NU Garis Lurus Meluruskan

Shortlink:

Oleh Muhammad Saad

Kehadiran NU Garis Lurus yang dipunggawai oleh Ustadz Luthfi Bashori Alwi, putra dari Ulama sepuh NU JawaTimur KH. Bashori Alwi menjadi trending topic di Sosial Media. Hal ini terjadi karena keberadaan NU Garis Lurus telah menjadi kerikil tajam bagi oknum-oknum NU yang terserang virus SEPILIS (Sekulerisme – Pluralisme dan Liberalisme) dan Faham Syiah. Mereka (Kaum Sepilis dan Syiah) meradang, sebab kesesatan dua faham yang menjadi benalu di tubuh NU ini dibongkar oleh NU Garis Lurus.

Bukti kemarahan salah satu dari mereka yang berfaham liberal adalah sebuah tulisan di web resmi www.nu.or.id dengan judul “Meluruskan “NU GarisLurus”. Dalam tulisan itu, M. Alim Khoiri menulis: “‘Kerikil’ terbaru NU saat ini adalah munculnya fenomena “NU GarisLurus”. Ini mengesankan bahwa ternyata ada juga NU yang tidak lurus. Mirisnya, kelompok yang mengatas namakan “NU Garis Lurus” ini tak segan – segan mencaci kelompok NU lain yang tak sependapat dengan mereka. Tokoh-tokoh besar NU macam Gus Dur, Profesor Quraish Shihab dan Kang Said, artikel ini tak lepas dari serangan mereka. (M. Alim Khoiri , “Meluruskan “NU GarisLurus” – NU Onlinewww.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail.)

Penulis artikel ini juga mengatakan bahwa NU Garis Lurus adalah kelompok yang mengatas namakan NU untuk menandingi keberadaan faham – faham yang dianggap sesat. M Alim menulis “Gerakan ini, boleh jadi merupakan semacam bentuk tandingan atau perlawanan terhadap faham – faham pemikiran yang mereka anggap sesat macam pluralisme, sekularisme, liberalism atau faham “Syi’ahisme”. Menurut mereka, faham – faham tersebut tak boleh ada dalam NU, tokoh-tokoh NU yang dianggap memiliki prinsip – prinsip ‘terlarang’ itu tak layak dan tak boleh ada dalam NU”.

Dari dua pernayataan di atas, M. Alim seorang Nahdhiyin yang tampak berpemikiran liberal, sangat kelihatan emosional dan tidak ilmiah dalam merespon NU Garis Lurus. Pertama, keberadaan NU Garis Lurus mengandaikan NU struktural tidak lurus. Kedua, NU Garis Lurus adalah tandingan bagi faham – faham yang dianggap sesat yang berada di dalam tubuh NU.

Point pertama, Benarkah keberadaan NU Garis Lurus menganggap NU tidak lurus. Jika yang dimaksud adalah NU yang dicita-citakan oleh KH. Hasyim Asyari, yaitu NU yang tegas kepada aliran – aliran sesat, sebagaimana hal itu tertorehkan ketegasan beliau dalam kitab Risalah Ahlusunnah wal – Jamaah. Dimana di dalam kitab tersebut beliau mengkritik kelompok yang suka mengkafirkan, penganut Syiah Imamiyah, penganut aliran kebatinan dan pengikut aliran tasawwuf menyimpang dengan konsep manunggaling kawulo gusti (KH. Hasyim Asya’ri,”Risalah ahlusunnah wal Jamaah”, (Jombang: Maktabah al-Turats al-Islamy), hal. 09). Maka NU garis lurus tidak akan ada keberadaanya.

Namun pada kenyataanya, tubuh NU mulai sakit, penyakit dari oknum – oknumnya mulai menggerogoti (“As`ad: Indonesia Sedang Alami Liberalisasi”, http://www.nu.or.id/). Bahkan kepemimpinan NU dipegang oleh oknum yang ternjangkit virus paham Syiah sekaligus Liberal. Hal inilah yang kemudian membangkitakan ulama – ulama NU yang masih murni aqidahnya termasuk Ustadz Luthfi Bashori mengobati NU dan membersihkan dari faham – faham yang merusak.

NU Garis Lurus sendiri menurut Ustadz Luthfi Bashori adalah untuk membedakan dengan NU yang terjangkit faham muhaddamah. Ustadz Luthfi menyatakan “Sedangkan kata GARIS LURUS adalah untuk membedakan dari warga NU (bahkan sebagian tokoh NU), yang sudah keluar dari ajaran aqidah KH. Hasyim Asy’ari sebagai pendiri NU (Luthfi Bashori Alwi, “Panduan Aswaja Garis Lurus”, hal. 1-3).

