Membuka Kedok Tokoh-tokoh Liberal dalam Tubuh NU

Shortlink:

BERIKUT CUPLIKAN TENTANG PENYIMPANGAN PEMIKIRAN ROIS SYURIAH DARURAT NU MUSTOFA BISHRI YANG BERHASIL DIBONGKAR KH. MUHAMMAD NAJIH MAIMUN

Oleh NU Garis Lurus

Membuka Kedok Tokoh-tokoh Liberal dalam Tubuh NU

mus gus( IKHTITAM ) Peringatan demi peringatan lewat kata-kata yang kasar, pedas dan tajam dari kami tadi, bukannya kami garang, keras dan terlalu vulgar, itu semua justru belum seimbang dengan maraknya pemurtadan, pengkafiran yang mereka kampanyekan. Mereka mengaku Islam namun sepak terjangnya, politiknya, pandangan hidupnya, ucapan-ucapannya justru selalu condong dan mendukung orang kafir. Dalam kasus Ahmadiyyah contohnya, diputuskan oleh Bakor Pakem Kejaksaan agung 16 April 2008, bahwa Ahmadiyyah terbukti menyimpang dari pokok-pokok agama Islam dan direkomendasi agar menghentikan kegiatannya. Ternyata bermunculan orang-orang yang bertopeng Islam namun membela kafirin Ahmadiyyah itu. Kadang-kadang mereka juga mengutip-ngutip ayat atau mensinyalir Hadits, namun tanpa ilmu sama sekali, atau sengaja mereka membelokkan makna yang sebenarnya karena mereka punya kontrak dengan kafirin. Mereka tidak malu-malu lagi memperlihatkan dirinya membela kafirin, sehingga umat Islam yang asalnya masih samar memandangnya, sekarang sudah jelas bahwa mereka adalah gerombolan yang menjadi pembela kekufuran, Ahmadiyyah, Sekularis, Liberalis, Pluralis, Syi’i dan lain sebagainya.

Di saat MUI dengan fatwa haramnya terhadap Sekularisme, Pluralisme, dan Liberalisme pada munas VII di Jakarta, Juli 2005, muncul KH. Musthofa Bisyri, dengan suara aneh, membela kaum sepilis dan menghantam fatwa MUI. Belakangan ketika gonjang- ganjing Ahmadiyyah yang direkomendasikan Bakor Pakem Kejagung pada tanggal 16 April 2008 agar Ahmadiyyah menghentikan kegiatannya karena terbukti menyimpang dari pokok- pokok agama Islam, KH. Musthofa Bisyri pun bertandang untuk membela Ahmadiyyah.

Dalam pembelaannya, Gus Mus panggilan akrabnya menulis di sebuah koran Indo Pos, Rabu 23 April 2008 berjudul “Yang Sesat dan Yang Ngamuk”. Bila kecenderungan mereka justru membela kafirin dalam melawan Islam, maka kami khawatir mereka tergolong dalam barisan mereka. Karena Nabi Muhammad bersabda: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ) مَن تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ( “Barangsiapa menyerupai dengan suatu kaum maka dia termasuk mereka” (HR. Abu Dawud dan At-Thabrani dalam Ausath dari Hudzaifah, berderajat hasan). Keadaan orang yang membela kafirin, Yahudi, Nashrani, Musyrikin, Komunis, Sekuler, Nasionalis yang meremehkan Islam, kelompok-kelompok sesat yang keluar dari Islam, seperti Ahmadiyyah, Baha’i, Syi’ah, Lia Eden, nabi-nabi palsu yang mengaku reinkarnasi/perwujudan kembali Nabi Muhammad dari kelompok Lia Eden, gerombolan musyrikin baru dengan nama Pluralisme agama, ini bisa dibandingkan dengan orang Islam yang karena bergabung dan mendukung kepentingan dan ajaran mereka, maka mereka akan masuk neraka Jahanam bersama mereka.[47] إنَّ الَّذِيْنَ توَفَّـهُمُ المَلاَئِكَةُ ظَالِمِى اّّنْفُسِهِمْ قَالُوْا فِيْمَ كُنتُمْ قَالُوْا كُنَّا مُستَضْعَفِيْنَ فِى الاّّرْضِ قَالُوْا اّّلَمْ تَكُنْ اّّرْضُ اللهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوْا فِيْهَا فَاّْولئِكَ .) مَأْوَهُمْ جَهَنَّمُ وَسَاءَتْ مَصِيْرًا )النّساء : 97 “Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepeda mereka) malaikat bertanya: dalam keadaan bagaimana kamu ini? Mereka menjawab: adalah kami orang- orang yang tertindas di negeri (Makkah). Para malaikat berkata: bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah dibumi itu? Orang-orang itu tempatnya neraka Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruknya tempat kembali” (QS. An-Nisa’: 97) 47).

