MELURUSKAN SUFI LIBERAL

Shortlink:

Oleh NU Garis Lurus

Berkata Panutan Pemimpin Tasawuf Sepanjang Massa Al Imam Junaid Al -Baghdadi Rahimahullah:

ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﺠﻨﻴﺪ : ﻣﻦ ﻟَﻢْ ﻳﺤﻔﻆ ﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥ ﻭَﻟَﻢْ ﻳﻜﺘﺐ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳﺚ ﻻ ﻳﻘﺘﺪﻯ ﺑِﻪِ ﻓِﻲ ﻫَﺬَﺍ ﺍﻷﻣﺮ ، ﻷﻥ ﻋﻠﻤﻨﺎ ﻫَﺬَﺍ ﻣﻘﻴﺪ ﺑﺎﻟﻜﺘﺎﺏ ﻭﺍﻟﺴﻨﺔ.
ﺳﻤﻌﺖ ﻣُﺤَﻤَّﺪ ﺑْﻦ ﺍﻟْﺤُﺴَﻴْﻦ ﻳَﻘُﻮﻝ : ﺳﻤﻌﺖ ﺃﺑﺎ ﻧﺼﺮ ﺍﻷَﺻْﺒَﻬَﺎﻧِﻲ ﻳَﻘُﻮﻝ : ﺳﻤﻌﺖ ﺃﺑﺎ ﻋَﻠِﻲّ ﺍﻟﺮﻭﺫﺑﺎﺭﻱ ﻳَﻘُﻮﻝ ﻋَﻦِ ﺍﻟﺠﻨﻴﺪ : ﻣﺬﻫﺒﻨﺎ ﻫَﺬَﺍ ﻣﻘﻴﺪ ﺑﺄﺻﻮﻝ ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ ﻭﺍﻟﺴﻨﺔ ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﺠﻨﻴﺪ : ﻋﻠﻤﻨﺎ ﻫَﺬَﺍ ﻣﺸﻴﺪ ﺑﺤَﺪِﻳﺚ ﺭَﺳُﻮﻝ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ.
Barangsiapa Yang Tidak Menghafal Al Quran Dan Tidak Menulis Hadits, Maka Dia Tidak Boleh Di jadikan Panutan.
Mazhab kami terikat dengan usul al-Quran al- Karim dan as-Sunnah Shollahu ‘Alaihi Wasallam (Kitab: al Tabaqat as-Sufiyyah).

Al-Imam Junaid al- Baghdadi Imam para sufi berkata: “semua jalan telah tertutup bagi makhluk kecuali mereka yang mengikuti jejak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam, Sunnahnya, dan setia pada jalan yang ditempuh beliau. Karena semua jalan kebaikan
terbuka untuk beliau dan mereka yang mengikutinya.” (Al-Hafidz Abi Ahmad bin Abdillah al-Ishhafani, Hilyahal-Auliya’wa Thaqat al-Ashfiya’)

Berkata Sayyidi Sulthonul Auliya’ Qutb Para Wali Allah As Syaikh Abdul Qodir Al Jailany ﻗﺪﺱ ﺍﻟﻠﻪ ﺳﺮﻩ :