Poin kedua, keberadaan NU Garis Lurus bukan untuk menandingi faham – faham yang dianggap sesat yang menjadi benalu di tubuh NU. Justru keberadaan NU Garis Lurus sebagaimana penulis sebutkan tadi, ialah, untuk meneruskan misi KH. Hasyim Asy’ari membersihkan faham – faham yang diyakini kesesatannya.

Faham – faham semisal SEPILIS dan Syiah, dalam pandangan Islam bukan faham yang diduga kesesatannya sebagaimana yang ditulis oleh M. Ali “Eksistensi Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme benar-benar telah mendekonstruksi Aqidah dan Syariah Islam serta mendegradasi akhlaq kaum muslimin. Jika sekulerisme bertujuan menghilangkan peran agama dalam kehidupan masyarakat, pluralisme ingin menyamakan semua agama memiliki kebenaran, maka liberalisme adalah memayungi kedua paham tersebut.

Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi Peneliti INSISTS mengatakan: “bahwa liberalisasi dalam dunia Islam ditandai dengan, pertama, gugatan terhadap Al-Qur’an. Kedua, pembelaan aliran sesat. Ketiga, mendahulukan akal manusia daripada Tuhan. Keempat, mendukung relativisme yang berujung pada pluralisme agama. Kelima, mempromosikan skeptisisme.” (Hamid Fahmi Zarkasyi dalam buku Misykat, (sub judul “Evil of Liberalisme”, hal. 152).

Belum lagi Syiah dengan konsep Imamahnya telah melahirkan konsep takfir kepada para Shahabat mulia Rasulullah Saw. Konsep Imamah yang berujung pada takfir Shahabat ini, berlanjut kepada pengkafiran kepada Aswaja. Sebab pembelaan Aswaja kepada keadilan para Shahabat. Hal ini yang kemudian menimbulkan chaos antar kelompok di level bawah, bahkan sampai pembantaian.

Jika hal demikian ini oleh M. Ali hanya dianggap sebuah dugaan bahwa aliran – aliran SEPILIS dan Syiah adalah sesat, maka alangkah naifnya (untuk tidak mengatakan bodoh). Ini membuktikan bahwa M. Ali menulis tanpa menggunakan referensi, bahkan cenderung menulis dengan emosional semata.

Ketika Ustadz Luthfi dikonfirmasi tentang oknum NU yang geram dengan keberadaan NU Garis Lurus, beliau menanggapi dengan santai. Murid dari Prof. Dr. Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki ini mengatakan bahwa beliau sudah terbiasa dengan hal tersebut semenjak beliau berdakwah membeberkan kesesatan aqidah non Aswaja, terlebih dalam tubuh NU yang telah terkontaminasi paham SEPILIS (Sekulerisme, Pluralisme dan Liberalisme).

Mereka sebenarnya secara amaliah dalam beribadah adalah sama dengan Nahdhiyin lainnya. Namun mereka SEPILIS dalam berwacana dan berpikir. Hal ini yang bermasalah.

Sebab pemikiran demikian adalah dekotomis, dimana akal dan hatinya berbeda dalam beraktifitas. Doktrin demikian lahir dari aliran filsafat dualisme. Orang yang demikian adalah orang yang liberal tanpa sadar, menurut Dr. Adian Husaini, mereka adalah golongan bingung. (Golbing) (Adian Husaini, “Islam Ragu-ragu” versi Rektor UIN Yogya – Hidayatullah.com).

Islam adalah agama tauhid. Islam bukan saja doktrin, tapi Islam adalah world view. Karena Islam ajaran tauhid, maka cara pandang (worldview) seorang muslim adalah tauhid. Hati, alam pikiran dan amaliyah seorang muslim selalu integral. Meminjam istilah Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi, “Seorang muslim, jika hatinya ke Makkah, maka akalnya ke Madinah, bukan ke Amerika” (Orasi Ilmiah Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi, Sinergi Membangun Peradaban Islam. http://kholilihasib.com). Wallahua’alam Bishawwab.

Penulisa adalah Alumni PP. Aqdaamul Ulama, Pandaan – Pasuruan dan Anggota Pejuang Aswaja Garis Lurus.

Sumber: PejuangIslam.com


Artikel Terkait