MEMBONGKAR LIBFORALL FOUNDATION ZIONIS BERKEDOK ISLAM INDONESIA

Shortlink:

Selain membentuk Jaringan Islam Liberal (JIL), mereka juga melakukan promosi di dunia maya. Salah satunya, mereka membuat situs www.Libforall.Com yang awalnya hanya berbahasa Inggris namun beberapa waktu lalu telah pula diluncurkan versi bahasa Indonesia. Tujuannya apa lagi jika bukan untuk memperluas cakupan “jualannya”.

Di halaman pertama kita akan disambut dengan kalimat “LibForAll Foundation adalah sebuah institusi yang berusaha mewujudkan dunia yang damai berdasarkan nilai-nilai luhur agama di bawah bimbingan dan perlindungan Yang Mulia
KH. Abdurrahman Wahid dan para ulama lain. ”

CEO LibFor All sebagaimana dikutip Associated Press C. Holland Taylor. inilah kutipan halaman depan, kalimatnya: “Pendiri-bersama LibForAll C. Holland Taylor sedang menghubungkan para pemimpin Muslim moderat dalam sebuah jaringan mercusuar di dalam dunia Islam yang akan mempromosikan toleransi dan kebebasan berpikir dan beribadah.

****

Dewan Penasehat

Kyai Haji Achmad Mustofa Bisri kerap disebut “Sang Kyai Pembelajar” – the Great Religious Scholar and Teacher – oleh para anggota organisasi Islam terbesar di dunia, Nahdlatul Ulama (NU). Sangat dihormati sebagai ulama, sastrawan, novelis, pelukis dan intelektual Muslim, “Gus Mus” sangat mempengaruhi perkembangan sosial dan politik NU selama tiga puluh tahun lebih.

Keturunan para pemimpin religius kharismatik, Gus Mus mengasuh Pondok Pesantren Raudlatuth Tholibin di Rembang, Jawa Tengah, tempat dia dilahirkan pada tahun 1944. Dia menerima pendidikan yang menyeluruh dalam kajian-kajian Islam dari ayahnya sendiri dan para sarjana Muslim terkemuka lainnya, termasuk Kyai Haji Ali Maksum yang terkenal dari Pesantren al-Munawwir Krapyak Yogyakarta – mereka semua mendorong pengembangan artistik dan pemikiran kritis para santrinya. Peran Mustofa Bisri dalam menggabungkan spiritualitas dan ekspresi artistik secara luas dikagumi di Indonesia, negara tempat dia dianggap sebagai ikon kultural. Sering disebut “Presiden Para Sastrawan,” dia diakui karena dorongannya dalam membela kebebasan artistik dan religius di depan gempuran-gempuran kaum radikal.

Lulus dari Universitas al-Azhar di Kairo, Gus Mus fasih berbahasa Arab layaknya bahasa Jawa dan Indonesia. Bersama dengan sahabatnya yang lama menjadi Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Kyai Haji Abdurrahman Wahid, dia memberi pengaruh kuat pada perkembangan masyarakat sipil dan demokrasi Indonesia. Secara pribadi menghindari ambisi politik, Gus Mus berulang kali menolak jabatan Ketua NU – baru-baru ini pada bulan November 2004 dalam Muktamar Nahdlatul Ulama yang diselenggarakan di Boyolali, Jawa Tengah. Dia, bagaimanapun, tetaplah seorang tokoh kunci dan negarawan senior dalam organisasi tersebut – salah seorang dari sekian ‘kiyai spiritual ’ yang otoritas akhlaknya membantu mengarahkan NU.

Filsafat pribadi Mustofa Bisri bisa dilihat dalam Komunitas “Mata Air” (“Living Spring”) yang dia pimpin, yang keanggotaannya terbuka bagi siapa pun yang mengakui nilai-nilai esensialnya: “Sembahlan Allah; hormati yang lebih tua; sayangi yang lebih muda; buka hatimu untuk seluruh umat manusia.” Beliau terlibat erat dengan proyek Jaringan Pluralis Akar-Rumput LibForAll.

Amin Abdullah baru-baru ini bekerja sebagai Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, untuk periode kedua. Ini adalah Universitas/Institut Agama Islam Negeri pertama dan “induk” dari semua Universitas/Institut (UIN/IAIN/STAIN) Negeri Islam, dan sekarang merupakan salah satu universitas Islam terkemuka di Indonesia, dengan sekitar 15.000 mahasiswa.

Dr. Abdullah dikenal sebagai filosof Islam yang membedakan Islam normatif dari Islam historis dan mendorong sebuah jalan baru filsafat pengetahuan Islam, jalan yang terbuka pada dialog dan integrasi dengan sumber-sumber pengetahuan yang berbeda. Diakui secara internasional karena perannya dalam mempromosikan sebuah pemahaman Islam yang modern, pluralistik, dan toleran, Dr. Abdullah juga membantu memimpin organisasi Muslim terbesar kedua, Muhammadiyah, tahun 2000-2005, ketika dia mengabdi sebagai Wakil Ketua Dewan Pengurusnya.

