Waspada Kristenisasi Gaya Baru!

Shortlink:

 

Sejak berabad-abad lamanya, Gereja Katolik mengajarkan jika Kristen adalah satu-satunya agama yang benar. Doktrin ini kemudian dikenal sebagai “eksklusifisme”.

Namun pada tahun 1962, Gereja Vatikan meninjau kembali status dan hubungan agama-agama lain, dan mengubah paham eksklusifisme pada inklusifisme. Dengan sikap yang baru ini, Gereja melihat agama-agama lain sebagai pantulan cahaya kebenaran yang menerangi seluruh umat manusia.

Karena itulah Vatikan kemudian menganjurkan diwujudkannya dialog antar-agama. Namun, dalam dokumen Konsili Vatikan II itu ternyata ditemukan tujuan sesungguhnya dari ide dialog antar-agama ini, yakni sebagai upaya halus agar seluruh manusia menjadi ‘anak-anak Tuhan Bapak di Sorga’. Dari sini, dialog antar-agama akan membawa pada pluralisme agama, selanjutnya mengantarkan pada paham relativisme. Lalu muncullah bidah “doa bersama”, fenomena nikah antar-agama, dan akhirnya pada pindah agama.

Karena itu dari sini jelas, bahwa gebrakan Vatikan dengan merombak ideologi dasar mereka itu sesungguhnya tidak dalam rangka agar orang-orang Kristen mengakui kebenaran agama-agama lain, namun sebaliknya agar agama-agama lain mengakui kebenaran agama Kristen, dan secara perlahan-lahan para pemeluk agama lain itu, khususnya umat Islam, bisa tertarik lalu eksodus pada agama Kristen.

Di antara produk-produk yang lahir pasca Konsili Vatikan II itu adalah faham pluralisme agama, yang di dalamnya terangkum berbagai tradisi yang bertentangan dengan Islam, seperti doa bersama, nikah antar-agama, toleransi perayaan hari-hari besar agama, dan semacamnya. Mau dikatakan apa semua ini jika bukan sebagai bagian tercanggih dari modus kristenisasi? Dan, jika faktanya kini pluralisme agama telah menyeruak masuk ke sekolah-sekolah dan rumah-rumah kita, berarti tanpa di sadari kita tengah dikepung oleh usaha kristenisasi!

—————————————————————-
Kutipan Topik Utama Buletin SIDOGIRI, Edisi 95, Dzul-Qa’dah 1435 H


Artikel Terkait