Ketika musyawarah Majlis Ulama Indonesia (MUI) yang berakhir tanggal 29 Juli 2006, menetapkan 11 fatwa di antaranya mengharamkan paham Liberalisme, Pluralisme serta paham Ahmadiyyah, sejumlah tokoh masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Madani untuk Kebebasan beragama dan berkeyakinan, seperti Gus Dur, KH. Musthofa Bisyri, Dawam Raharjo, Ulil Abshor Abdalla, Johan Efendi, pendeta Winata Sairin dan tokoh-tokoh lainnya, mendesak MUI untuk mencabut fatwa tersebut. Mereka berargumen, fatwa semacam itu sering dijadikan landasan untuk melakukan kekerasan terhadap pihak lain. Selain itu, Informasi, Penyimpangan dan Jawabannya Indonesia bukanlah negara Islam, tapi negara nasional. Jadi ukuranya juga nasional, kata Gus Dur di kantor PBNU. Langkah-langkah Gus Dur yang konyol lagi kontroversial sengaja dilakukan demi menjalankan tugas dia sebagai missionaries mengemban misi suci dari kelompok Kristen/ Katholik yang dalam hati mereka terdapat segudang kebencian terhadap Islam dalam pelbagai hal yang mensejahterakan umat Islam. Meskipun seandainya dia jadi penghuni neraka yang paling bawah yang tidak akan mungkin dikeluarkan lagi dari neraka dia tetap membela non- Islam karena dia sudah memproklamirkan diri sebagai garda terdepan laskar Yesus Kristus dan agama sesat lainnya serta aliran dan paham sesat lagi menyesatkan. Gus Dur berani memprotes Allah dan menghina Al-Quran yang statusnya adalah kalam Ilahi, mencaci-maki Rasulnya dengan mengatakan “Nabi Muhammad apa! Dia kan manusia biasa yang tidak mempunyai keistimewaan apapun”, dan mengkader manusia seperti Said Aqil, Masdar Farid Mas’udi, Ulil Abshar Abdalla dan lainnya yang asalnya adalah manusia biasa berevolusi menjadi Dajjal-dajjal pra-Dajjal sebagai agen murahan Zionis-salibis internasional guna membombardir Islam. Ini menunjukkan bahwa dia sudah menampakkan wujud asli dari penampakan Syaithan yang bukan hanya menakut-nakuti manusia, melainkan sudah merubah wujud manusia menjadi iblis-iblis meskipun dalam wujud dhohirnya berbentuk manusia. Syaithan saja tidak berani menentang Allah dengan terang-terangan lagi gamblang dan tidak berani menampakkan wujud asli terhadap manusia dalam misinya menyesatkan manusia. Sederet pernyataan kontroversial Gus Dur yang membuat umat Islam mengelus dada bahkan banyak kyai yang dulu sebagai pendukung fanatiknya, kini meninggalkan dia, karena ucapan dan tindak lakunya yang keterlaluan bahkan terkadang kufur.

