NU Plat Kuning

Shortlink:

Oleh KH. Luthfi Bashori

Lagi-lagi ada SMS masuk ke HP saya dari seorang teman pengurus NU aktif, yang isinya mempertanyakan tentang kebijakan PBNU pimpinan Said Aqiel Siraj (SAS) dalam masalah sikap keagamaannya, sehingga curhat via SMS ini terbaca sebagai cermin kegamangan para pengurus NU yang bersentuhan langsung dengan warga NU tingkat grass root. Hal itu terungkap pada SMS berikut:

UST. IDRUS ROMLI : Kiai, berita di NU Online, PBNU teken MoU dengan LDII, tangkal radikalisme. Maa rokyukum/Apa pendapat antum?

SAYA JAWAB : Di Jawa pos juga di muat berita itu, dan ada pengunjung Situs kami yang juga menanyakan hal serupa. Adapun respon kami sbb: Jangan kaget, sejak dulu SAS itu selalu menjalin persaudaraan dengan musuh-musuh Allah. Jadi jangan heran kalau suatu saat SAS akan membuat MoU dengan PKI, Yahudi, Nasrani, dll. Atau membuat MoU dengan Lia Eden, Syiah, Ahmadiyah atau aliran sesat lainnya seperti yang dia lakukan saat ini dengan LDII. Bahkan jika memungkinkan, barangkali juga SAS akan membuat MoU dengan Fir`aun, Qarun, Haman, Abu Lahab, Ubay bin Salul, Musailimah Alkaddzab, Abu Luklu`ah Almajusi dan Abdurrahman bin Muljam agar SAS lebih merasakan bersaudara dengan musuh-musuh Allah itu. Rupanya, semua ini dilakukan karena SAS berusaha melestarikan ajaran Gus Dur.

Tidak selang lama berlangsung dialog SMS ringan ini, ternyata ada pertanyaan masuk di kolom Curhat Pengunjung Situs Pejuang Islam:

ABU ALFARUQ : Ana mau tanya, apa sih bedanya NU GARIS LURUS, dengan NU-nya KH. Hasyim Asy`ari dan NU sekarang (besutan Gud Dur dkk?).

SAYA JAWAB : NU GARIS LURUS adalah merupakan upaya pengembalian pemahaman warga NU kepada ajaran KH. Hasyim Asy`ari yang murni Sunni Syafi`i Non SEPILIS (Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme).

Karena Gus Dur adalah Pahlawan Pluralisme, maka NU besutannya juga menjadi NU yang Sekularis, Pluralis da Liberalis.

SAS adalah `Murid Setia` Gus Dur, jadi langkah dan pemahaman SAS ini adalah terjemahan dari `keyakinan` yang dianut Gus Dur selama ini.

Pertemanan aqidah antara SAS dengan Gus Dur sudah lama terjalin, jadi ajaran SEPILIS yang keluar dari kedua orang ini juga akan mempengaruhi pemahaman orang-orang yang selalu mengekor kepada keduanya.

Lebih mudah lagi untuk diingat, jika KH. Hasyim Asy`ari konon mendirikan NU itu benar-benar murni diperuntukkan bagi warga NU untuk kepentingan pelestarian aqidah Sunni Syafi`i sebagai label resmi bagi umat Islam Indonesia.

Konon KH. Hasyim Asy`ari ibarat membelikan mobil pribadi khusus untuk kepentingan warga NU, namun sejak NU dipimpin Gus Dur, maka fungsi NU menjadi bergeser, dan siapa saja dan dari aliran mana saja diperbolehkan `masuk` dan boleh `memanfaatkan` NU asalkan ada kontribusinya.

Ibarat warga NU yang semula mempunyai mobil pribadi ber-plat hitam, lantas disuratkan oleh Gus Dur menjadi mobil ber-plat kuning (angkutan umum) yang siapa saja boleh masuk asalkan mau bayar ongkos naik.

Memang banyak juga oknum dari tokoh-tokoh NU yang pandai memanfaatkan dan menikmati status NU PLAT KUNING ini, ketimbang jika harus mengembalikan kepada satus NU PLAT HITAM yang kurang menjanjikan dari segi peluang bisnis, apalagi karena ketatnya peraturan syariat yang harus diemban oleh para pelestari NU murni ala KH. Hasyim Asy`ari.

Mudah-mudahan saja masih banyak warga NU yang sadar aqidah dan selalu berusaha kembali kepada ajaran dan pemahaman KH. Hasyim Asy`ari yang murni Sunni Syafi`i Non SEPILIS, sekalipun sangat berat dalam mengembannya.


Artikel Terkait