Prof. Dr. KH. Muhammad Ali Yafie Mantan Rais ‘Aam PBNU Yang Tegas Menentang Kebathilan Meski Pelakunya Gus Dur

Shortlink:

ali-yafie

Prof. Dr.KH. Ali Yafie, ulama ahli fiqih kelahiran Donggala, Sulteng, 1 September 1924 ini adalah mantan Ketua Umum MUI yang menjabat antara 1998-2000 setelah KH. Hasan Basri wafat. Ia juga merupakan tokoh Nahdiyin yang pernah menjadi Rais ‘Aam PBNU pada tahun (1991-1992) menggantikan K.H. Achmad Siddiq yang wafat.

Saat ini, Beliau masih aktif sebagai pengasuh Pondok Pesantren Darul Dakwah Al Irsyad, Pare-Pare , Sulawesi Selatan yang didirikannya tahun 1947, serta sebagai anggota dewan penasehat untuk Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI).

Pada muktamar NU 1971 di Surabaya ia terpilih menjadi Rais Syuriyah, dan setelah pemilu diangkat menjadi anggota DPR Kemudian ia tetap menjadi anggota DPR sampai 1987 , ketika Djaelani Naro, tidak lagi memasukkannya dalam daftar calon. Sejak itu, KH. Ali Yafie mengajar di berbagai lembaga pendidikan tinggi Islam di Jakarta, dan semakin aktif di Majelis Ulama Indonesia (MUI). Pada Muktamar NU di Semarang 1979 dan Situbondo 1984 , ia terpilih kembali sehagai Rais, dan di Muktamar Krapyak 1989 sebagai wakil Rais Aam. Karena Kiai Achmad Siddiq meninggal dunia pada 1991, maka sebagai Wakil Rais Aam ia kemudian bertindak menjalankan tugas, tanggung jawab, hak dan wewenang sebagai pejabat sementara Rais Aam. Setelah terlibat konflik dengan Abdurrahman Wahid atau Gus Dur mengenai penerimaan bantuan dari Yayasan Dana Bhakti Kesejahteraan Sosial (Judi SDSB) untuk NU, Ali Yafie menarik diri dari PBNU.

TEGAS MENENTANG KEMUNGKARAN

KH. Ali Yafie merupakan tokoh yang benar-benar muak dengan Gus Dur di antaranya KH Ali Yafie, sampai dua kali mundur ketika Gus Dur memimpin.

Pertama , KH Ali Yafie mundur dari petinggi kiyai NU (struktural) ketika Gus Dur jadi ketua umum PBNU karena Gus Dur minta dana dari YDBKS yayasan yang mengelola judi nasional, SDSB yang dulunya bernama Porkas.

Kedua , KH Ali Yafie mundur dari ketua MUI (Majelis Ulama Indonesia) ketika ternyata Gus Dur naik jadi presiden.

Suatu ketika di Kantor PBNU Jakarta, terdengar kabar salah satu lembaga pendidikan NU di tuban, Jawa Timur menerima sumbangan dana dari SDSB (Sumbangan Dana Sosial Berhadiah). Umat resah, karena para ulama menghukumi SDSB haram, sama dengan judi. Kenapa lembaga NU malah menerimanya? Lebih menyedihkan lagi, setelah dirunut, ternyata aliran pencairan dana itu melalui sekjen PBNU Ghafar Rahman. Artinya PBNU mengetahui dan merestui peristiwa itu.

Tak lama kemudian Prof. KH. Mohammad Ali Yafie, salah seorang Rais Syuriah PBNU yang dikenal bersih dan tegas, menyatakan mundur dari kepengurusan. Bukti dari sikap konsistennya pada prinsip.

Pengabdian beliau di NU diawali dengan menjadi Rais Syuriah PCNU Parepare (1957). Karena saat itu NU menjadi partai politik, Kiai Ali Yafie merupakan bagian di dalamnya. Beliau terpilih sebagai anggota DPRD Parepare mewakili NU.

Sejak Muktamar ke-27 di Situbondo (1984) beliau terpilih sebagai salah satu seorang Rais Syuriah PBNU. Jabatan itu diterimanya kembali melalui Muktamar ke-28 di Krapyak (1989). Namun 2 tahun kemudian beliau mengundurkan diri dari jabatan itu karena PBNU menerima bantuan SDSB (Sumbangan Dana Sosial Berhadiah). Pengunduran diri beliau sebagai bentuk protes, karena SDSB dihukumi haram, sama dengan judi. Sejak itu namanya tenggelam di percaturan PBNU. Kiai Ali Yafie memang dikenal sangat tegas dan konsisten dalam memegang hukum. Bahkan beliau dikenal sebagai salah seorang pakar fiqh yang sangat mumpuni dalam bidangnya.

Kiai Ali Yafie merupakan salah seorang putra terbaik bangsa. Beliau telah banyak memberikan sumbangsihnya pada negara. Atas berbagai darma baktinya itu Kiai Ali Yafie telah menerima tanda penghargaan Bintang Mahaputra dan Bintang Satya Lencana Pembangunan dari Pemerintah RI.

PESAN DAN TAUSYIAH UNTUK UMAT ISLAM

Saat di hubungi wartawan belum lama ini, Cucu dari Syaikh Abdul Hafidz Bugis ini dengan tawadhu mengatakan bahwa dirinya sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, bahkan berjalan saja adalah sesuatu yang sulit baginya. Ia juga mengatakan jarang ke luar rumah lantaran dirinya saat ini sering sakit sakitan.

Namun demikian, meski raganya mulai ringkih tak menjadikannya luput untuk memperhatikan kondisi umat Islam di negeri ini. Sosok sesepuh bangsa ini pun menitipkan dua point taushiyah untuk umat Islam pada umumnya dan khususnya para tokoh Islam. Berikut ini adalah kutipan taushiyah Prof.Dr. KH. Ali Yafie.

“Pertama, saya ingin menyampaikan salam hormat saya kepada seluruh umat Islam, saya ingin mengatakan bahwa kita umat Islam yang mayoritas di Indonesia ini memang harus kita sadari bahwa kita berada di tengah- tengah tantangan yang berat. Oleh karena itu kita harus selalu berlapang dada, bertawakkal kepada Allah Subhanahu wa ta’ala , karena memang umat Islam ini dari segi populasinya mayoritas tapi dari segi potensinya minoritas, itu kenyataan. Umat Islam yang dalam posisi seperti itu tidak bisa berbuat banyak kalau keadaannya masih seperti sekarang, bercerai-berai, tidak utuh persatuannya.

Kedua, bahwa di Indonesia ini ada unsur-unsur umat Islam yang memang biasa diadu domba satu dengan yang lain, baik oleh pihak luar maupun oleh intern sendiri. Jadi sekarang di Indonesia ini mengenai masalah yang menimpa umat Islam Ahlus Sunnah terhadap Syi’ah ditambah Ahmadiyah, adalah masalah yang rumit. Lembaga-lembaga yang memimpin umat Islam seperti MUI, Muhammadiyah, NU itu diharapkan bisa menangani permasalahan itu sehingga dapat membawa umat kita ini kepada posisi yang lebih baik dari yang sekarang. Cuma itu saja pernyataan dari saya, singkat.”

Semoga taushiyah sesepuh bangsa ini bisa didengar dan dijalankan demi menuju umat Islam yang lebih baik. Aamiin

Reportase NU Garis Lurus Dari Berbagai Sumber


Artikel Terkait