Derasnya pengaruh dan desakan media masa yang mempropagandakan aneka perusakan terha-dap Islam yang dilancarkan oleh tokoh-tokoh Islam, NU yang keblinger tidak boleh dibiarkan. NU hanya dibuat alat untuk mencapai dan mewujud-kan ambisinya, sehingga NU tidak lagi sebagai Jam’iyah Diniyyah Ijtima’iyyah, (organisasi keagamaan kemasyarakatan). Jam’iyyah yang memposisikan ulama pada posisi yang istimewa, karena ulama pewaris dan mata rantai penyalur ajaran Islam yang dibawa Rasulullah . Kalau terjadi penyelewengan, kaum Nahdhiyin khususnya ulama harus bertindak, jangan biarkan Umat Islam meninggal dunia dalam keadaan dadanya kosong dari iman karena meniru apa yang pernah dilakukan pimpinannya. Ini tugas yang mulia untuk menyelamatkan umat Islam sebelum mereka meninggal dunia. Maka semasa hidupnya harus senantiasa dinasehati dan dinasehati selalu, agar jangan sampai terlena dan terbawa arus deras kekufuran, kemusyrikan dan kemaksiatan yang merajalela. NU sangat memerlukan pembenahan dan penertiban ke dalam. Untuk sampai kearah itu, diperlukan kerja keras, kesungguhan dan keikhlasan berjuang dari semua komponen NU. Untuk merubahnya, diperlukan tekad yang bulat, dari pimpinan dan kader-kader NU, bersedia berusaha dengan sekuat tenaga serta dengan program yang serius, melakukan kaderisasi yang benar dengan menjauhkan NU dari kader-kader yang pikirannya telah terkontaminasi pemikiran Barat, atau bahkan telah melakukan kontrak dengan Zionis Internasional. Kalau kaderisasi dan kristalisasi sudah berjalan, Insyaallah NU akan berangsur-angsur tampil dan mempunyai kekuatan yang bisa mendominasi dalam setiap pentas kehidupan berbangsa dan bernegara. Pesantren sebagai salah satu lembaga tertua di Indonesia dalam perjalanannya benar-benar telah menjadi kawah candradimuka bagi terciptanya kader potensial penyebar Islam di tanah air. Lebih dari itu, pesantren juga berperan besar dalam upaya meningkatkan kesejahteraan umat, dengan memberikan pelayanan kepada umat dalam berbagai kebutuhan hidupnya, baik bidang jasmani, maupun rohani, begitu juga berkaitan dengan urusan material dan spiritual, sampai pesantren mampu menjadi lembaga pelayan masyarakat. Islam sudah datang dan tersebar di Nusantara ini, sebelum penjajahan Barat datang. Bahkan perlawanan terhadap penjajah oleh suku-suku selalu mendapat dukungan dan dipelopori oleh kyai bersama santrinya. Pesantren, kyai dan para santri pada zaman dahulu merupakan satu-satunya lembaga Islam yang berfungsi sebagai pendidikan Islam, perjuangan Islam dan pelayanan masyarakat. Akhirnya, perlawanan fisik yang dilakukan oleh rakyat di daerah-daerah nusantara jatuh menjadi jajahan Belanda. Sebagaimana diisyaratkan dalam al-Quran, penjajahan menyebabkan rusaknya kehidupan. إِنَّ الْمُلُوكَ إِذَا دَخَلُوا قَرْيَةً اّّفْسَدُوهَا وَجَعَلُوا اّّعِزَّةَ اّّهْلِهَا اّّذِلَّةً “Sesungguhnya raja-raja apabila memasu-ki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina.” (QS. An-Naml: 34)

