Lemah Iman, Muslim Enggan Tampakkan Islam

Shortlink:

arra`du ayat 36arra`du ayat 37Terjemah Surat al – Ra’d : 36-37

36. Orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepada mereka[775] bergembira dengan kitab yang diturunkan kepadamu, dan di antara golongan-golongan (Yahudi dan Nasrani) yang bersekutu, ada yang mengingkari sebahagiannya. Katakanlah “Sesungguhnya aku hanya diperintah untuk menyembah Allah dan tidak mempersekutukan sesuatupun dengan Dia. Hanya kepada-Nya aku seru (manusia) dan hanya kepada-Nya aku kembali.”

37. Dan demikianlah, Kami telah menurunkan Al Quran itu sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab[776]. Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah.

[775]. Yaitu orang-orang Yahudi yang telah masuk agama Islam seperti Abdullah bin Salam dan orang-orang Nasara yang telah memeluk agama Islam.

TAFSIR

Setelah dijanjikan surga yang begitu mewah, kini orang beriman dituntut berbangga dengan kitab suci Alquran yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW. Kala itu, orang-orang Yahudi dan Nasrani amat berbangga dengan turunnya Alquran.

Kegembiraan tersebut bukan karena Alquran diterima sebagai kitab panduan hidup bagi mereka, melainkan karena Alquran memberi pernyataan yang sifatnya mendukung dan membenarkan isi kitab mereka, baik al-Taurah maupun al-Injil. “mushaddiqa lima baih yadaih m al-Taurah wa al-Injil”.

Sejatinya, pembenaran Alquran terhadap kitab suci sebelumnya, setidaknya ada dua maksud : Pertama, untuk mempertegas status. Bahwa Alquran adalah benar-benar kitab suci yang stutusnya sama dengan kitab samawi terdahulu.

Al-Taurah diterima sebagai kitab suci bagi komunitas Yahudi waktu itu dan al-Injil juga diterima sebagai kitab suci bagi komunitas nasrani waktu itu. Namun itu semua sudah berlalu dan era sekarang adalah era nabi Muhammad SAW, sehingga kitab suci Alquran semestinya bisa diterima oleh semua lapisan. Untuk itu, keimanan terhadap kitab suci menurut islam yaitu dimani semua, tidak cukup hanya beriman kepada Alquran saja.

Kedua, menjaga keaslian pesan. Bahwa pesan-pesan origianl dalam kitab suci terdahulu, al-Taurah dan al-Injil sama dengan yang dipesankan dalam Alquran. Mengajarkan bertauhid, hanya menyembah Allah SWT saja, beriman kepada nabi sesuai zamannya, berlaku jujur, adil, manusiawi, bersih, beramal sosial dll.

Tujuan pembenaran ini untuk melindungi keaslian pesan dua kitab tersebut dari tindakan penyelewengan, pemutarbalikan pesan, penyembunyian dan pemalsuan yang dilakukan oleh tangan-tangan kotor yang tidak bertanggung jawab.

Para pemalsu tersebut tidak lain hanyalah para pendeta mereka sendiri. Hal itu mengingat kitab suci tersebut sangat tertutup dan lazimnya hanya dikuasai oleh mereka saja, sementara umat tidak memilikinya.

Keadaan demikian menyulitkan siapapun untuk mengontrol keaslian teks suci apalagi membandingkan, sehingga pemalsuan amat mudah dilakukan sesuai kepentingan. Bukti soal penyimpangan ini amat banyak, seperti ketuhanan Isa al-Masih, di mana tidak satupun kitab suci ada menyatakan demikian, bahkan diri Isa A.S. anak Maryam sendiri sama sekali tak pernah menyatakan dirinya sebagai Tuhan.

Sisi syari’ah, termasuk peniadaan hukuman potong tangan bagi pencuri atau hukuman fisik bagi pelaku zina. Tidak sama dengan Alquran yang seluruh ayatnya diturunkan secara terbuka dan sejak awal dihafal dan dicacat oleh publik. Keterbukaan Alquranuntuk dibaca dan kesediaannya dikoreksi setiap saat oleh siapa saja. Itulah maka kitab suci itu menamakan dirinya sebagai Alquran, bacaan universal.

Lalu, ayat ini memerintahkan kita berbangga dengan kitab suci kita sendiri, Alquran al-Karim. Firman Tuhan yang bisa dibaca di mana saja dan bisa dipertunjukkan kapan saja. Alquran telah mampu mempertahankan dirinya sendiri, bahkan sangat sakti menghadapi para musuh yang hendak menjatuhkan dari sisi manapun. Bahkan menantang agar membuat seperti dirinya, boleh hanya satu surat saja, kalau memang bisa.

Dan nyatanya, hingga sekarang tidak ada yang mampu. Kitab suci lain, tidak ada yang berani terbuka dan menantang seperti ini. Ya, karena pasti terjawab dan gugur.

Untuk itu, seorang muslim yang tidak bangga dengan keislamannya, masih enggan menunjukkan dirinya sebagai seorang muslim, termasuk enggan menutup aurat, padahal itu nyata-nyata syari’ah agama, maka muslimah macam ini pasti masih lemah imannya.

Nafsunya ingin tampil setengah terbuka – dengan dalih lebih trendi, modern, lebih seksi – jauh lebih kuat ketimbang kepatuhannya terhadap perintah agama yang dianutnya. Orang Islam macam begini wajib dibina dan bukan dibinasakan.


Artikel Terkait