Seseorang Itu Tidak Dilihat Dari Pakaiannya

Shortlink:

Oleh KH. Luthfi Bashori

Imam Syafi’i berkata dalam syairnya:

* Pada diriku terdapat (atau memiliki) beberapa helai pakaian, jika semua pakaian itu dijual dengan uang senilai satu persen, niscaya uang satu persen tadi lebih berharga dari pada semua pakaian-(ku) itu.

* Namun di balik semua helai pakaian tadi, ada suatu jiwa, jika dibandingkan dengan jiwa-jiwa manusia yang lain, niscaya jiwa-(ku) itu lebih agung dan lebih berharga.

* Keusangan sarung pedang itu tidaklah mengapa, jika mata pedangnya amat tajam, yang mana jika engkau ayunkan, maka akan dengan cepat, dapat membelah (sasaran).

* Tidaklah mengapa jika dalam hari-hariku (ada yang) selalu menghina pakaianku, namun lihatlah berapa banyak pedang yang tetap tajam sekalipun kondisi sarung pakaiannya sudah robek.

Betapa sangat tajam dan amat dalam, makna syair gubahan Imam Syafi’i tersebut di atas, yang mana beliau menggambarkan bahwa jiwa seseorang yang memiliki ilmu agama itu, jauh lebih berharga dan bermartabat dibandingkan orang-orang yang umumnya lebihb menggedepankan bentuk pakaian dan aksesoris yang menempel pada dirinya atau lebih mengutamakan penampikan dhahir semata.

Untuk mengetahui bagaimana gambaran orang yang sangat agung dan mulia dari pada kebabnyakan orang pada umumnya, sebagaimana yang disampaikan Imam Syafi’i tentang pribadi beliau sendiri, dibanding umumnya orang yang tidak mendalami ilmu agama, maka perlu kiranya mengetahui biografi singkat Imam Syafi’i.

Keistimewaan Imam Syafi`i.

Kekuatan menghafal Alquran sangat luar biasa, serta dalamnya penguasaan terhadap ayat-ayat yang memiliki makna hukum wajib maupun yang sunnah, serta kecerdasan terhadap semua disiplin ilmu yang dapat menunjang dalam memahami Alquran, seperti kedalaman bahasa Arab dengan segala macam cabangnya, kedalaman memahami Ilmu alat yang sangat menunjang untuk mendampingi istimbat (pengambilan hukum) dari Alquran, yang tidak semua orang dapat melakukannya.

Kedalaman ilmu tentang Hadits, beliau dapat membedakan antara Hadits yang shahih, hasan dan yang dha`if. Serta ketinggian ilmunya dalam bidang ushul fiqih, mursal, maushul, serta perbedaan antara lafadl yang umum dan yang khusus.

Imam Ahmad bin Hambal sebagai murid dari Imam Syafi’i berkata: Para ahli hadits yang riwayatnya diadopsi oleh Imam Abu Hanifah, maka tidak perlu kami perdebatkan. Sehingga kami bertemu dengan Imam Syafi`i, yang ternyata beliau adalah manusia yang paling memahami kitab Allah SWT dan Sunnah Rasulullah SAW bserta sangat peduli terhadap Hadits-hadits Nabi .

Imam Karabisy berkata: Imam Syafi`i adalah rahmat bagi umat Nabi Muhammad SAW. (Karabisy adalah nama seorang tokoh yang dinisbatkan pada profesi penjual pakaian, sedang nama aslinya adalah Husain bin Ali bin Yazid.)

Imam Dubaisan (namanya Abu Dubais bin Ali al-Qashbani) berkata: Kami pernah bersama Ahmad bin Hambal di Masjid Jami` yang berada di kota Baghdad, yang dibangun oleh al-Manshur, lalu kami datang menemui Karabisy, lantas kami bertanya: Bagaimana menurutmu tentang Syafi`i ? kemudian beliau menjawab: Sebagaimana apa yang kami katakan bahwa Imam Syafi’i memulai dengan Kitab (Alquran), Sunnah, serta ijma` para ulama`. Kami orang-orang terdahulu sebelumnya, tidak mengetahui apa itu ilmu Alquran dan Sunnah, sehingga kami mendengar dari Imam Syafii tentang apa itu Alquran Sunnah dan ijma`.

Humaidi berkata: Suatu ketika kami ingin mengadakan perdebatan dengan kaum rasionalis, kami tidak mengetahui bagaimana cara mengalahkannya. Kemudian Imam Syafi`i datang kepada kami, sehingga kami dapat memenangkan perdebatan itu.

Imam Ahmad bin Hambal berkata: Kami tidak pernah melihat seseorang yang lebih pandai dalam bidang fiqih yang mengambil dari sumber Alquran, dibanding pemuda Quraisy ini, beliau adalah Muhammad bin Idris Assyafi`i.


Artikel Terkait