Benarkah Hukuman Mati Tidak Ada Dalam Islam Seperti Celoteh Gus Nuril?

Shortlink:

nuril kyai gereja

Berikut Perkataan Tokoh JIL Yang Baru-Baru Ini Membuat Malu Kami Di NU.

Gus Nuril: Dalam ajaran Islam tidak ada hukuman mati!

Saat ini ada 11 orang yang sedang menanti hukuman mati di Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Nusakambangan. Dalam waktu dekat, mereka rencananya akan dieksekusi.

Tokoh Nahdlatul Ulama (NU) KH Nuril Arifin atau yang akrab disapa Gus Nuril menilai pemerintah telah keliru. Dalam Islam sesungguhnya tidak dianjurkan untuk menghukum mati seseorang.

“Dalam ajaran Islam, tidak ada hukuman mati, dan tidak ada tradisi Islam membunuh. Kalau memberikan hukuman mati adalah Arab Saudi. Islam harus berbeda dengan Arab Saudi,” kata Gus Nuril dalam sebuah diskusi yang bertemakan ‘Meninjau Ulang Hukuman Mati Dalam Tradisi Islam, Hak Asasi Manusia dan Fair Trial’ di Resto Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (22/4).

“Maka Islam bagi saya Islam tidak mentolerir hukuman mati, tidak ada Islam menganjurkan hukuman mati, karena kekuasan Allah didahului oleh kasih, kemudian di bawahnya diteruskan oleh Rasulullah adalah cinta,” jelasnya.

Dirinya meminta kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk tidak lagi memberlakukan hukuman mati di Indonesia. Sebab, jika mantan gubernur DKI Jakarta tersebut membiarkan hukuman mati sama saja tidak mengerti ajaran Islam. (merdeka.com)

betulkah yang dikatakan Nuril ini? berikut kami kutipkan HASIL KEPUTUSAN MUKTAMAR NAHDLATUL ULAMA KE-XXXI

Dasar Pengambilan Hukum Mati

Al-Qur’an
“Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkan mereka di tempat tidur, dan pukul mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (Q.S. al-Nisa’: 34)

1. I’anah al-Thalibin [1]

( ﻓَﺼْﻞٌ ﻓِﻲ ﺍﻟﺘَّﻌْﺰِﻳْﺮِ ) ﺃَﻱْ ﻓِﻲ ﺑَﻴَﺎﻥِ ﻣُﻮْﺟِﺒِﻪِ ﻭَﻣَﺎ ﻳَﺤْﺼُﻞُ
ﺑِﻪِ ﻭَﺍﻟﺘَّﻌْﺰِﻳْﺮُ ﻟُﻐَﺔً ﺍﻟﺘَّﺄْﺩِﻳْﺐُ ﻭَﺷَﺮْﻋًﺎ ﺗَﺄْﺩِﻳْﺐٌ ﻋَﻠَﻰ ﺫَﻧْﺐٍ ﻻَ
ﺣَﺪَّ ﻓِﻴْﻪِ ﻭَﻻَ ﻛَﻔَّﺎﺭَﺓَ ﻛَﻤَﺎ ﻳُﺆْﺧَﺬُ ﻣِﻦْ ﻛَﻼَﻣِﻪِ ﻭَﺍْﻷَﺻْﻞُ ﻓِﻴْﻪِ
ﻗَﺒْﻞَ ﺍْﻹِﺟْﻤَﺎﻉِ ﺁﻳَﺔُ ( ﻭَﺍﻟَّﺘِﻰ ﺗَﺨَﺎﻓُﻮْﻥَ ﻧُﺸُﻮْﺯَﻫُﻦَّ … ﺍﻵﻳَﺔَ )
ﻓَﺄَﺑَﺎﺡَ ﺍﻟﻀَّﺮْﺏَ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟْﻤُﺨَﺎﻟَﻔَﺔِ ﻓَﻜَﺎﻥَ ﻓِﻴْﻪِ ﺗَﻨْﺒِﻴْﻪٌ ﻋَﻠَﻰ
ﺍﻟﺘَّﻌْﺰِﻳْﺮِ

(Pasal tentang ta’zir ).
(Dalam ayat ini) Allah Swt. membolehkan memukul ketika terjadi pelanggaran. Ketentuan ini berfungsi sebagai petunjuk untuk diberlakukannya hukuman ta’zir .

“Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri. Yang demikian itu suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar. (QS. Al- Maidah: 33)

Al-Sunnah


حدثنا أبو نعيم حدثنا أبو العميس عن إياس بن سلمة بن الأكوع عن أبيه قال أتى النبي صلى الله عليه وسلم عين من المشركين وهو في سفر فجلس عند أصحابه يتحدث ثم انفتل فقال النبي صلى الله عليه وسلم اطلبوه واقتلوه فقتله فنفله سلبه
(ﺭَﻭَﺍﻩُ ﺍﻟْﺒُﺨَﺎﺭِﻱُّ)

Abu Nu’aim telah menceritakan kepada kami, (ia berkata) Abul ‘Umais telah menceritakan kepada kami, (ia) dari Iyas bin Salamah bin Al-Akwa’ dari ayahnya: Ia berkata, Nabi Saw. bersabda: Seorang tokoh kaum musyrikin mendatangi Nabi Saw. ketika beliau sedang dalam suatu perjalanan, orang tersebut mendekati para sahabat dan melakukan hasutan, lalu pergi. Maka Nabi Saw. bersabda: “Carilah orang tadi dan bunuhlah.” Maka iapun dibunuh dan hartanya dijadikan pampasan perang . (HR. Bukhari)

1. Tabshirah al-Hukkam fi Ushul al-Aqdhiyat wa Manahij al-Ahkam [2]

” ” فصل والتعزير لا يختص بفعل معين ولا قول معين ، فقد عزر رسول الله صلى الله عليه وسلم بالهجر ، وذلك في عقد الثلاثة الذين ذكرهم الله تعالى في القرآن الكريم فهجروا خمسين يوما لا يكلمهم أحد ، وقضيتهم مشهورة في الصحاح ، وعزر رسول الله صلى الله عليه وسلم بالنفي ، فأمر بإخراج المخنثين من المدينة ونفيهم

link kitab

(Pasal) Dan ta’zir tidak terbatas dengan tindakan dan ucapan tertentu, karena sungguh Rasulullah Saw. pernah menta’zir dengan cara mendiamkan (tidak mengajak bicara). Hal itu berlaku bagi tiga orang sahabat yang disebut Allah dalam al-Qur’an al-Karim, mereka didiamkan selama 50 hari tanpa ada seorang pun yang mengajak berbicara. Kisah mereka itu masyhur dalam hadits-hadits shahih. Rasulullah Saw. pernah men ta’zir dengan cara mengasingkan, maka beliau Saw. memerintak mengeluarkan kaum waria dari Madinah dan mengasingkannya.

Atsar Shahabat
1. Al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah [3]

ﻭَﻗَﺪْ ﻋَﺰَّﺭَ ﻛُﺒَّﺎﺭُ ﺃَﺻْﺤَﺎﺑِﻪِ r ﻣِﻦْ ﺑَﻌْﺪِﻩِ ﺑِﺎﻟﻀَّﺮْﺏِ ﻭَﺍﻟﺴِّﺠْﻦِ
ﻭَﺍﻟْﻘَﺘْﻞِ، ﻓَﻘَﺪْ ﺛَﺒَﺖَ ﺃَﻥَّ ﻋُﻤَﺮَ t ﺟَﻤَﻊَ ﻛُﺒَّﺎﺭَ ﻋُﻠَﻤَﺎﺀِ ﺍﻟﺼَّﺤَﺎﺑَﺔِ
ﺭِﺿْﻮَﺍﻥُ ﺍﻟﻠﻪِ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﻭَﺍﺳْﺘَﺸَﺎﺭَﻫُﻢْ ﻓِﻲْ ﻋُﻘُﻮْﺑَﺔِ ﺍﻟﻼَّﺋِﻂِ
ﻓَﺄَﻓْﺘَﻮْﺍ ﺑِﺈِﻋْﺪَﺍﻣِﻪِ ﺣَﺮْﻗًﺎ، ﻭَﻫَﺬَﺍ ﻣِﻦْ ﺃَﺷَﺪِّ ﻣَﺎ ﻳُﺘَﺼَﻮَّﺭُ ﻓِﻲْ
ﺑَﺎﺏِ ﺍﻟﺘَّﻌْﺰِﻳْﺮِ، ﻭَﺛَﺒَﺖَ ﺃَﻥَّ ﻋَﻠِﻴًّﺎ ﻭَﺟَﺪَ ﺭَﺟُﻼً ﻣَﻊَ ﺍﻣْﺮَﺃَﺓٍ
ﻳَﺴْﺘَﻤْﺘِﻊُ ﺑِﻬَﺎ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﺟِﻤَﺎﻉٍ ﻓَﺠَﻠَّﺪَﻩُ ﻣِﺎﺋَﺔَ ﺳَﻮْﻁٍ

