteraksi sosial, sekaligus menepis keyakinan kebablasan yang menganggap sebagian nabi utusan ada muksa ke derajat ilahiyah, hingga menjadi Tuhan.

Itu salah, tak mungkin dan tidak masuk akal. Kemudian dinyatakan bahwa Tuhan berkekuasaan penuh dan menyatakan: “Apa perlu Tuhan memperlihatkan lagi kedigdayaan-Nya menghajar orang-orang kafir, toh tindakan itu sudah berkali-kali terjadi menimpa umat sebelumnya. Bahkan zaman nabi sendiri sendiri, di mana al-Qur’an masih dalam proses turun, bukti azab itu telah nyata.

Di perang Badar misalnya, tentara kafir yang jumlahnya tiga kali lipat lebih dibanding dengan jumlah tentara muslim ternyata hancur lebur dibawah kaki umat islam. Memang sangat fantastis dan tidak masuk akal, tapi itulah kenyataan yang terjadi.

Ayat ini – selanjutnya – menyatakan, bahwa bahwa tugas Rasul itu sebatas menyampaikan dan segala keputusan mutlak ada di tangan Tuhan. Mereka yang beramal baik akan dibalas dengan kebaikan dan yang berdosa pasti disiksa. “ fainnama ‘alaik al-balagh wa ‘alaina al-hisab”.

Tapi di Dolly, kompek pelacuran terbesar di Asia Tenggara itu tidak demikian. Kebijakan pemerintah yang didukung semua pemuka agama, para pendidik dan peduli moral menutup lokalisasi itu justru mendapat perlawanan dari sekelompok orang. Hal itu menyebabkan sikap pemerintah daerah melunak, santun dan memanjakan.

Bisa dibayangkan, betapa para pelacur yang sehari-hari melayani perbutan terkutuk, zina, betapa para mucikari yang bertahun-tahun telah menikmati uang jasa zina hingga banyak yang kaya raya semestinya dihukum, dicambuk atau dirajam atas dosa-dosa besarnya yang menumpuk, tapi pemerintah daerah justru malah mengelus-elus dan memberi pesangon. Enak bener.

Aneh, yang bekerja resmi dan halal serta melengkapi diri dengan sekian syarat, jika di-PHK kadang susah mendapatkan uang pesangon.

Pelacur-pelacur sama sekali bukan korban ekonomi, sebab banyak perempuan yang lebih butuh uang dan lebih miskin ketimbang mereka, tetapi bisa hidup layak tanpa melacur.

Pelacur adalah korban dari nafsu syetan yang sengaja dikobar-kobarkan dalam diri sendiri.

Aneh, mengaku beragama Islam, rutin salat tapi membela mati-matian terhadap perzinaan. Kasus Dolly ini bukti sekaligus peringatan bagi ulama, kiai, ustadz bahwa keislaman sebagian penduduk negeri ini masih abal-abal.

Maka kerja dakwah yang lebih serius, esensial, mengena dan berkualitas sangat perlu ditingkatkan. Bukan dakwah guyonan dan ndagel yang merendahkan martabat keberagamaan.

China, setelah sukses menghukum mati para koruptor sehingga negeri tirai bambu itu maju dan pertumbuhan ekonominya membanggakan, juga menghukum mati para mucikari, utamanya yang mengomersilkan gadis-gadis usia sekolah sebagai pelacur. Tak ada ampun dalam hal ini.

Jika seorang pejabat ketahuan menziani cewek usia sekolah (SMA) pasti dihukum berat dan dipecat secara tidak hormat, termasuk mucikarinya, sedangkan si cewek wajib masuk rehabilitasi moral.

Mereka itu sama sekali bukan orang Islam dan secara formal tidak pula memberlakukan syariat Islam, tetapi hakikatnya sudah mengamalkan syariat Islam. Tapi di negeri ini ?

Semoga semua pihak mengerti maslahah kebijakan penutupan ini, para pelacur dan mucikari bertobat dan diberkahi rejeki halal yang melimpah.


Artikel Terkait