Kyai Syukron Makmun: Liberalisme Itu Ajaran Iblis

Shortlink:

Prof. KH. Syukron Ma'mun bersama Prof. Dr. Syaikh. Wahbah az-Zuhaili

Prof. KH. Syukron Ma’mun bersama Prof. Dr. Syaikh. Wahbah az-Zuhaili

“Jika tidak dibatasi dengan akhlaq, etika dan agama Islam, maka liberalisme dan HAM akan menjadi ajaran iblis. Liberalisme dan HAM sesungguhnya adalah tujuan dari AS untuk “membinatangkan” bangsa Indonesia. Sebab masyarakat diberi kebebasan untuk berbuat apa saja termasuk melakukan berbagai kemaksiyatan dengan dalih HAM. Syukron Makmun boleh mati, tetapi Islam tidak akan pernah mati. Saya menginginkan Jakarta “dikepung” oleh Pondok Pesantren dari segala penjuru. Saat ini sudah ada 50 pesantren yang didirikan pada alumni Daarul Rahman di seluruh Indonesia.

“Paham liberal tidak sejalan dengan akar budaya bangsa Indonesia. Paham tersebut tidak sesuai dengan akar budaya bangsa Indonesia, yang menjunjung tinggi akhlak mulia. Liberalisme harus memiliki batasan, karena Indonesia merupakan bangsa yang berbasis pada moralitas dan etika. Pesantren hadir dan terlahir sebagai benteng moral umat. Saat ini pesantren menghadapi tantangan besar seiring dengan munculnya berbagai tantangan baik dari dalam maupun luar negeri.”

( Tokoh Sesepuh NU Jakarta Dan Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Rahman Prof. KH. Syukron Ma’mun )

Menentang Faham Liberal GD

KH Syukron Makmun merupakan tokoh sepuh NU yang keras menentang faham liberal GD. Seperti saat GD berencana mengganti ucapan salam Assalamu’alaikum dengan selamat pagi dan selamat sore, KH. Syukron Makmun merupakan ulama terdepan yang mengecam hal tersebut.

Menurut tokoh yang di juluki “Singa Podium” ini GD ingin merubah cara orang bersholat. GD menghendaki orang menutup shalat dengan ucapan selamat pagi dan selamat sore.

Untuk menjawab kecaman Kiai Sukron, GD sampai membuat artikel khusus yang di muat di web resmi gusdur.net

Dalam artikelnya GD memuji setinggi langit Ulil Abshar Abdalla. Menurut GD, Pendiri JIL ini adalah seorang muda Nahdlatul Ulama (NU) yang berasal dari lingkungan “orang santri.” Istrinya pun dari kalangan santri, yaitu putri budayawan muslim A Mustofa Bisri. Sehingga kredibilitasnya sebagai seorang santri tidak pernah dipertanyakan orang. Mungkin juga cara hidupnya masih bersifat santri. Tetapi dua hal yang membedakan Ulil dari orang-orang pesantren lainnya, yaitu ia bukan lulusan pesantren, dan profesinya bukanlah profesi lingkungan pesantren.

Rupanya kedua hal itulah yang akhirnya membuat ia dimaki-maki sebagai seorang yang “menghina” Islam, sementara oleh banyak kalangan lain ia dianggap “abangan”. Dan di lingkungan NU, cukup banyak yang mempertanyakan jalan pikirannya yang memang dianggap “aneh” bagi kalangan santri, baik dari pesantren maupun bukan.

 


Artikel Terkait