Sepeninggal Rasulullah Saw. para sahabat senior pernah menta’zir dengan cara memukul, memenjara dan menghukum mati. Dalam sebuah riwayat shahih disebutkan bahwa Umar ra. mengumpulkan tokoh ulama dari kalangan sahabat (semoga Allah melimpahkan keridhaan kepada mereka) dan bertukar pendapat dengan mereka tentang hukuman bagi orang yang melakukan sodomi, maka mereka menfatwakan agar diberikan hukuman mati dengan cara dibakar. Ini termasuk gambaran terdahsyat dalam masalah ta’zir . Dan riwayat shahih juga menyatakan bahwa Ali ra. mendapati seorang laki-laki sedang berduaan dengan seorang perempuan yang melakukan perbuatan mesum namun tidak sampai melakukan hubungan badan, maka Ali ra. memberikan hukuman cambuk sebanyak seratus kali.

2. Tabshirah al-Hukkam fi Ushul al-Aqdhiyat wa Manahij al-Ahkam [4]

ونذكر من ذلك بعض ما وردت به السنة مما قال ببعضه أصحابنا ، وبعضه خارج المذهب .
فمنها : أمر عمر بن الخطاب رضي الله عنه بهجر صبيغ الذي كان يسأل عن الذاريات وغيرها ، ويأمر الناس بالتفقد عن المشكلات من القرآن فضربه ضربا وجيعا ونفاه إلى البصرة أو الكوفة ، وأمر بهجره فكان لا يكلمه أحد حتى تاب ، وكتب عامل البلد إلى عمر بن الخطاب رضي الله عنه يخبره بتوبته ، فأذن للناس في كلامه .
ومنها : أن عمر رضي الله عنه حلق رأس نصر بن حجاج ونفاه من المدينة ، لما شبب النساء به في الأشعار وخشي الفتنة به

Demikian pula tindakan para sahabat sepeninggal Nabi Saw. Kami sebutkan sebagian keterangan yang terdapat haditsnya yang sebagiannya merupakan pendapat ulama kita (madzhab Maliki) dan sebagian lain merupakan pendapat di luar madzhab. Di antaranya adalah Umar ra. memerintahkan sanksi boikot berbicara kepada Dhabigh yang menanyakan al-Dzariyaat (angin yang menerbangkan debu) dan ayat lain yang semisalnya, serta menganjurkan orang lain mendalami ayat-ayat mutasyabbih al-Qur’an.
Umar ra. menjatuhinya hukuman pukulan yang menyakitkan dan mengasingkannya ke Basrah atau Kufah, serta memerintah agar memboikot berbicara dengannya, sehingga tidak ada seorang pun yang berbicara dengannya sampai ia bertobat.
Lalu penguasa daerah setempat menulis surat pada Umar ra. tentang tobatnya, lalu Umar ra. memperbolehkan orang-orang berbicara kembali dengannya. Di antaranya adalah Umar ra. pernah menggundul kepala Nashr bin Hajjaj dan mengasingkannya dari Madinah ketika ia membuat kaum wanita tergoda karena syair-syairnya dan dikhawatirkan terjadi fitnah karenanya.

