KHR. As’ad Syamsul Arifin, Sesepuh NU Generasi Pertama Penentang Paham Liberal Dalam Tubuh NU

Shortlink:

Oleh NU Garis Lurus

KH As'adPada mukamar NU ke-28 di Krapyak, Yogyakarta saat itulah awal muncul pergolakan dalam tubuh NU karena paham liberal sesat yang dibawa GD dalam tubuh NU. Saat itu mediator berdirinya salah satu ormas terbesar di Indonesia yaitu Nahdlatul Ulama (NU) dan juga pendiri Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo, Jawa timur, yang dikenal dengan jumlah ribuan santrinya yaitu KHR. As’ad Syamsul Arifin dengan jantan menyatakan “Mufaroqoh” terhadap GD. Menurut pandangan Beliau, Ibarat imam salat, Gus Dur di mata Kiai As’ad sudah batal kentut. Karena itu, tak perlu bermakmum kepadanya, mufaraqah.

Beliau adalah KH. R. As’ad Syamsul Arifin. Lahir di Syiib Ali, sebuah perkampungan dekat Masjidil Haram, Mekkah, pada 1897 dari pasangan Raden Ibrahim dan Siti Maimunah. Bayi laki-laki itu diberi nama Raden As’ad yang berarti “sangat bahagia”. Betapa tidak? Pada puncak pencapaian kematangan menuntut ilmu selama dua puluh lima tahun di Mekkah, Raden Ibrahim mendapat karunia seorang anak laki-laki.

Raden Ibrahim, ayahnda Raden As’ad –yang kemudian lebih dikenal sebagai Kiai Syamsul Arifin—masih keturunan Sunan Ampel. Sedangkan ibunya merupakan titisan darah bangsawan dari Tumenggung Tirtonegoro atau Bendara Saud, salah seorang Bupati Sumenep, dan masih keturunan Pengeran Ketandur, cucu Sunan Kudus.

Ketika berumur 6 tahun, Raden As’ad diajak orang tuanya pulang kampung ke PP Kembang Kuning, Pamekasan. Di PP ini Kiai Syamsul membantu abahnya, Kiai Ruham, mengajar para santri. Tidak berapa lama, Siti Maimunah, ibunda Raden As’ad meninggal dunia.

Menginjak usia 11 tahun, Raden As’ad diajak ayahnya menyeberangi laut untuk menyebarkan Islam ke tempat lain. Mereka lalu membabat hutan di sebelah timur Asembagus dan sebelah barat hutan Baluran. Daerah itu terkenal angker. Dulu tidak ada orang, kecuali harimau dan ular berbisa. Di bekas hutan itu, mereka membangun permukiman yang kemudian menjadi Desa Sukorejo. Mereka juga membangun mushala yang menjadi cikal-bakal pesantren Sukorejo saat ini.

Pada masa mudanya inilah KH. R. As’ad muda menghabiskan masa lajangnya di berbagai PP. Beberapa PP yang beliau pernah menimba ilmu antara lain: PP Demangan Bangkalan asuhan KH. Cholil, PP Panji, Buduran di bawah asuhan KH. Khozin, PP Tetango Sampang, PP Sidogiri Pasuruan di bawah bimbingan KH. Nawawi, PP Banyuanyar Madura di bawah asuhan KH. Abdul Majid dan KH. Abdul Hamid, dan terakhir di PP Tebu Ireng Jombang bersama KH. Hasyim Asy’ari.

Setelah malang melintang di berbagai pesantren beliau melanjutkan studinya ke Mekkah al-Mukarramah dan berguru kepada ulama’-ulama besar, seperti Sayyid Muhammad Amin Al-Qutby, Syekh Hasan Al-Massad, Sayyid Hasan Al-Yamani, Syekh Abbas Al-Maliki, serta beberapa ulama besar lainnya.

Ketika berangkat mondok, Raden As’ad hanya menggunakan keranjang sebagai tempat pakaian dan bahan makanan. Pernah suatu saat, ayahndanya membelikan koper dan mengutus santri untuk menyerahkan kepada Raden As’ad. Tetapi, ia menolak. Ia lebih senang hidup sederhana. Selama mondok pun, ia hidup mandiri. Ia tak mau merepotkan orang tuanya, karena itu mereka tak pernah mengiriminya. Kadang-kadang Raden As’ad mondok sambil berjualan tikar.

Raden As’ad selama mondok selalu dekat dengan sang Kiai pondok tersebut. Semua Kiai mempunyai keistimewaan tersendiri. Tetapi beliau sangat terkesan pada dua sosok Kiai, yakni Kiai Cholil Bangkalan dan Kiai Hasyim Asy’ari Tebu Ireng Jombang. Kenang beliau, “Saya mendapat barakah dari dua Kiai besar ini. Saya merasa benar-benar jatuh cinta pada kedua Kiai ini. Karena itu, semangat saya untuk menyerap pelajaran dari Kiai ini, masyaAllah, besar sekali!”

Maka tak heran jika Raden As’ad tidak akan berhenti menuntut ilmu pada seorang Kiai sebelum pernah mencicipi ‘madunya’ ilmu kiai itu. Dan ketika liburan pun, bukan berarti beliau libur mengaji. Abahnya akan selalu memberi tugas. Misalnya menghapal Nazham Alfiyyah, yang berhasil dikhatamkannya dalam 40 hari, juga Nazham Imrithi yang berhasil hapal luar kepala dalam 21 hari. Juga kitab-kitab yang lain.

Kiai Syamsul mengharapkan anaknya tidak berlebih-lebihan dalam mengerjakan sesuatu, termasuk dalam hal belajar. Seorang santri harus memperhatikan kondisi jasmaniahnya, agar ia tetap sehat dan nyaman ketika belajar dan beribadah. Pesan abahnya, “Lapar, ngakan! Ketondu, tedung! Jek sampek lapar karna lapar meposang dek pekeran! (Lapar, makanlah! Ngantuk, tidurlah! Jangan sampai kelaparan, karena lapar membuat linglung berpikir!)”

Selepas wafatnya Kiai Syamsul Arifin pada 1951, Raden As’ad diamanahi untuk memimpin pondok pesantren Sukorejo tersebut.

Kiai As’ad dan NU

Pages: 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16


Artikel Terkait