Kyai NU Nasihati GP Ansor Agar Berhenti Kebiasaan Jaga Gereja

Shortlink:

ansor banser gerejaSaat KH Muhammad Najih Maimun Dan KH Luthfi Bashori Beri Nasehat Ketua GP Anshor Agar Hentikan Kebiasaan Menjaga Gereja Di Saat Natal

Selasa, pukul 09.30 di hari ke – 11 Ramadlan 1433 ini, mengharuskan kami pergi ke Malang kota, setelah bersepakat dengan keluarga untuk mencari alternatif menu Buka Bersama GP. Anshar Kabupaten Malang, yang akan digelar pada hari Ahad, 5 Agustus di Ribath Almurtadla Al-islami. Kami pesan makanan di salah satu Catering milik seorang teman.

Semalam, tepatnya pukul 21.00 ada tamu perwakilan pengurus GP. Anshar Kabupaten Malang yang berkunjung ke tempat kami. Setelah memperkenalkan diri, maka terjadi pembicaraan antara kami dengan sang tamu tentang tujuannya datang ke tempat kami. Dalam perbincangan itu dapat dipetik kesimpulan :

Bahwa pengurus GP. Anshar meminta izin agar mereka diperkenankan mengadakan rapat koordinasi antar pengurus se-kabupaten Malang di tempat kami, sekaligus akan menyusun program-program yang akan dilaksanakan di kemudian hari.

Ada sedikit pertanyaan dalam hati kami, karena terasa tidak seperti biasanya, mengapa teman-teman GP. Anshar menginginkan Ribath Almurtadla untuk dijadikan tempat musyawarah, mengingat kami sendiri sudah sangat lama tidak menjabat sebagai salah satu struktural baik di GP. Anshar maupun di NU.

Sedangkan di Singosari sendiri masih banyak sejumlah nama tokoh aktifis keorganisasian yang dibidangi oleh Struktural NU, yang menurut kami lebih layak untuk ketamuan pengurus GP. Anshar se-kabupaten Malang.

Kejadian ini mengingatkan kehadiran kami pribadi bersama KH. Najih Maimun Zubair dalam acara Halaqah Ilmiah Nasional GP. Anshar yang diadakan di Pesantren Krapyak Yogyakarta dan dihadiri oleh Ketum GP. Anshar bpk. Nusran Wahid, hampir setahun yang lalu. Dalam halaqah itu kami berdua termasuk yang dijadwalkan sebagai nara sumber.

Kami berdua secara kompak menyampaikan betapa pentingnya GP. Anshar dekade ini untuk kembali mengikuti aqidah yang diajarkan oleh KH. Hasyim Asy`ari secara murni dan tidak mengikuti paham JIL yang sangat membahayakan aqidah umat Islam itu.

Kami pribadi sempat menyoroti secara terang-terangan adanya beberapa oknum GP. Anshar yang ikut menjaga gereja di saat pelaksanaan Natal kaum Nasrani. Dalam pandangan kami, bahwa keterlibatan oknum GP. Anshar ini termasuk pelanggaran aqidah. Karena Allah berfirman dalam surat Annisa, 140 yang artinya:

Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Alquran, bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah (termasuk larangan syirik kepada Allah) diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang kafir yang sedang beritual menyembah tuhan selain Allah), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain (alias selesai ritualnya). Karena sesungguhnya (kalau kamu tetap duduk/menjaga ritual mereka) tentu kamu serupa dengan mereka (dalam kesyirikan). Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafiq (yang ikut duduk/menjaga ritual kekafiran) dan orang-orang kafir itu di neraka Jahannam.

Namun, kali ini justru kami diminta menjadi tuan rumah dalam kegiatan musyawarah pengurus GP. Anshar se- kabupaten Malang. Kami belum tahu secara detail dasar pemikiran teman- teman pengurus GP. Anshar Kabupaten Malang, apakah mereka sedang menjalankan jargon GP. Anshar priode ini sebagaimana yang pernah kami dengar, bahwa GP. Anshar mencanangkan Gerakan Kembali ke Pesantren?

Mudah-mudahan saja dalam pertemuan-pertemuan berikutnya GP. Anshar benar-benar akan bangkit dalam perjuangan melestarikan aqidah warga NU yang murni mengikuti jejak KH. Hasyim Asy`ari, yang mana beliau sangat konsisten memegangi madzhab Sunni Syafi`i sesuai pemahaman ulama Salaf Aswaja, yang jauh dari pengaruh penyakit SEPILIS (Sekulerisme, Pluralisme dan Liberalisme).

(Di Ceritakan KH Luthfi Bashori Di Website Resminya)


Artikel Terkait