Lahir di Pati, Jawa Tengah pada tahun 1953, Dr. Abdullah menerima gelar Baccalaureate dari Pesantren Gontor Ponorogo; gelar Ph.D. dalam Filsafat Islam dia terima dari the Middle East Technical University di Ankara, Turki; dan melaksanakan studi pos-doktoralnya di McGill University di Toronto, Canada. Dia adalah penulis sejumlah buku, termasuk Religious Education in a Multi-Cultural and Multi-Religious Era; Between al-Ghazali and Kant: Islamic Ethical Philosophy; The Dynamism of Cultural Islam; dan Islamic Studies in Higher Education. Dia juga penulis lusinan artikel, dan sering berbicara dalam seminar-seminar internasional di Eropa, Timur Tengah, dan asia.

Menurut Dr. Abdullah, jaringan Institut dan Universitas Islam Negeri Indonesia telah lama berada di garis depan isu-isu seperti dialog antaragama dan peningkatan hubungan antara Islam dan Barat (“Kita harus menjelaskan kepada Saudi bahwa mereka salah paham tentang Barat”). Dr. Abdullah baru-baru ini terlibat dalam proses modernisasi kurikulum lembaganya, dan memperluas hubungan dengan univeritas-universitas terkemuka di dunia, sambil mempertahankan hubungannya dengan masa lalu. Nama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga digunakan untuk mengenang nama seorang Wali Muslim yang telah memastikan kemenangan Islam tasawuf dan toleran Jawa pada abad ke-16, dan dengan cara demikian telah membantu melestarikan kebebasan beragama bagi penduduk Jawa.

Azyumardi Azra merupakan salah seorang intelektual Muslim liberal asia Tenggara yang sangat menonjol. Lahir di Sumatera Barat, Indonesia pada tahun 1955, baru-baru ini Dr. Azra telah menyelesaikan dua periode jabatan (1998-2006) sebagai Rektor (Presiden) di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah yang sangat bergengsi di Jakarta. Di bawah kepemimpinannya, UIN-Jakarta telah memainkan peran penting dalam transisi Indonesia dari kekuasaan otoritarian menuju demokrasi – dengan mempromosikan sebuah pemahaman Islam yang moderat dan toleran, yang benar dalam dirinya dan sesuai dengan dunia modern. Dalam hal ini, pimpinan, fakultas, dan staf di UIN-Jakarta bekerja sebagai benteng penting melawan pengaruh ekstremisme religius yang diilhami asing.

Professor Azra lulus dari Fakultas Tarbiyah (Pendidikan Islam) di Institut Agama Islam Negeri Syarif Hidayatullah (sekarang UIN) pada tahun 1982. Dia diangkat sebagai dosen di tempatnya kuliah pada tahun 1985 dan pada tahun berikutnya berhasil mendapat Beasiswa Fulbright untuk melanjutkan studi di Columbia University, New York. Dia lulus dengan gelar MA dari the Department of Middle Eastern Languages and Cultures pada tahun 1988. Memenangkan Columbia President Fellowship, dia pindah ke the Department of History, Columbia University mengambil kajian lebih lanjut: MA (1989), MPhil (1990) dan Ph.D. dalam FIlsafat (1992).

Dia adalah Wakil Direkture Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) (the Centre for the Study of Islam and Society) di IAIN/UIN Jakarta sebelum pengangkatannya sebagai Pembantu Rektor I Bidang Akademik. Professor Azra telah menjadi visiting fellow pada Southeast Asian Studies di Oxford University’s Centre for Islamic Studies; Visiting Professor pada the University of Philippines dan University Malaya; Distinguished International Visiting Professor pada the Department of Middle Eastern Studies, New York University; anggota the Board of Trustees of International Islamic University Islamabad (2004-9); editor-in-chief, Studia Islamika, sebuah jurnal independen untuk kajian-kajian keislaman (1993-sekarang); anggota dewan editor jurnal Ushuluddin (University Malaya); dan Quranic Studies (University of London). Dia telah menyajikan banyak paper dalam konferensi internasional dan memberi kuliah di banyak universitas, termasuk Harvard, Columbia, Australian National University, Kyoto, Leiden dan lain-lain.

Dr. Azra telah menerbitkan18 buku dalam bidang keislaman dan merupakan kontributor regular pada surat kabar-surat kabar dan jurnal-jurnal Indonesia. Dia juga merupakan komentator terkemukan tentang Islam dan politik Indonesia untuk media di Indonesia dan internasional. Bukunya yang baru terbit berjudul The Origins of Islamic Reformism in Southeast Asia (University of Hawaii Press, 2004; Leiden: KITLV Press, 2004; Allen & Unwin, 2004).