Al-Ijma’
1. Al-Ijma’ [5]

ﻭَﺃَﺟْﻤَﻌُﻮْﺍ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻥَّ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞَ ﺇِﺫَﺍ ﻗَﺎﻝَ ﻟِﻠﺮَّﺟُﻞِ ﻳَﺎ ﻛَﺎﻓِﺮُ ﺃَﻭْ ﻳَﺎ
ﻧَﺼْﺮَﺍﻧِﻲُّ ﺃَﻥَّ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟﺘَّﻌْﺰِﻳْﺮُ ﻭَﻻَ ﺣَﺪَّ ﻋَﻠَﻴْﻪِ

Para ulama bersepakat, bahwa sungguh bila seseorang berkata kepada orang lain: “Hai kafir!”, atau “Hai Nasrani!”, maka ia wajib diberi ta’zir , dan tidak ada hukuman had baginya.

2. Majmu’ah al-Fatawa [6]

ﻭَﻗَﺪْ ﺃَﺟْﻤَﻊَ ﺍﻟْﻌُﻠَﻤَﺎﺀُ ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻥَّ ﺍﻟﺘَّﻌْﺰِﻳْﺮَ ﻣَﺸْﺮُﻭْﻉٌ ﻓِﻲْ ﻛُﻞِّ
ﻣَﻌْﺼِﻴَّﺔٍ ﻻَ ﺣَﺪَّ ﻓِﻴْﻬَﺎ ﻭَﻻَ ﻛَﻔَّﺎﺭَﺓَ، ﻭَﺍﻟْﻤَﻌَﺎﺻِﻲ ﻧَﻮْﻋَﺎﻥِ ﺗَﺮْﻙُ
ﻭَﺍﺟِﺐٍ ﻭَﻓِﻌْﻞُ ﻣُﺤَﺮَّﻡٍ . ﻓَﻤَﻦْ ﺗَﺮَﻙَ ﺃَﺩَﺍﺀَ ﺍﻟْﻮَﺍﺟِﺐِ ﻣَﻊَ ﺍﻟْﻘُﺪْﺭَﺓِ
ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻓَﻬُﻮَ ﻋَﺎﺹٍ ﻣُﺴْﺘَﺤِﻖٌّ ﻟِﻠْﻌُﻘُﻮْﺑَﺔِ ﻭَﺍﻟﺘَّﻌْﺰِﻳْﺮِ ﻭَﺍﻟﻠﻪُ
ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻪُ ﺃَﻋْﻠَﻢُ .

Dan sungguh para ulama telah sepakat, bahwa hukuman ta’zir itu disyariatkan pada setiap maksiat yang tidak terdapat hukuman had dan. hukuman kaffarah padanya. Maksiat ada dua macam, yaitu meninggalkan kewajiban atau melakukan keharaman. Barangsiapa tidak. melaksanakan kewajiban padahal mampu melaksanakannya, maka ia adalah orang yang bermaksiat yang berhak dihukum dan dita’zir.

Aqwal al-Ulama
1. Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh [7]

