LIBERALISASI ISLAM Melalui PESANTREN Liberal

Shortlink:

Buku "Liberalisasi Islam Di Dalam Pesantren" Penulis Mohammad Achyat Ahmad

Buku “Liberalisasi Islam Di Dalam Pesantren”
Penulis Mohammad Achyat Ahmad

Oleh NU Garis Lurus

Di bawah ini adalah beberapa contoh pesantren nusantara yang bercorak liberal, Sebagai berikut :

1. Pesantren CIGANJUR, atau yang lebih dikenal dengan Pesantren GUSDUR, adalah pesantren
Percontohan LIBERAL yang favorit di Nusantara . Maklum saja sesepuh pesantren ini adalah bapak kaum liberalis nasional bahkan internasional yaitu GUSDUR. Pesantren ini ditujukan untuk santri yang berstatus sebagai mahasiswa senior pada program Strata satu (SI) semua jurusan seperti UIN Syahid, Paramadina, STF Driyarkarya dan PTIQ. Para Pengajar di Pesantren ini adalah Para Tokoh Liberal yang sudah tidak diragukan lagi akan keliberalannya, seperti GUSDUR sendiri sesepuh kaum liberal, Prof. Dr. K.H.Said Aqiel Siradj, M.A, Dr. Fariz dan Dr. Suryabudinata dan lain- lain. Ajaran pesantren ini selain mengkaji Kitab Kuning, Juga di selingi kajian HAM, Jender, Hermeneutika, Demokrasi, filsafat dan materi liberal lainnya, dari kajian ini banyak menghasilkan pemikiran-pemikiran kontemporer yang dibukukan dalam jurnal “Pesantren Ciganjur”

2. Pesantren Budaya Ilmu Giri, atau yang lebih dikenal Pesantren KH Nasruddin Anshoriy, terletal di Imogiri, Bantul, DI Yogyakarta. Sebagaimana pesantren tradisional yang lainnya, pesantren ini selain mengajarkan ilmu agama, juga terkenal dengan pluralitasnya. Hal itu terbukti dengan progam mondok bersama kaum PLURALIS yang diikuti para santri Kristen dan para pendeta, tokoh lintas agama di Pesantren itu untuk membicarakan budaya, agama, lingkungan, HAM, Jender dan pluralitas. progam – progam Pesantren ini mendapat dukungan dari The Wahid Institute salah satu kepanjangan tangan Zionis di Indonesia.

3. Pesantren Darut At-Tauhid Cirebon. Secara sekilas nama pesantren ini sama dengan nama pesantren Darut At-Tauhid pimpinan Da’i kondang Aa’ gym. Tapi pesantren yang satu ini di asuh seorang Kiyai Haji Tangan Besi kaum Liberalis, yang tak asing lagi di dunia Liberal, yaitu KH. Husein Muhammad pembela Isu Gender atas nama persamaan dan keadilan , pornografi atas nama seni dan keindahan, yang tidak sungkan-sungkan memberikan pengantar untuk buku In The Name Of Sex karya Soffa Ihsan, Buku berbau porno yang tak malu membeberkan sederet pengalaman menghirup kenikmatan sesaat bersama perempuan lain dari yang muda hingga yang tua.

4. Pesantren ROUDLOTUL THALIBIN REMBANG,
asuhan KH. Musthafa Bisri, Kiyai sekaligus budayawan mertua Ulil Abshar Abdala ( gembong JIL ) yang tak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Pesantren ini sifatnya adalah pesantren tradisional yang mengkaji
kitab-kitab kuning, dan mengajarkan multikulturalisme.