Demikianlah, ketika Barat melakukan penjajahan, penduduk di daerah-daerah nusantara mengalami penderitaan, kemunduran dan keterbelakangan dalam segala bidang kehidupan. Di samping itu, penjajahan memberikan „pengajaran‟ untuk menjauhkan sebagian kecil rakyat akan dijadikan „pendukung penjajahannya‟, baik secara politik, ekonomi, sosial dan budaya. Kesenjangan antara kaum muslimin yang umumnya bersikap “non cooperation” dengan penjajah dengan sebagian kecil pihak yang mau menerima sistem pengajaran Barat itu, menjadi bertambah lebar. Satu-satunya sistem pendidikan milik kaum muslimin hanyalah pesantren. Ketika para pemimpin Islam memikirkan dan mencari jalan keluar dari keterbelakangan, maka mereka sepakat bahwa langkah pertama adalah melalui perbaikan pendidikan. Ketika pembicaraan mengenai penilaian terhadap sistem kependidikan kepesantrenan, maka pertanyaan yang mengemuka apakah cukup mampu dipergunakan untuk „mengejar keterbelakangan‟ tersebut? Dengan pertanyaan ini ada semacam keraguan seakan pesantren dalam kondisinya pada zaman itu belum cukup mampu mengejar keterbelakangan tersebut. Melihat fenomena ini sudah seharusnya kita sampai kepada langkah kongkrit yang harus diambil untuk mengejar keterbelakangan rakyat, terutama kaum muslimin. Namun demikian ada dua pernyataan berbeda yang muncul terhadap tantangan ini. Pertama, pendirian bahwa pesantren tidak bakal mampu mengejar keterbelakangan. Terhadap pernyataan ini, maka pesantren ditinggalkan saja dan harus diadakan lembaga pendidikan baru di luar pesantren dengan menggunakan sistem dan metode “Barat”. Kedua, pendirian bahwa meskipun pesantren dalam kondisinya seperti pada zaman itu belum mampu mengejar keterbelakangan, tapi sekali-kali pesantren tidak boleh ditinggalkan. Dalam pandangan ini, pesantren ibarat rangkaian kereta api dengan sekian banyak gerbong dan sekian juta penumpang. Alangkah „dosanya‟ kita mencari kemajuan melalui jalan dengan „meninggalkan‟ sekian banyak umat dan membiarkannya dalam keadaan tetap terbelakang. Kita harus maju bersa-ma umat, betapapun sulit dan beratnya pesantren harus diperbaiki dan dibenahi dari dalam, tidak dengan meninggalkannya. Yang paling menonjol di antara pihak yang mengambil pendirian pertama adalah Muhammadiyyah yang didirikan pada tahun 1912. Mereka berhasil mendirikan sekian banyak sekolah, mulai taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi, dengan sekian ratusan murid dan mahasiswanya. Tetapi „efek sampingnya‟, mereka “berjauhan” dengan pesantren, dengan sekian juta santrinya. Para kyai pengasuh pesantren inilah pada tahun 1334 H atau 1926 M mendirikan jam‟iyyah Nahdlatul Ulama (NU), didukung para santri, baik yang masih di pesantren maupun yang sudah pulang kampung dengan segala macam kedudukannya di tengah masyarakat masih ditambah dengan anak cucunya yang lulusan fakultas eksakta sekaligus. Segala aspirasi, pendirian, wawasan, cita- cita, dan tradisi kepesantrenan dilebur jadi satu ke dalam tubuh NU, untuk dilestarikan dan dikembangkan lebih luas. Oleh karena itu, ada pemeo di kalangan NU, bahwa NU itu „pesantren besar‟. Dan pesantren adalah „NU kecil‟. Meskipun demikian, pesantren bukanlah bagian dari NU. Pesantren tetap dalam kemandiriannya masing-masing. Peran pesantren di dalam membina, mengelola dan menuntun jama’ah NU sangat besar, lebih besar daripada pengurus formal struktural. Oleh karena itu dituntut kelincahan dan kearifan pengurus struktural untuk menjamin saling pengertian dengan para kyai pengasuh pesantren, untuk terus- menerus bersama Pembina kaum Nahdliyyin melalui jalur jam’iyyah dan jama’ah. Pengurus formal jangan hanya „sowan‟ setiap kali konferensi periodik untuk mendapat restu dan dukungan saja. Jalur yang paling pas untuk mensinkronkan para pengasuh pesantren adalah jalur Syuriah. Meskipun tidak semua kyai pengasuh pesantren masuk kepengurusan Syuriah, tetapi Syuriah dapat mengundang semua kyai NU, yang pengurus maupun bukan pengurus dalam forum musyawarah NU. Jalur lain adalah RMI, yang di dalam kepengurusan NU berada di bawah koordinasi Syuriah, bukan Tanfidziyah. Pemberdayaan umat, artinya upaya membuat umat menjadi mempuyai kekuatan atau daya. Kalau umat sudah mempunyai kekuatan sendiri, maka mereka akan mampu melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi diri mereka dan dapat menolak bahaya yang dapat mengancam dan menimpa mereka sendiri. Mereka tidak selalu tergantung atau menggantungkan diri kepada pihak lain, juga tidak kepada pemimpin mereka. Pemimpin hanya dapat memberikan harapan dan umat sendiri yang akan bergerak secara mandiri.