“Asia Tenggara punya struktur pendidikan Islam yang luar biasa besar dan berkembang dengan sangat baik yang bisa menjadi sumber amat sangat penting dalam perang ide-ide yang tengah berlangsung dalam Islam. Institusi-institusi ini bisa diharapkan menjaga komunitas-komunitas Muslim tetap berakar dalam nilai-nilai moderat dan tolerannya, meski jelas ada gempuran-gempuran ideologi ekstremis dari Timur Tengah. Pada level global, ia bisa digunakan sebagai batu-batu dinding gerakan Muslim moderat atau liberal internasional untuk melawan pengaruh jaringan radikal Salafi.” – Angel Rabasa, menulis dalam Current Trends in Islamist Ideology, diterbitkan the Hudson Institute’s Center on Islam, Democracy and the Future of the Muslim World

Franz Magnis-Suseno, SJ lahir di Propinsi Silesia Jerman (sekarang Polandia) pada tahun 1936, dalam sebuah keluarga Katolik Roma yang taat. Setelah bebas dari horor-horor Perang Dunia II dan terusir dari Silesia, Franz Magnis muda menyelamatkan diri diri ke Jerman Barat. Dia bergabung dengan Ordo Jesuit dalam usia sembilan belas tahun, dan menerima ijazah baccalaureatenya dari the College of Philosophy di Pullach, Bavaria pada tahun 1960. Tahun berikutnya dia pindah ke Yogyakarta, pusat kultural Jawa, tempat dia diangkat sebagai pendeta Jesuit pada tahun 1967. Beberapa tahun kemudian, pendeta muda ini melepaskan kewarganegaraan Jermannya dan menjadi warga negara Indonesian, untuk mengabdikan sisa hidupnya melayani umat di negrinya yang baru.

Romo Magnis-Suseno adalah tokoh yang sangat dicintai dan amat populer di Indonesia, yang sering muncul dalam dialog-dialog antaragama dan di radio, televisi, serta media cetak, mempromosikan perdamaian dan hormat antarbeberapa agama di Indonesia. Diancam secara periodik oleh para ekstremis religius, dia hanya menanggapinya dengan lembut, cinta, dan keberanian yang terlahir dari keimanannya yang mendalam dan keyakinan religiusnya.

Seorang doktor filsafat yang lulus summa cum laude dari Ludwig-Maximilians University di Munich, Jerman (yang dia ikuti dari 1971-73), Romo Magnis-Suseno baru-baru ini adalah Direktur Studi Pascasarjana di Sekolah Tinggi FIlsafat Driyakarya di Jakarta, yang dia bantu pendiriannya dan kemudian dia pimpin selama beberapa tahun. STF Driyakarya – yang juga merupakan tempat latihan untuk para pendeta Katolik Roma – punya mahasiswa yang juga berasal dari kalangan Muslim, termasuk para anggota organisasi Nahdlatul Ulama Kyai Haji Abdurrahman Wahid, yang belajar Filsafat Eropa untuk mempertajam pemikiran kritisnya dan prinsip-prinsip keimanan saudara-saudaranya para pengikut iman Kristiani.

Romo Magnis-Suseno telah mengabdi sebagai visiting professor Universitas Indonesia; Univeristas Parahyangan Bandung; the College of Philosophy and Ludwig-Maximillians University di Munich; dan the University of Innsbruck. Dia adalah penulis lebih dari 30 buku, termasuk “Etika dan Pandangan-Dunia Jawa,” “Mencari Tujuan Rasional Kehidupan” dan “Menjadi Saksi untuk Kristus di Tengah Masyarakat yang Kompleks.”

Dr. Magnis-Suseno memegang the Distinguished Service Cross (“Das Grosse Verdienstkreuz) dari Republik Federal Jerman dan doktor honoris causa dalam bidang teologi dari the University of Lucerne, Switzerland.

Abdul Munir Mulkhan lahir di Jember Jawa Timur pada tahun 1946. Dia menerima gelar BA dari Fakultas Perbandingan Agama Institut Agama Islam Raden Intan Lampung, Sumatra, serta gelar MA dan Ph.D. dalam bidang Ilmu Politik dan Sosial dari Universias Gajah Mada yang perstisius di Yogyakarta, lulus dengan predikat cum laude pada masing-masing jenjang.