ﻭﺻﺎﻳﺎ ﺍﻷﻣﺎﻡ ﺳﻴﺪﻱ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻘﺎﺩﺭ ﺍﻟﺠﻴﻼﻧﻰ
ﻭﺻﺎﻳﺎ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻘﺎﺩﺭ ﺍﻟﺠﻴﻼﻧﻰ ﻟﻜﻞ ﺍﻟﻤﺮﻳﺪﻳﻦ ﻭ ﺍﻟﺴﺎﻟﻜﻴﻦ:
1 ) ﺃﻭﺻﻴﻚ ﺑﺘﻘﻮﻯ ﺍﻟﻠﻪ، ﻭ ﺣﻔﻆ ﻃﺎﻋﺘﻪ، ﻭ ﻟﺰﻭﻡ ﻇﺎﻫﺮ ﺍﻟﺸﺮﻉ، ﻭ
ﺣﻔﻆ ﺣﺪﻭﺩﻩ .
2 ) ﻭ ﺇﻥ ﻃﺮﻳﻘﺘﻨﺎ ﻫﺬﻩ ﻣﺒﻨﻴﺔ ﻋﻠﻰ : ﺳﻼﻣﺔ ﺍﻟﺼﺪﺭ، ﻭ ﺳﻤﺎﺣﺔ
ﺍﻟﻨﻔﺲ، ﻭ ﺑﺸﺎﺷﺔ ﺍﻟﻮﺟﻪ، ﻭ ﺑﺬﻝ ﺍﻟﻨﺪﻯ، ﻭ ﻛﻒ ﺍﻷﺫﻯ، ﻭ ﺍﻟﺼﻔﺢ
ﻋﻦ ﻋﺜﺮﺍﺕ ﺍﻹﺧﻮﺍﻥ .
3 ) ﻭ ﺃﻭﺻﻴﻚ ﺑﺎﻟﻔﻘﺮ ﻭ ﻫﻮ: ﺣﻔﻆ ﺣﺮﻣﺎﺕ ﺍﻟﻤﺸﺎﻳﺦ، ﻭ ﺣﺴﻦ
ﺍﻟﻌﺸﺮﺓ ﻣﻊ ﺍﻹﺧﻮﺍﻥ، ﻭ ﺍﻟﻨﺼﻴﺤﺔ ﻟﻸﺻﺎﻏﺮ، ﻭ ﺍﻟﺸﻔﻘﺔ ﻋﻠﻰ ﺍﻷﻛﺎﺑﺮ،
ﻭ ﺗﺮﻙ ﺍﻟﺨﺼﻮﻣﺔ ﻣﻊ ﺍﻟﻨﺎﺱ، ﻭ ﻣﻼﺯﻣﺔ ﺍﻹﻳﺜﺎﺭ، ﻭ ﻣﺠﺎﻧﺒﺔ ﺍﻹﺩﺧﺎﺭ ﻭ
ﺗﺮﻙ ﺍﻟﺼﺤﺒﺔ ﻣﻊ ﻣﻦ ﻟﻴﺲ ﻣﻨﻬﻢ ﻭ ﻣﻦ ﻃﺒﻘﺘﻬﻢ، ﻭ ﺍﻟﻤﻌﺎﻭﻧﺔ ﻓﻲ ﺃﻣﺮ
ﺍﻟﺪﻳﻦ ﻭ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﻭ ﺣﻘﻴﻘﺔ ﺍﻟﻔﻘﺮ ﺃﻥ ﻻ ﺗﻔﺘﻘﺮ ﺇﻟﻰ ﻣﻦ ﻫﻮ ﻣﺜﻠﻚ ﻭ
ﺣﻘﻴﻘﺔ ﺍﻟﻐﻨﻰ ﺃﻥ ﺗﺴﺘﻐﻨﻲ ﻋﻤﻦ ﻫﻮ ﻣﺜﻠﻚ.
4 ) ﻭ ﺃﻥ ﺍﻟﺘﺼﻮﻑ ﻣﺎ ﻫﻮ ﻣﺄﺧﻮﺫ ﻋﻦ ﺍﻟﻘﻴﻞ ﻭ ﺍﻟﻘﺎﻝ، ﺑﻞ ﻫﻮ ﻣﺄﺧﻮﺫ
ﻣﻦ ﺗﺮﻙ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﻭ ﺃﻫﻠﻬﺎ، ﻭ ﻗﻄﻊ ﺍﻟﻤﺄﻟﻮﻓﺎﺕ ﻭ ﺍﻟﻤﺴﺘﺤﺒﺎﺕ، ﻭ
ﻣﺨﺎﻟﻔﺔ ﺍﻟﻨﻔﺲ ﻭ ﺍﻟﻬﻮﻯ، ﻭ ﺗﺮﻙ ﺍﻻﺧﺘﻴﺎﺭﺍﺕ ﻭ ﺍﻹﺭﺍﺩﺍﺕ ﻭ
ﺍﻟﺸﻬﻮﺍﺕ، ﻭ ﻣﻘﺎﺳﺎﺕ ﺍﻟﺠﻮﻉ ﻭ ﺍﻟﺴﻬﺮ، ﻭ ﻣﻼﺯﻣﺔ ﺍﻟﺨﻠﻮﺓ ﻭ ﺍﻟﻌﺰﻟﺔ.
5 ) ﻭ ﺃﻭﺻﻴﻚ ﺇﺫﺍ ﺭﺃﻳﺖ ﺍﻟﻔﻘﻴﺮ ﺃﻥ ﻻ ﺗﺒﺘﺪﺋﻪ ﺑﺎﻟﻌﻠﻢ ﺑﻞ ﺍﺑﺘﺪﺋﻪ
