Mubahalah dengan Tokoh Liberal

Shortlink:

Bapak liberal Indonesia pernah menjabat presiden karena jasa poros tengah dan koalisi partai Islam. Namun bukannya menegakkan Syariat Islam sang bapak justru memancing kemarahan ummat Islam dengan membuat kebijakan -kebijakan ngawur seperti berusaha menghidupkan PKI dan menjalin hubungan diplomatik dengan Zionis Israel.

Dari pelosok pesantren Sarang Jawa Tengah, KH Muhammad Najih Maimun kala itu pun merasakan kegundahan mendalam. Beliau pun melakukan Mubahalah sangat mengajar para santri. Saat itu beliau pun mempertaruhkan nyawanya dalam berdoa demi kemaslahatan Ummat.

“Kalau memang GD benar, Maka saya mati. Namun jika saya yang benar, GD cukup akan turun dari Presiden dan tidak perlu mati.” Begitulah doa Gus Najih untuk sang bapak liberal.

Maka beliau pun meminta para santri untuk mengamiinkan doa dan serentak para santri pun mengucapkan amin.

Tak lama waktu berjalan setelah itu, GD akhirnya pun di makzulkan oleh DPR/MPR dan Gus Najih tetap sehat hingga hari ini. Alhamdulillah.

Pada penghujung tahun 2008, Sayyidil Habib Muhammad Rizieq Bin Husein Bin Syihab juga menantang GD bermubahalah karena sikapnya yang pasang badan dan ngotot membela Ahmadiyah. lihat video

GD sendiri akhirnya meninggal pada tahun 2009.

Al-Khotib Al-Baghdadiy telah meriwayatkan sebuah atsar yang sanadnya sampai kepada Ibnu Abbas -rodliyallahu’anhu-, dia berkata : “Aku sangat menyayangkan orang-orang yang membantahku dalam sebuah perkara yang telah di ijma’kan, dimana hal itu di sisi kami merupakan hal yang diwajibkan. Kemudian kami mengajak mereka (yang membantah) untuk bermubahalah, lalu kami bermubahalah hingga laknat Allah menimpa orang-orang yang mendustakan”. (Al Faqih Wal Mutafaqiih, 2/63).

Imam Al-Auza’iy mengajak sebagian ahli ilmu untuk bermula’anah (bermubahalah) di rukun (di dekat Hajar Aswad) siapa di antara kita di atas kebenaran dalam hal pengambilan dalil atas sebagian perkara-perkara yang furu’… (Lihat :Mahasinul Masa’iy Fi Manaqib Al Auza’iy, 69-72).

Amirul Mukminin fil Hadits Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqolani -rahimahullah-pernah bermubahalah dengan sebagian pengikut Ibnu Arobiy. Dan Al Hafidz juga menceritakan hal itu dalam kitab beliau Fathul Bariy (Syarah Shahih Bukhoriy)

Al Hafidz Ibnu Hajar -rahimahullah-berkata dalam mengambil manfaat kisah mubahalahnya (terhadap para pengikut Ibnu Arobiy) : “Dan kisah tersebut di dalamnya ada tuntutan syari’at untuk melakukan mubahalah terhadap orang-orang yang menyelisihi (al haq) apabila mereka tetap bersikukuh setelah disampaikan hujjah. Ibnu Abbas telah menyampaikan hal ini, juga Imam Al-Auza’iy, serta disepakati oleh para ulama. Demikian juga dari pengalaman, bahwa siapa yang ikut bermubahalah dan dia ada pada posisi kebathilan, maka tidak lewat atasnya satu tahun dari hari ketika ia ikut mubahalah (ia terkenalaknat). Hal itu didapati pada seseorang yang cenderung pada sebagian orang kafir, maka ia tidak bisa selamat (dari laknat) setelah mubahalah kecuali hanya dua bulan”. (Fathul Bariy, 8/95).

Hukum mubahalah Al-Jawaz (diperbolehkan) dan disyari’atkan ketika tampak kejelasan hujjah atas orang yang membantah, dan nampak kelas rusaknya tuduhannya. Apabila tidak mengakui dan tidak mau ikut, maka boleh mengajaknya kepada mubahalah. Wallahu Alam


Artikel Terkait