Apakah pantas, kita yang berpredikat Kyai, pengasuh Pondok Pesantren, lembaga pencetak generasi Islam yang menggaungkan amar ma’ruf nahi munkar hanya bisa diam atau sekedar menggerutu, ingkar bil qolbi melihat kemungkaran di depan mata, menyaksikan “Sang Penasehat Pemuda Kristen Republik Indonesia” memimpin NU, organisasi sekaligus wadah perjuangan dan pelestarian paham Ahlussunnah wal Jama’ah. Apalagi mendukung kepemimpinannya sekaligus bangga dengan merebaknya Pluralisme-Liberalisme- Sekularisme di kalangan pengurus NU dan warganya? Apa jadinya NU di masa mendatang, kalau pemimpinnya saja tidak Ahlussunnah wal-Jama’ah?? Akidah jutaan warga pesantren dan Nahdliyyin terancam diberangus! Naudzubillah min Dzalik………. Ke mana ghiroh Islamiyyah kita? Di mana loyalitas kita pada Islam? pembelaan kita pada Al-Quran dan Syari’atnya, juga pada Nabi Muhammad dan para Shahabatnya? Lebih-lebih pada Allah sebagai Sang Khaliq. Bagaimana pertanggungjawaban kita sebagai pemimpin umat di hadapan Allah kelak? Atau memang loyalitas dan ghiroh Islamiyyah kita sudah tergadaikan? Atau hilang tanpa bekas dari hati seorang pemimpin umat, sebagai kiblat para santri, panutan masyarakat. Relakah kita melihat ribuan santri, jutaan masyarakat kita larut dalam kebodohan dan ketidaktahuan, taklid buta terhadap NU yang sudah mulai bergeser dari tujuan pendiriannya? Bergeser dari pakem Ahlussunnah wal Jama’ah dan ternodai namanya dengan maraknya money politic dalam Muktamar dan pemilihan-pemilihan pengurus wilayahnya? Ataukah sengaja kita korbankan mereka demi mempertahankan ketenaran dan pangkat/jabatan baik formal atau non formal? Bagaimana perasaan KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Abdul Wahhab Hasbullah rohimahumallah jika menyaksikan “NU masa kini”? Betapa terkhianatinya beliau. Bagi para kyai, ulama yang sudah masuk ataupun yang baru akan diberi amanah untuk masuk dalam struktural NU menurut kami harus diteruskan demi untuk memantau NU dari dalam, mengerem dan mempersempit gerak langkah orang-orang Liberal- Sekuler juga untuk memberikan informasi warga nahdliyin khususnya di Jawa Timur, wajib menjaga akidah Ahlussunnah wal Jama’ah dan Syariat Islam karena itulah makna dari khitthah NU 1926 yang sebenarnya, dengan menjegal dan melawan orang-orang serta program-program Salibis-Zionis-Syi’ah-Pluralis-Liberalis- Sekularis. Apa yang kami lakukan ini semata-mata bentuk dari tanggungjawab kami kepada Allah , demi tegaknya yang haq. Kami tidak terima Hukum-hukum Allah diselewengkan, direndahkan dan dimanipulasi dengan pemikiran-pemikiran sesat yang berasal dari Orientalis demi untuk memuaskan nafsu dan menuruti pesanan dari Yahudi-Zionis International. Semoga Allah menghancurkan paham-paham sesat ahlil bida’ wa al-dlolal. Mari bersatu, selamatkan akidah Ahlussunnah wal Jamaah demi menyelamatkan anak cucu kita para santri penerus perjuangan Islam. Agar kita terhindar dari adzab Allah yang berkepanjangan. Allahu Akbar, Sholallahu ‘Ala Muhammad. Sarang, 30 Rabiuts Tsani 1431 H.

Download di sini


Artikel Terkait