ﺑﺎﻟﺤﻠﻢ ﻭ ﺍﻟﺮﻓﻖ ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻳﻮﺣﺸﻪ ﻭ ﺍﻟﺮﻓﻖ ﻳﺆﻧﺴﻪ.
6 ) ﻭ ﺃﻥ ﺍﻟﺘﺼﻮﻑ ﻣﺒﻨﻲ ﻋﻠﻰ ﺛﻤﺎﻥ ﺧﺼﺎﻝ :
ﺍﻟﺨﺼﻠﺔ ﺍﻷﻭﻟﻰ : ﺍﻟﺴﺨﺎﺀ ﻭ ﻫﻲ ﻹﺑﺮﺍﻫﻴﻢ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺴﻼﻡ .
ﺍﻟﺨﺼﻠﺔ ﺍﻟﺜﺎﻧﻴﺔ: ﺍﻟﺮﺿﻰ ﻭ ﻫﻲ ﻹﺳﺤﺎﻕ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺴﻼﻡ .
ﺍﻟﺨﺼﻠﺔ ﺍﻟﺜﺎﻟﺜﺔ : ﺍﻟﺼﺒﺮ ﻭ ﻫﻲ ﻷﻳﻮﺏ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺴﻼﻡ.
ﺍﻟﺨﺼﻠﺔ ﺍﻟﺮﺍﺑﻌﺔ: ﺍﻹﺷﺎﺭﺓ ﻭ ﻫﻲ ﻟﺰﻛﺮﻳﺎ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺴﻼﻡ .
ﺍﻟﺨﺼﻠﺔ ﺍﻟﺨﺎﻣﺴﺔ : ﺍﻟﻐﺮﺑﺔ ﻭ ﻫﻲ ﻟﻴﺤﻴﻰ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺴﻼﻡ.
ﺍﻟﺨﺼﻠﺔ ﺍﻟﺴﺎﺩﺳﺔ : ﻟﺒﺲ ﺍﻟﺼﻮﻑ ﻭ ﻫﻲ ﻵﺩﻡ ﻭ ﻣﻮﺳﻰ ﻋﻠﻴﻬﻤﺎ
ﺍﻟﺴﻼﻡ
ﺍﻟﺨﺼﻠﺔ ﺍﻟﺴﺎﺑﻌﺔ : ﺍﻟﺴﻴﺎﺣﺔ ﻭ ﻫﻲ ﻟﻌﻴﺴﻰ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺴﻼﻡ.
ﺍﻟﺨﺼﻠﺔ ﺍﻟﺜﺎﻣﻨﺔ : ﺍﻟﻔﻘﺮ ﻭ ﻫﻲ ﻟﺴﻴﺪﻧﺎ ﻣﺤﻤﺪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ.
7 ) ﻭ ﺃﻭﺻﻴﻚ ﺃﻥ ﻻ ﺗﺼﺤﺐ ﺍﻷﻏﻨﻴﺎﺀ ﺇﻻ ﺑﺎﻟﺘﻌﺰﺯ، ﻭ ﻻ ﺍﻟﻔﻘﺮﺍﺀ ﺇﻻ
ﺑﺎﻟﺘﺬﻟﻞ، ﻭ ﻋﻠﻴﻚ ﺑﺎﻹﺧﻼﺹ ﻭ ﻫﻮ : ﻧﺴﻴﺎﻥ ﺭﺅﻳﺔ ﺍﻟﺨﻠﻖ ﻭ ﺩﻭﺍﻡ
ﺭﺅﻳﺔ ﺍﻟﺨﺎﻟﻖ ﻭ ﻻ ﺗﺘﻬﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﺰ ﻭ ﺟﻞ ﻓﻲ ﺍﻷﻣﻮﺭ ﻭ ﺍﺳﻜﻦ ﺇﻟﻴﻪ ﻓﻲ
ﻛﻞ ﺣﺎﻝ ﻭ ﻻ ﺗﻀﻴﻊ ﺣﻘﻮﻕ ﺃﺧﻴﻚ ﺍﺗﻜﺎﻟًﺎ ﻟﻤﺎ ﺑﻴﻨﻚ ﻭ ﺑﻴﻨﻪ ﻣﻦ