5. Pesantren AL QODIR terletak di Tanjung Wukirsari, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta didirikan pada tahun 1990. Selain memposisikan diri sebagai Pondok Pesantren Salafiyah, Pesantren ini sangat kental dengan multikulturalnya dan pluralismenya salah satu budaya yang dikembangkan di Pesantren ini adalah kesenian JATILAN, bahkan sang Kiyai adalah sosok pemain kesenian JATILAN yang tenar di daerahnya. Mengenai pendidikan pesantren
multikulturalisme ini tidak lepas dari pemikiran Cak Nur yang sesat itu, sebagaimana dikutip oleh salah satu pengikutnya sebagai berikut : “Gagasan Nurcholish Madjid tentang titik temu agama-agama atau gagasan kesatuan transcendental agama-agama (the transcendent unity of religions) Frithjop Schuon, semakin memberikan afirmasi baik secara teologis maupun filosofis tentang pentingnya pengembangan studi agama berbasis multikulturalisme.

MEMBERIKAN BEASISWA BAGI TENAGA PENGAJAR DAN SANTRI YANG CERDAS

The Asia Foundation telah mendanai lebih dari 1000 pesantren untuk berpartisipasi dalam mempromosikan nilai-nilai pluralisme, toleransi dan masyarakat sipil dalam komunitas sekolah Islam di seluruh Indonesia. Tahun 2004, TAF memberikan pelatihan kepada lebih dari 564 dosen yang mengajarkan pelatihan tentang pendidikan kewarganegaraan yang kental dengan ide liberalis-sekular untuk lebih dari 87.000 pelajar.

Fakta lain, AS dan Australia juga membantu USD 250 juta dengan dalih mengembangkan pendidikan Indonesia. Padahal, menurut sumber diplomat Australia yang dikutip The Australian (4/10/2003), sumbangan tersebut dimaksudkan untuk mengeliminasi ‘madrasah- madrasah’ yang menghasilkan para ’teroris’ dan ulama yang membenci Barat.

Di samping bantuan pendidikan, pemberian beasiswa untuk melanjutkan kuliah ke negeri Barat sudah menjadi modus operandi lama. Sejarah awal terjadi pada tahun 1950-an, saat sejumlah mahasiswa Indonesia belajar di McGill’s Institute of Islamic Studies (MIIS) yang didirikan oleh orientalis Cantwell W. Smith. Di antara mahasiswa itu adalah Harun Nasution, Rasyidi dan Mukti Ali. Pasca pulang dari belajar Islam gaya orientalis, Harun Nasution menjadi penggerak proses liberalisasi di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Sosok ini juga menjadi tokoh kunci terjadinya liberalisasi di seluruh Indonesia. Bukunya, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, yang banyak berisi liberalisme pemikiran Islam menjadi buku rujukan wajib seluruh IAIN di Indonesia.

Adapun Mukti Ali menggawangi Departemen Agama; ia banyak berperan menciptakan iklim kondusif secara kebijakan untuk percepatan liberalisasi Islam. Kerjasama beasiswa ini dilakukan dengan Australia, Jerman, Belanda dan AS. Sosok kontroversial Nurcholish Madjid juga hasil dari cuci otak di Chichago University.

Modus beasiswa ini bagaikan mafia agen liberalisasi. Apabila dalam liberalisasi ekonomi ada “Mafia Berkeley”, dalam liberalisasi pemikiran Islam kita kenal “Mafia McGill” dan “Mafia Chichago”.

LIBERALISASI MELALUI MEDIA FILM PESANTREN

Atas nama seni dan kebebasan berkreasi, Rupanya kaum Liberalis mempunyai inisiatif baru untuk meliberalkan Pesantren, hal itu sebagaimana dilakukan mereka dengan membuat dan menayangkan FILM PBS ” Perempuan Berkalung Serban ” yang berlatar Pesantren yang menghebohkan masyarakat, khususnya kalangan Pesantren itu sendiri.

Film ini mengusung paham kesetaraan Jender, isu yang menjadi andalan mereka untuk digulirkan di masyarakat atas nama keadilan dan pembelaan atas harkat martabat perempuan. Film ini mula-mula berasal dari novel yang ditulis oleh Abidah atas seponsor dari Ford Foundation melalui Fatayat NU Yogyakarta.

