Fuad Amin, Kiai Yang Disayang Tuhan

Shortlink:

Ayat studi kemarin menunjukkan bahwa dukun-dukun kecewa karena syetan tidak lagi memasok berita langit yang akurat. Hal itu karena seluruh akses menuju langit telah diblokir dan dipasangi peluru penghancur, manakala syetan mencoba menerobos. Tapi, kenapa masih ada dukun yang berhasil menyihir seseorang, bahkan bisa jadi seorang ustadz terkena santet, padahal dia terbiasa berdzikir, biasa wiridan.

Jawabannya, ustadz, kiai juga manusia, menyandang sifat lemah dan apes. Kadang Tuhan ingin menguji, sejauh mana ketabahan dan ketaqwaan hamba-Nya. Ketika itu, Tuhan membuatnya lupa atau kurang enak badan, sehingga malam itu tidak berdzikir, tidak berwirid. Saat diri sedang kosong tanpa perlindungan, saat jiwa tertidur lelap tanpa dipagari, saat itu pula sihir datang dan menyerang. Jadinya, kena deh.

Katanya, Fuad Amin sangat sakti, keturunan kiai ternama, mantan bupati Bangkalan yang juga ketua DPRD, tapi tertangkap juga oleh KPK dengan tuduhan menerima gratifikasi, dll. Uang yang ditahan sebagai barang bukti sangat banyak hingga butuh berhari-hari untuk menghitung secara manual. Katanya, kiai ini juga hebat banget, meski terang-terangan mengaku ijazahnya palsu, tapi tidak satupun pihak yang berwajib berani mengusik. KPU setempat, Bawaslu, Polisi, kejaksaan, pengadilan tak berkutik di hadapannya. Terserah maunya apa, mau suara berapa, mau menjadikan siapa.

Kini, di hadapan hukum, dia menjadi pesakitan dan rendah. Apa pandangan tafsir aktual?

Pertama, melalui tangan KPK, Tuhan mencurahkan kasih sayang kepadanya. Tuhan menghentikan perbuatannya yang super zalim yang sudah dilakukan sangat lama. Tuhan tidak mau dia terus menerus terjerumus dalam keburukan. Dengan penangkapan ini,peluang kiai Fuad menjadi orang shalih di masa datang sangat terbuka. Mudah-mudahan demikian, karena biasanya anak kiai itu mudah disadarkan, meski lama menjadi bajingan. Yakinlah, bahwa sebelumnya sudah sering diingatkan Tuhan, entah dengan cara apa, namun dia tidak menggubris. Tuhan tak pernah menzalimi hamba-Nya.

Kedua, inilah bukti, bahwa keburukan itu bisa timbul karena jubah, sorban, mahkota yang disandangnya. Nasab yang elite, pangkat yang tinggi, uang yang banyak, kekuasaan yang menggurita adalah pemberian Tuhan. Terserah mau digunakan apa. Sayang, kiai Fuad lebih banyak menggunakannya untuk menzalimi orang banyak, sehingga doa orang banyak yang pernah dizalimi kini benar-benar didengar Tuhan. Ini bukti kebenaran sabda Nabi, Nabi tak pernah berkata bohong.

Ketiga, Irhamu tsalatsah min al-nas, sayangilah tiga golongan manusia. Salah satunya adalah “‘aziz dzalla”. Pejabat tinggi yang jatuh dan hina. Begitu pesan agama. Dibolehkan lawan politik bersorak gembira atas tertangkapnya Fuad Amin, dibolehkan orang-orang yang dizalimi puas dan lega, tapi kegembiraan itu harus tetap beretika. Tidak boleh dirayakan dalam pesta seremonial, apalagi syukuran dll. Contohlah nabi, meski beliau menang bertempur melawan orang-orang kafir, tapi tidak pernah mengadakan syukuran menyembelih sapi dan berpesta-pora. Usai perang Badar, justru menasehati: “selesai dari perang kecil ini, kita menghadapi perang besar, yaitu perang melawan hawa nafsu kita masing-masing”.

Apalagi sekedar persaingan politik sesama muslim. Seorang muslim tetap dituntut berprilaku islami dalam hal apa saja,termasuk dalam berpolitik. Kiai, semestinya mengerti ini. Syariat islam memberi tuntunan yang amat manusiawi terhadap orang-orang yang sedang menerima ujian dari Tuhan.

Masing-masing kita adalah manusia yang sangat berpotensi berbuat kesalahan. Janganlah mencaci-maki sesama muslim yang melakukan perbuatan tercela, karena bisa jadi si pemaki di kemudian hari melakukan hal yang sama. Tidak ada jaminan bagi orang yang hari ini nampak sangat shalih bisa tetap shalih hingga akhir hayatnya. Tidak pula ada kepastian, bahwa orang yang hari ini terkutuk sebagai sangat buruk, lalu di akhir hayatnya mesti buruk. Hidayah itu mutlak di tangan Tuhan. Tuhan berhak memberikan kepada siapa saja dan berhak pula mencabutnya dari siapa saja. Mudah-mudahan Allah SWT selalu mengampuni kita.


Artikel Terkait