Selama beberapa tahun Dr. Munir telah menjadi anggota dewan pengurus harian Muhammadiyah, organisasi Muslim terbesar kedua di dunia dengan perkiraan anggota sebanyak 30 juta. Dia telah mengabdi sebagai Wakil Sekretaris organisasi secara penuh (2000-2005); sebagai Sekretaris Kantor untuk Organisasi dan Kader; Sekretaris Badan Interpretasi Religius; dan sebagai anggota Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Tinggi. Sejak tahun 1996 Dr. Munir telah menjadi anggota dewan editor Suara Muhammadiyah (penerbitan resmi Muhammadiyah), dan sejak 2002 telah bekerja sebagai Ketua Dewan Pengurus Pusat “Pemerintahan Yang Bersih” Muhammadiyah, dengan kewajiban utama mengeleminiasi korupsi. Lain dari itu, Dr. Munir sebelumnya bekerja sebagai Wakil Sekretaris Dewan Sarjana Religius cabang Yogyakarta.

Dr. Munir adalah anggota fakultas Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dia telah melaksanakan riset post-doktoral di McGill University di Montreal, Canada, dan bekerja sebagai Visiting Research Fellow di Nanyang Technological University’s Institute of Defense and Strategic Studies di Singapore. Baru-baru ini dia bergabung sebagai fellow LibForAll Foundation.

Dr. Munir adalah penulis 40 buku lebih dan ratusan artikel yang dipublikasikan di berbagai majalah dan surat kabar.

Nasr Hamid Abu-Zayd adalah pioner dalam bidang hermeneutika al-Qur’an – yang mengkaji al-Qur’an dari perspektif linguistik dan kontekstual untuk memahami watak, isi, dan pesan sejatinya. Dia menggabungkan semua perspektif ini dengan kajian modern pemikiran Islam, dengan mendekati wacana Islam klasik dan kontemporer secara kritis dalam bidang teologi, filsafat, hukum, politik, dan humanisme. Tujuan risetnya adalah untuk menawarkan sebuah teori hermeneutika yang akan memungkinkan Muslim membangun jembatan antara tradisi mereka sendiri dan kebebasan, kesejajaran, hak-hak asasi manusia, demokrasi, dan globalisasi dunia modern.

Lahir di Tanta, Mesir pada tahun 1943, Dr. Abu Zayd memegang gelar BA, MA dan Ph.D. dengan penghargaan tertinggi dalam bidang Bahasa Arab dan Islamic Studies dari Cairo University. Dr. Abu Zayd secara luas dianggap sebagai seorang pahlawan reformis, karena keberaniannya dalam melawan usaha-usaha kaum radikal untuk meniadakan kebebasan berpendapat di Mesir. Ancaman hukuman mati dikeluarkan oleh Ayman al-Zawahiri (Pembantu dekat Osama bin Laden) dan lainnya, Dr. Abu Zayd pindah ke Eropa bersama istrinya pada tahun 1995, dan sekarang menempati the Ibn Rushd Chair of Humanism and Islam di the University of Humanistics di Utrecht, Belanda. Dia adalah penerima the Ibn Rushd Prize tahun 2005 yang diberikan oleh the Ibn Rushd Fund for Freedom of Thought.

Dr. Abu Zayd adalah penulis 14 buku dan sejumlah besar artikel dalam bahasa ibunya, Arab. Karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda, Inggris, Prancis, Jerman, Indonesia, Italia, Persia, dan Turki.

Sukardi Rinakit menerima gelar BA. dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, Jakarta. Sedangkan gelar MA dia peroleh dalam Kajian Asia Tenggara dari the National University of Singapore, dan Ph. D. dari the Departement of Political Science di universitas yang sama. Dia adalah pendiri-bersama dan Direktur Eksekutif the Sugeng Sarjadi Syndicate (SSS), Jakarta, sebuah organisasi nirlaba yang mempromosikan demokrasi dan mendorong transformasi masyarakat sipil. Fokus risetnya mengenai area militer, terorisme, kebijakan keamanan, kultur politik, proses desentralisasi, hubungan antara agama, politik, dan masyarakat sipil, dan perlindungan hak-hak asasi manusia di Indonesia.

Dr. Sukardi adalah mantan Kepala Departemen, Institut Riset dan Pengembangan, Persatuan tenaga Kerja se-Indonesia dan mantan penulis Departemen Dalam Negeri dan Departemen Pertahanan dan Keamanan. Dia telah mempublikasikan ratusan artikel di jurnal-jurnal terkemuka dan surat kabar nasional dan dikutip secara ekstensif dalam publikasi tersebut. Dia juga menerbitkan sejumlah buku, termasuk salah satunya dalam Bahasa Inggris, berjudul Indonesian Military after the New Oeder.

Dr. Sukardi adalah sahabat dekat banyak pemimpin politik Indonesia, dan banyak tahu dinamika internal militer bangsa Indonesia.

http://www.libforall.org/indonesia/about-us-board-of-advisors.html


Artikel Terkait