Pengaruh Liberalisme dalam Kultur Pemikiran Nahdliyyin

Shortlink:

JILKH. Muhammad Idrus Ramli: Bahsul Masail Semenjak Kepemimpinan Gus Dur Dan Awal Kepemimpinan KH. Hasyim Muzadi Mulai Liberal Dan Mulai Menghalalkan Yang Telah Di Haramkan Para Kyai Sepuh

Kutipan Tulisan Berjudul “Pengaruh Liberalisme dalam Kultur Pemikiran Nahdliyyin” Buletin Sidogiri:

Terjadi perubahan yang cukup radikal dalam kultur pemikiran Nahdlatul Ulama dalam Bahtsul Masail, yang semula pada masa-masa kiai sepuh dahulu, sangat konsisten dengan al-Kutub al- Mu‘tabarah, kitab-kitab salaf yang otoritatif, sehingga tanpa malu-malu dan dengan sangat tegas para kiai sepuh mengharamkan kaum perempuan untuk sekedar menghadiri rapat- rapat yang tidak fardhu ‘ain, berpidato di depan kaum lelaki, menjadi kepala desa dan sesamanya.

Kini, sejak tahun 1997, tepatnya sejak Munas Alim Ulama di Lombok, sedikit demi sedikit, Nahdlatul Ulama melangkah dengan pasti menuju liberalisme pemikiran, dan puncaknya terjadi pada Muktamar 30 di Kediri, di mana dengan tanpa malu-malu, Muktamar Nahdlatul Ulama mengajak warga Nahdliyyin untuk mengusung ajaran kesetaraan gender dan menafsir ulang teks-teks keagamaan dengan pemikiran yang ditransfer dari Barat.

Pertanyaannya di sini adalah, mungkinkah keputusan Munas Alim Ulama di Lombok tahun 1997 dan Muktamar di Lirboyo tahun 1999 itu diluruskan, direvisi dan dikembalikan ke hasil Bahstul Masail para kiai sepuh yang konsisten dengan al-Kutub al-Mu‘tabarah? Wallâhu a‘lam.

sumber kutipan


Artikel Terkait