ﺍﻟﻤﻮﺩﺓ ﻭ ﺍﻟﺼﺪﺍﻗﺔ ﻓﺈﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﺰ ﻭ ﺟﻞ ﻓﺮﺽ ﻟﻜﻞ ﻣﺆﻣﻦ ﺣﻘﻮﻗًﺎ
ﻋﻠﻴﻚ ﻓﺄﻗﻞ ﺍﻟﺤﺎﻝ ﻫﺎ ﻫﻨﺎ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻟﻬﻢ ﻭ ﺧﺪﻣﺔ ﺍﻟﻔﻘﺮﺍﺀ ﻻﺯﻣﺔ ﻋﻠﻰ
ﺍﻟﻄﺎﻟﺐ ﺑﺎﻟﻨﻔﺲ ﻭ ﺍﻟﻤﺎﻝ.
ﻭ ﺍﻟﺰﻡ ﻧﻔﺴﻚ ﺑﺜﻼﺛﺔ ﺃﺷﻴﺎﺀ:
ﺃﻭﻻً : ﺑﺎﻟﺘﻮﺍﺿﻊ ﻟﻠﻪ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭ ﺗﻌﺎﻟﻰ.
ﺛﺎﻧﻴﺎً : ﺑﺤﺴﻦ ﺍﻷﺩﺏ ﻣﻊ ﺍﻟﺨﻠﻖ ﻛﻠﻬﻢ .
ﺛﺎﻟﺜﺎً : ﺑﺴﺨﺎﺀ ﺍﻟﻨﻔﺲ.
9 ) ﻭ ﺃﻣﺖ ﻧﻔﺴﻚ ﺣﺘﻰ ﺗﺤﻴﺎ، ﻭ ﺇﻥَّ ﺃﻗﺮﺏ ﺍﻟﺨﻠﻖ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﺃﻭﺳﻌﻬﻢ
ﺻﺪﺭًﺍ ﻭ ﺃﺣﺴﻨﻬﻢ ﺧﻠﻘًﺎ ﻭ ﺇﻥَّ ﺃﻓﻀﻞ ﺍﻷﻋﻤﺎﻝ ﻣﺨﺎﻟﻔﺔ ﺍﻟﻨﻔﺲ ﻭ ﺍﻟﻬﻮﻯ
ﻭ ﺩﻭﺍﻡ ﺍﻟﺘﻮﺟﻪ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻭ ﺍﻹﻋﺮﺍﺽ ﻋﻤﺎ ﺳﻮﺍﻩ.
10 ) ﻭ ﺣﺴﺒﻚ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﺷﻴﺌﺎﻥ:
ﺃﻭﻟًﺎ: ﺻﺤﺒﺔ ﻓﻘﻴﺮ ﻋﺎﺭﻑ، ﺛﺎﻧﻴًﺎ : ﺧﺪﻣﺔ ﻭﻟﻲ ﻛﺎﻣﻞ.
11 ) ﻭ ﺍﻋﻠﻢ ﺃﻥ ﺍﻟﻔﻘﻴﺮ ﻫﻮ ﺍﻟﺬﻱ ﻻ ﻳﺴﺘﻔﺘﻲ ﺑﺸﻲﺀ ﻣﻦ ﺩﻭﻥ ﺍﻟﻠﻪ
ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻭ ﻃﺮﻳﻘﻪ ﺟﺪ ﻛﻠﻪ ﻓﻼ ﻳﺨﺎﻟﻄﻪ ﺑﺸﻲﺀ ﻣﻦ ﺍﻟﻬﺰﻝ.
12 ) ﻭ ﺟﺎﻧﺐ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺒﺪﻉ ﻓﻼ ﺗﻨﻈﺮ ﺇﻟﻴﻬﻢ ﺟﻤﻠﺔ ﻭ ﺇﻥ ﻛﻨﺖ ﻗﺎﺩﺭﺍ
ﻋﻠﻴﻬﻢ ﻓﺎﻣﻨﻌﻬﻢ ﻋﻨﻬﺎ ﻭ ﺍﺯﺟﺮﻫﻢ.
13 ) ﻭ ﻋﻠﻴﻚ ﺑﺘﺮﻙ ﺍﻻﺧﺘﻴﺎﺭ ﻭ ﻣﻼﺯﻣﺔ ﺍﻟﺘﺴﻠﻴﻢ ﻭ ﺗﻔﻮﻳﺾ ﺍﻷﻣﺮ ﺇﻟﻰ
ﺍﻟﻠﻪ.