Novel itu dikerjakan oleh seorang modernis yang tidak mengenal dunia pesantren NU bahkan tidak senang dengan Pesantren NU, sehingga Novel ini cenderung antipati dan memojokkan dunia Pesantren. Menurut ketua yayasan Komunitas Sastra
Indonesia Hesti Prabowo, bahwa penulisan tentang dunia Pesantren selama ini di biayai oleh kelompok neo – Liberal, termasuk novel PBS” Perempuan Berkalung Serban “.

TARGET AKHIR : LIBERALISASI PEMIKIRAN ISLAM DAN MUSLIM MODERAT

Target akhir dari upaya liberalisasi pendidikan Islam dan pondok pesantren di Indonesia adalah liberalisasi pemikiran Islam dan menciptakan Muslim moderat yang pro Barat. Dari merekalah selanjutnya agenda liberalisasi pemikiran Islam akan disebarluaskan di tengah-tengah masyarakat.

Sasaran pembentukan Muslim moderat diprioritaskan dari kalangan intelektual Muslim dan ulama. Alasannya, karena intelektual Muslim dinilai memiliki peran strategis, baik dalam menentukan kebijakan pemerintah maupun peluang memimpin masyarakat; sedangkan ulama dinilai memiliki pengaruh dim tengah-tengah masyarakat akar rumput, di samping sebagai pelegitimasi hukum terhadap berbagai fakta baru yang berkembang. Dari sini dapat dipahami mengapa Barat begitu getol mengontrol dan mengarahkan sistem pendidikan Islam pencetak para intelektual Muslim dan ulama. Walahu Alam Wallahul Musta’an.

*Foto Cover Buku Liberalisasi Islam Di Dalam Pesantren dari Pesantren Sidogiri

Buku “Liberalisasi Islam Di Dalam Pesantren
Penulis Mohammad Achyat Ahmad
Tebal 367 Halaman

Sinopsis Buku:

Banyak buku-buku yang berupaya memposisikan pesantren dalam ungkapan manis yang menjebak, semisal menyatakan posisi pendidikan kultural, moderat, toleran, memiliki wawasan kebangasaan yang kuat, dan lain sebagainya. Slogan-slogan klise semacam ini kadangkala membuat orang- orang pesantren terjebak. Sehingga, ada saja diantara mereka yang memilih mengabaikan isi ‘kitab kuning’ yang jelas, demi menegakkan slogan-slogan
tidak jelas yang dihembuskan oleh para pengamat pesantren.

Barangkali itulah akar yang menyebabkan munculnya beberapa oknum pesantren yang menjadi pembela liberalisme, sekularisme, sangat alergi terhadap penerapan syariat, dan lain sebagainya.

Di buku ini, khususnya di dua bab terakhir, bisa menggugah anak-anak pesantren agar bangkit melawan arus pemikiran Islam yang modern yang bertentangan dengan aqidah Ahlussunnah Wal-Jama’ah. Hal itu sangat perlu, mengingat adanya beberapa anak pesantren yang justru latah dengan kebarat-baratan, karena menganggapnya sebagai hal baru yang ‘bergengsi’.

Kita harus mengakui bahwa Barat memang lebih maju dalam bidang teknologi & sains, dan kita mesti banyak belajar mengenai hal itu dari mereka. Namun, harus kita sadari pula bahwa Barat sangat jahiliyah dalam moralitas. Oleh karena itu, dalam konteks pemikiran, filsafat ketuhanan & filsafat moral, kita tidak boleh latah terhadap Barat. dalam hal ini, mereka jauh berada di belakang & di bawah kita.

Kecenderungan semacam ini bisa muncul jika identitas pesantren belum tertanam kuat dalam diri para santri. Disamping itu, ada semacam kurang percaya diri yang menghinggapi anak -anak pesantren untuk berkiprah & memasarkan pandangan hidup pesantren dalam segala lini kehidupan. Ini tidak boleh terjadi, karena meskipun watak dasar orang-orang pesantren adalah rendah hati, akan tetapi mereka tidak boleh rendah diri.

Buku ini salah satu contoh perlawanan dari Pesantren NU yang masih LURUS terhadap liberalisasi di Pesantren. Insya Allah.


Artikel Terkait