ﻭَﻣَﻦْ ﻟَﻢْ ﻳَﻨْﺪَﻓِﻊْ ﻓَﺴَﺎﺩُﻩُ ﻓِﻲ ﺍْﻷَﺭْﺽِ ﺇِﻻَّ ﺑِﺎﻟْﻘَﺘْﻞِ ﻗُﺘِﻞَ، ﻣِﺜْﻞُ
ﺍﻟْﻤُﻔَﺮِّﻕِ ﻟِﺠَﻤَﺎﻋَﺔِ ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤِﻴْﻦَ، ﻭَﺍﻟﺪَّﺍﻋِﻲ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟْﺒِﺪَﻉِ ﻓِﻲ
ﺍﻟﺪِّﻳْﻦِ، … ﻭَﺃَﻣَﺮَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ r ﺑِﻘَﺘْﻞِ ﺭَﺟُﻞٍ ﺗَﻌَﻤَّﺪَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟْﻜَﺬِﺏَ،
ﻭَﺳَﺄَﻟَﻪُ ﺩَﻳْﻠَﻢُ ﺍﻟْﺤِﻤْﻴَﺮِﻱِّ – ﻓِﻴْﻤَﺎ ﻳَﺮْﻭِﻳْﻪِ ﺃَﺣْﻤَﺪُ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻤُﺴْﻨَﺪِ
– ﻋَﻤَّﻦْ ﻟَﻢْ ﻳَﻨْﺘَﻪِ ﻋَﻦْ ﺷُﺮْﺏِ ﺍﻟْﺨَﻤْﺮِ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻤَﺮَّﺓِ ﺍﻟﺮَّﺍﺑِﻌَﺔِ،
ﻓَﻘَﺎﻝَ : ﻓَﺈِﻥْ ﻟَﻢْ ﻳَﺘْﺮُﻛُﻮْﻩُ ﻓَﺎﻗْﺘُﻠُﻮْﻫُﻢْ . ﻭَﺍﻟْﺨُﻼَﺻَﺔُ: ﺃَﻧَّﻪُ ﻳَﺠُﻮْﺯُ
ﺍﻟْﻘَﺘْﻞُ ﺳِﻴَﺎﺳَﺔً ﻟِﻤُﻌْﺘَﺎﺩِﻱ ﺍْﻹِﺟْﺮَﺍﻡِ ﻭَﻣُﺪْﻣِﻨِﻲ ﺍﻟْﺨَﻤْﺮِ ﻭَﺩُﻋَﺎﺓِ
ﺍﻟْﻔَﺴَﺎﺩِ ﻭَﻣُﺠْﺮِﻣِﻲ ﺃَﻣْﻦِ ﺍﻟﺪَّﻭْﻟَﺔِ ﻭَﻧَﺤْﻮِﻫِﻢْ .

Barang siapa kejahatannya di muka bumi tidak bisa tercegah kecuali dengan hukuman mati, maka ia harus dihukum mati. Seperti pemecah belah persatuan muslimin, pengajak bid’ah agama … dan Nabi Saw. pernah memerintah hukuman mati pada seorang lelaki yang segaja berbohong, Dailam al-Himyari pernah bertanya kepada beliau Saw. – hadits riwayat Imam Ahmad dalam kitabnya al-Musnad – tentang orang yang tidak mau berhenti minum arak, pada perintah beliau Saw. yang keempat, beliau Saw. bersabda: “Jika mereka tidak meninggalkannya, maka perangilah mereka!”

Kesimpulannya: Bahwa diperbolehkan menjatuhkan hukuman mati sebagai kebijakan bagi orang-orang yang biasa melakukan tindak kriminal, para pecandu minuman keras, para pengajak tindak kejahatan, pengganggu keamanan negara dan semisalnya.

[1] Muhammad Syaththa al-Dimyati, I’anah al-Thalibin, (Beirut: Dar al-Fikr, t.th.) Jilid IV, h. 166.
[2] Ibn Farhun al-Ya’mari, Tabshirah al-Hukkam fi Ushul al-Aqdhiyat wa Manahij al-Ahkam , (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, 2001) Juz II, h. 219.
[3] Abdurrahman al-Juzairi, al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah , (Beirut: Dar al-Fikr, 1996), Jilid V, h. 249.
[4] Ibn Farhun al-Ya’mari, Tabshirah al-Hukkam fi Ushul al-Aqdhiyat wa Manahij al-Ahkam , (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, 2001) Juz II, h. 219.
[5] Ibn Mundzir, al-Ijma’ , (Qatar: Riasah al-Mahakim al-Syar’iyah wa Syuun al-Diniyah, 1987), h. 113.
[6] Ibn Taimiyah, Majmu’ah al-Fatawa , (Kairo: Dar al-Hadits, 2006), Jilid XIV, Juz XXVIII, h. 351-359.
[7] Wahbah al-Zuhaili, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh , (Damaskus: Dar al-Fikr, t. th.), Juz VII, h. 518.

Dikutip dari HASIL KEPUTUSAN MUKTAMAR NAHDLATUL ULAMA KE-XXXI

Di Asrama Haji Donohudan Boyolali Solo – Jawa Tengah, 29 Nopember – 01 Desember 2004 M / 16 – 18 Syawal 1425 H

Tentang: MASAIL Al-DINIYYAH AL-WAQI’IYYAH


Artikel Terkait