Sesungguhnya meninggalkan ibadah fardhu adalah zindiq, Melakukan yang haram atau yang ditengah antara halal dan haram adalah maksiat, Perkara fardhu tidak akan gugur daripada seseorang individu walaupun dalam keadaan apapun
(Kitab: al-Fathu ar-Rabbani).

PENDAPAT 4 MAZHAB:

IMAM SYAFI’I (Muhammad bin Idris, 150-205 H)Ulama besar pendiri mazhab Syafi’i berkata,
“Saya berkumpul bersama orang-orang sufi dan
menerima 3 ilmu:
1. Mereka mengajariku bagaimana berbicara
2. Mereka mengajariku bagaimana memperlakukan orang lain dengan kasih sayang dan kelembutan hati
3. Mereka membimbingku ke dalam jalan tasawuf.”
(Riwayat dari kitab Kasyf al-Khafa dan Muzid al Albas, Imam ‘Ajluni, juz 1, hal. 341)

“Jadilah kamu seorang ahli fiqih yang bertasawwuf jangan jadi salah satunya, sungguh dengan haq Allah aku menasehatimu.
‪#‎Jika‬ kamu menjadi ahli fiqih saja, maka hatimu akan keras tak akan merasakan nikmatnya taqwa. Dan jika kamu menjadi yang kedua saja, maka sungguh dia orang teramat bodoh, maka orang bodoh tak akan menjadi baik “. (Diwan Imam Syafi’i halaman : 19)

IMAM ABU HANIFAH ( HANAFI ) (85 H -150 H)(Nu’man bin Tsabit – Ulama besar pendiri mazhab Hanafi) Beliau adalah murid dari Ahli Silsilah Tarekat Naqsyabandi yaitu Imam Jafar as Shadiq ra. Berkaitan dengan hal ini, Al Imam Jalaluddin as Suyuthi didalam kitab Durr al Mantsur, meriwayatkan bahwa Imam Abu Hanifah berkata, “Jika tidak karena dua tahun,
aku telah celaka. Karena dua tahun saya bersama Sayyidina Imam Jafar as Shadiq, maka saya mendapatkan ilmu spiritual yang membuat saya lebih mengetahui jalan yang benar”.

IMAM MALIKI (Malik bin Anas – Ulama besar pendiri mazhab Maliki) juga murid Imam Jafar as Shadiq ra, mengungkapkan pernyataannya yang mendukung terhadap ilmu tasawuf harus sejalan dengan syariat sebagai berikut :
“Man tasawaffa wa lam yatafaqa faqad tazandaqa, wa man tafaqaha wa lam yatasawaf faqad tafassaq, wa man tasawaffa wa man jama’a bainahuma faqad tahaqaq”.
Yang artinya : “Barangsiapa mempelajari/ mengamalkan tasawuf tanpa fiqih maka dia telah zindik, dan barangsiapa mempelajari fiqih tanpa tasawuf dia telah fasik, dan siapa yang mempelari tasawuf dengan disertai fiqih dia meraih Kebenaran dan Realitas dalam Islam.” (’Ali al-Adawi dalam kitab Ulama fiqih, juz 2, hal. 195 yang meriwayatkan dari Imam Abul Hasan).

IMAM AHMAD BIN HANBAL (164-241 H) Ulama besar pendiri mazhab Hanbali berkata:
“Anakku, kamu harus duduk bersama orang- orang sufi, karena mereka adalah mata air ilmu dan mereka selalu mengingat Allah dalam hati mereka. Mereka adalah orang-orang zuhud yang memiliki kekuatan spiritual yang tertinggi. Aku tidak melihat orang yang lebih baik dari mereka” (Ghiza al Albab, juz 1, hal. 120 ; Tanwir al Qulub, hal. 405, Syaikh Amin al Kurdi)

Menurut Prof. DR. Hamka bahwa:
“Tasawwuf Islam telah timbul sejak timbulnya Agama Islam itu sendiri. Bertumbuh di dalam jiwa pendiri Islam itu sendiri yaitu Nabi Muhammad Saw. Disarikannya dari Qur’an sendiri”. (Perkembangan Tasawwuf dari Abad ke Abad).

