MENGOREKSI KESALAHAN FATAL GUS MUS YANG MENGANGGAP PAKAIAN BATIK ADALAH SUNNAH NABI

Shortlink:

Sudah lama kami begitu tersentak membaca tulisan pendapat seorang Kiai terkenal yang seharusnya menjadi contoh teladan kaum awam justru membuat pendapat- pendapat aneh yang menurut kami sebagai santri justru sangat menyimpang dan menyesatkan. Berikut ini kutipan dari web resmi NU tentang memakai pakaian batik yang menurut Gus Mus atau KH Mustofa Bisri adalah Sunnah Nabi Muhammad SAW:

HARI BATIK NASIONAL
Pakai Batik Berarti Ikuti Jejak Nabi

Bandung, NU Online – Saya pernah menghadiri pengajian Wakil Rais Aam PBNU KH A. Mustofa Bisri di pengajian rutin komunitas Mata Air, di Jl Mangunsarkoro, Mentang, Jakarta, Rabu 26 Oktober 2011. Pengajian yang berlangsung pukul 19.30 ini dihadiri sekitar 40 orang peserta.

Dalam pengajian itu, kiai yang akrab disapa Gus Mus itu memaparkan, dewasa ini, umat Indonesia cenderung mengenakan pakaian gaya Arab; berjubah putih, berserban, dan memelihara jenggot. Mereka menyangka, kata dia, yang demikian itu merupakan salah satu ittiba’ (mengikuti jejak) Nabi Muhammad.


“Mereka kira, pakaian yang mereka pakai itu pakaian Kanjeng Nabi. Padahal, jubah, serban, sekalian jenggotnya, itu bukan pakaian Kanjeng Nabi. Abu Jahal juga begitu, karena itu pakaian nasional (Arab),” ungkap kiai asal Rembang, Jawa Tengah ini.

Kiai kita ini menegaskan bahwa Kanjeng Nabi sangat menghormati tradisi tempat tinggalnya. Buktinya ia memakai pakaian Arab. Nabi tidak membikin pakaian sendiri untuk menunjukkan bahwa dia Rasulullah.

“Seandainya, ini seandainya, kalau Rasulullah itu lahir di Texas, mungkin pake jeans,” ujar kiai yang pelukis dan penyair ini, disambut tawa hadirin, “Makanya Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid), saya, make pakaian sini (Jawa); pake batik,” ujarnya sambil menunjuk baju yang dikenakannya: batik coklat motif bunga berbentuk limas berwarna hitam.

“Ini, ittiba’ Kangjeng Nabi. Ya begini ini, bukan pake serban, berjenggot. Itu ittiba’ Abu Jahal juga bisa. Tergantung mukanya,” tegasnya.

Gus Mus menegaskan, jadi, perbedaan antara Abu Jahal, Abu Lahab dengan Kanjeng Nabi adalah air mukanya. Kanjeng Nabi itu wajahnya tersenyum, Abu Jahal wajahnya sangar. Kalau ingin iitiba’ Kanjeng Nabi, pake serban pake jubah, wajah harus tersenyum.

Gus Mus lalu mengisahkan, pada zaman Nabi, kalau ada sahabatnya yang sumpek, mempunyai beban, ketemu Kanjeng Nabi, melihat wajahnya, hilang sumpeknya. “Sekarang ini, nggak. Pakaiannya aja yang sama. Kita nggak sumpek, nggak apa, lihat wajahnya malah sumpek,” pungkasnya.

UNESCO mengakui batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia. Tanggal 2 Oktober ditetapkan sebagai Peringatan Hari Batik Nasional melalui Penerbitan Kepres No 33, 17 November 2009. Selamat Hari Batik. (Abdullah Alawi)

KOREKSI KAMI

Ternyata pendapat Gus Mus ini juga disebarkan menantunya pendiri Jaringan Islam Liberal Ulil Abshar Abdalla yang juga menyebut “Segala hal, termasuk memakai baju batik, kalau diniati untuk menutup aurat, tentu berpahala. Berpakaian sesuai Sunnah Nabi tak berarti memakai jubah. Tapi berpakaian sesuai dengan tradisi setempat,” tegas Ulil.

Pendapat Ulil soal pakaian batik itu didasari pendapat Gus Mus dan penyair Acep Zamzam Noor. “Kata penyair Acep Zamzam Noor, memakai batik sesuai Sunnah Nabi. Karena berpakaian sesuai dengan tradisi lokal seperti yang dilakukan Nabi,” tulis @ulil.

link berita

Sebagai generasi NU, Bertahun- tahun kami mempelajari kitab- kitab Fiqh di Pesantren namun belum pernah menemukan pendapat seorang ulama dalam kitab fiqih turots yang seradikal pendapat Gus Mus dan Menantunya. Sebagai contoh perbandingan;
PENDAPAT GUS MUS TENTANG JENGGOT, SERBAN DAN BERJUBAH PUTIH

Pages: 1 2 3 4


Artikel Terkait