PENJELASAN KH MUHAMMAD IDRUS RAMLI TENTANG AJARAN GUS DUR DAN ISTRINYA MENYIMPANG DARI NU YANG DIGARISKAN HADHROTUSSYAIKH KH HASYIM ASY’ARI DAN HUKUM MENCELA KESESATAN ORANG MATI

Shortlink:

 

Oleh NU Garis Lurus

Penyimpangan ajaran liberal gus dur sudah menyimpang sekali. Bukan seperti perbedaan antara Imam Syafi’i dan Imam Abu hanifah dalam masalah Qunut. Dan pemikiran ini diteruskan oleh istrinya Ibu Sinta.

Kemarin itu Ibu Sinta membolehkan pernikahan beda agama. menurutnya nikah beda agama lebih baik dari kumpul kebo. Padahal itu nikah boleh agama adalah tidak boleh dan bisa Murtad bila membolehkan.

setelah itu ibu Sinta juga mengharamkan poligami, padahal poligami adalah amalan paling halal. ini liberal sekali dan ajaran gus dur dan ibu Sinta sudah menyimpang dari NU yang digariskan Hadhrotus Syaikh KH Hasyim Asy’ari.

Saya terang-terangan menyampaikan penyimpanga ajaran gus dur karena disini kalangan intelektual, Kalau saya bicara tentang ini di masyarakat awam akan dimaki-maki. Selengkapnya lihat penjelasan (Video) Youtube http://www.youtube.com/watch…

HUKUM MENCELA ORANG MATI

وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – لَا تَسُبُّوا الْأَمْوَاتَ, فَإِنَّهُمْ قَدْ أَفْضَوْا إِلَى مَا قَدَّمُوا – رَوَاهُ اَلْبُخَارِيّ ُ . وَرَوَى اَلتِّرْمِذِيُّ عَنِ اَلمُغِيرَةِ نَحْوَهُ, لَكِنْ قَالَ: – فَتُؤْذُوا الْأَحْيَاءَ –

Dari Aisyah radhiyallahu anha beliau berkata: Rasulullah shollallaahu alaihi wasallam bersabda: Janganlah kalian mencela orang-orang yang sudah mati, karena telah lewat apa yang sudah mereka perbuat (HR al Bukhari). Dan diriwayatkan oleh atTirmidzi dari alMughirah radhiyallaahu anhu semisalnya, akan tetapi ada lafadz: sehingga kalian menyakiti yang masih hidup

PENJELASAN:

Nabi shollallahu alaihi wasallam memberi bimbingan adab untuk tidak mencela orang yang sudah meninggal dunia. Karena orang yang mati sudah berlalu amal perbuatannya. Nabi juga melarang mengungkit-ungkit kesalahan dari orang yang sudah mati kepada teman dekat atau karib kerabatnya karena itu menyakiti mereka yang masih hidup.

Tidak termasuk larangan ini adalah ilmu jarh wat ta’dil dalam ilmu hadits. Tidak mengapa menyebutkan keadaan perawi-perawi yang lemah, suka berdusta, dan sebagainya sebagai bentuk penjagaan terhadap syariat.

Imam an-Nawawi berkata: “Ketahuilah, bahwa ghibah (membicarakan kejelekan orang lain ketika orangnya tidak ada di tempat) dibolehkan bila dimaksudkan untuk tujuan yang benar dan disyari’atkan dimana tidak mungkin untuk ditempuh selain dengan cara itu…”. Kemudian beliau menyebutkan: “diantaranya; untuk memperingatkan kaum muslimin dari suatu kejahatan dan untuk menashihati mereka. Hal ini dapat ditempuh melalui beberapa sisi, diantaranya (seperti di dalam ilmu hadits-red); boleh men-jarh (mencacati) para periwayat dan para saksi yang dikenal sebagai al-Majrûhîn (orang-orang yang dicacati karena riwayat yang disampaikannya tidak sesuai dengan kriteria riwayat yang boleh diterima baik dari sisi individunya, seperti hafalannya lemah, dan lain sebagainya-red); maka, hal seperti ini secara ijma’ kaum Muslimin adalah dibolehkan bahkan wajib hukumnya.

Imam Nawawi rahimahullah juga berkata bahwa: Seseorang yang melakukan kefasikan (kemaksiatan) atau kebid’ahan dengan terang-terangan, seperti minum-minuman keras, merampas harta orang (memalak), mengambil pungutan liar, dan melakukan perbuatan batil lainnya. Maka boleh menyebut (membicarakan)nya karena dia melakukan kejahatan dengan terang-terangan. Adapun yang selain itu, tidak boleh kecuali ada sebab yang lain.

Dalam hadits lain disebutkan:

“Sebutlah kebaikan-kebaikan orang mati kalian dan Tahanlah dari memperbincangkan keburukannya ( HR Abu Dawud, At Tirmidzi, Dan Al Hakim)

Al Imam Al Munawi dalam Syarakh Jami’ As-shogir menjelaskan bahwa menjelaskan keburukan orang mati haram kecuali dalam kondisi darurat atau MASLAHAT UNTUK MENJAUHKAN DARI BID”AH DAN KESESATAN MAKA BOLEH. Seperti isyarah ahkbar Nabi Shollallahu’alaihibwa salllam:

بأن الثملة التى غلها مدغم تلتهب عليها نارا

Yaitu satu percikan (Ajaran sesat) yang dilakukan seseorang bisa memantik api neraka.

Imam Nawawi dalam Kitab الأذكار menyebutkan beberapa ghibah yang diperbolehkan dan beberapa penyebabnya dan menyebutkan bahwa ini SUDAH DISEPAKATI KEBOLEHANNYA. Wallahu Alam.


Artikel Terkait