LIBERAL MUSUH AHLI TASAWWUF

Berkata Syeikh Abdul Kadir Isa di dalam kitabnya Haqaiq An al-Tasawuf mengenai musuh- musuh tasawuf:

Di antara musuh-musuh tasawuf terdiri dari kalangan orentalis lagi zindiq serta para pengikutnya dan konco-konconya. Mereka telah disusun atur dan dilatih oleh golongan kafir yang jahat bagi mencela Islam. Mereka coba memusnahkan pokok pangkal Islam dengan menimbulkan pelbagai keraguan serta
menyebarkan fahaman-fahaman untuk memecahkan umat Islam. Mereka mempelajari Islam secara mendalam tetapi bertujuan untuk menyeleweng dan
memusnahkan Islam. Mereka juga sentiasa memiliki sifat talam dua muka. Mereka juga mendakwa tasawuf diambil daripada Yahudi, Nasrani dan Buddha. Bermacam-macam tuhmah dilemparkan terhadap tokoh-tokoh ulama tasawuf. Apa yang lebih mendukacitakan, terdapat segelintir orang Islam menggunakan pandangan dan pendapat dari musuh-musuh Islam ini untuk mencela tasawuf secara total.
Inikah yang dikatakan pejuang Islam yang sebenarnya? Kadang-kadang mereka ini berlindung di sebalik sebagai seorang pengkaji atau sarjana ilmuan Islam, akan tetapi merekalah di antara para perusak agama Islam dari dalam.

Di antara musuh-musuh tasawuf juga ialah mereka yang jahil dengan hakikat tasawuf Islam itu sendiri. Mereka tidak mempelajari daripada tokoh-tokoh ulama sufi secara jujur dan amanah serta tidak juga mengambil manfaat daripada ulama-ulama tasawuf yang ikhlas menyampaikan ilmu pengetahuan .
Mereka coba mengkaji sendiri kitab-kitab tasawuf sedangkan mereka tidak mempunyai asas dan tidak memahami maksud sebenar serta mereka juga tidak mengetahui tentang penyelewengan terhadap kitab-kitab tersebut oleh musuh-musuh tasawuf Islam.

PENUTUP

Tasawwuf sendiri menurut Imam Abdullah bin Alwi al-Haddad adalah hijarahnya seorang hamba dari akhlak tercela menuju akhlak mulia. Seorang sufi kamil (sempurna) adalah orang yang membersihkan amal, perkataan, niat dan akhlak dari riya’, dan segala yang dapat menimbulkan murka Allah, pun pula pendekatan dhohir dan bathin kepada Allah.
(Imam Abdullah bin Alwi al-Haddad, Nafaisu al-uluwiyyah fi al-masail al-shufiyyah wat takhafu al-saail bi jawab al-masaail, hal 103),

Sayyid Muhammad alawi al-Maliki menyatakan: “Kami mengenal tasawwuf sebagai madrasah ilmiah dan ilmu pengetahuan. Tassawuf juga merupakan metodologi, praktik tasawwuf adalah wawasan tertinggi dari khazanah pemikiran Islam.Tasawwuf juga merupakan sisi yang sempurna dari peradaban dan cita-cita Islam.Ia juga merupakan gambaran kesempurnaan keimanan dan berbagai sisi kehidupan Muslim”. (Prof. Dr. Sayyid Muhammad bin Alawi al-
Maliki, Mafahim/ Pemahaman yang Harus diluruskan, hal. 67)

Dari beberapa pernyataan para ulama sufi di atas dapat disimpulkan; bahwa hakikat sufisme adalah sebuah metode beribadah kepada Allah dalam rangka menuju ridho Allah, dengan meningkatkan kualitas tuntunan syariah yang ada bukan malah menyesatkan dan menjadi liberal. Mereka (para sufi) berusaha menerapkan ajaran syariah sesuai dengan apa yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam baik dhohir maupun bathinnya. Wallahu Alam.

Baca juga tulisan kami IBLIS GAGAL Meliberalkan Sulthon Para Wali


Artikel Terkait