KH. YUSUF HASYIM PUTRA HADHROTUS SYAIKH KH. HASYIM ASY’ARI YANG SERING BERSEBERANGAN DENGAN GUS DUR

Shortlink:

MENGENANG KH. YUSUF HASYIM PUTRA HADHROTUS SYAIKH KH. HASYIM ASY’ARI YANG SERING BERSEBERANGAN DENGAN KEPONAKANNYA YAITU BAPAK LIBERALISME INDONESIA ABDURRAHMAN WAHID “GUS DUR”

Oleh NU Garis Lurus

KH. YUSUF HASYIMKH Yusuf Hasyim (lahir di Jombang, Jawa Timur, 3 Agustus 1929 – meninggal di Surabaya, Jawa Timur, 14 Januari 2007 pada umur 77 tahun) adalah Putra pendiri NU Hadratussyeikh KH Hasyim Asy`ari, KH Yusuf Hasyim (Pak Ud) semasa hidup di kenal sering berseberangan dan menentang kelakuan keponakannya yaitu Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang sering menyimpang.

Bahkan Gus Dur termasuk orang yang suul adab terhadap pamannya sendiri. Contohnya saat terjadi kemelut koin emas Gold Quest bergambar pendiri NU KH Hasyim Asy’ari yang ditentang oleh Pak Ud. PWNU Jawa Timur pun saat itu telah memfatwakan haram untuk koin emas Hasyim Asy’ari itu.

Namun Gus Dur adalah orang yang pertama menentang fatwa dan kebijakan pamannya sendiri. Gus Dur justru menghadiri acara peluncuran koin emas yang saat itu diluncurkan di Hotel JW Marriott meskipun akhirnya batal karena di demo oleh para santi maupun alumni Pondok Pesantren Tebu Ireng yang diasuh Pak Ud. Mereka menolak diluncurkannya koin itu dan menyatakan koin emas itu haram.

Pak Ud sendiri datang ke hotel dan memimpin aksi demonstrasi ini pada sore hari tadi. Para demonstran datang dengan menumpang bus dari berbagai kota, sebagian besar dari Jombang. Sebelumnya, Pak Ud sempat melaporkan hal ini ke Polda Jawa Timur.

Dia menganggap pemasangan foto pendiri NU di koin emas itu tanpa melalui izin keluarga dan ahli waris. Dan hal itu dianggap sebagai pelecehan NU dan umat Islam. Bahkan, Polwiltabes juga tidak mengeluarkan izin penyelenggaraan koin emas itu.

Berbagai poster sempat dibawa para demonstran. Antara lain berbunyi, ‘Koin Emas Gold Quest Haram’ dan ‘Jadilah Manusia Berjiwa Emas, Bukan Manusia Berkoin Emas.

Suul Adabnya Gus Dur

Gus Dur menyayangkan batalnya peluncuran koin emas bergambar kakeknya itu. Dia menilai, pembatalan ini karena pendekatan keamanan yang berlebihan oleh pihak Polri. “Saya kecewa terhadap polisi, karena peluncuran koin dihambat. Seharusnya tidak perlu melarang-larang, selesaikan lewat jalur hukum saja. Itu lebih baik,” ujarnya.

Selain itu, Gus Dur juga memprotes tindakan pamannya, Pak Ud. “Omongane Yusuf Hasyim kok dipercaya. Gombal. Apa hak dia melarang-larang itu,” ujarnya suul adab terhadap pamannya sendiri.

(Baca http://www.suaramerdeka.com/harian/0310/22/nas17.htm)

Keistiqomahan KH Yusuf Hasyim

Tidak seperti keponakannya yang selalu menentang penegakan Syariat Islam, Pak Ud adalah pejuang penegakan Syariat Islam. Bahkan beliau termasuk pelopor berdirinya Dewan Imamah Nusantara sebagai perjuangan Syariah Ahlussunnah bersama para ulama saat itu seperti Almarhum KH Abdullah Faqih (Langitan), Almarhum KH. Abdul Hamid Baidhowi (Lasem), Almarhum KH. Tijani Jauhari (Sumenep), KH. Nuruddin Marbu (Kalsel), KH. Najih Maimun Zuber (Sarang), KH. Syukron Makmun (Jakarta), Almarhum KH. Husein Umar (Jakarta), Hb. Tohir Abdullah Al Kaff (Tegal), Hb. M Rizieq Syihab (Jakarta), Baba Abdul Aziz (Thailand), dan Ust. Abdul Halim Abbas (Malaysia), Hb. Abdurrahman Assegaf (Pasuruan), KH. Ali Karrar Shonhaji (Pamekasan), Almarhum KH. Saiful Hukama’ (Pamekasan), KH. A Yahya Hamiddin (Sampang), KH. Misbah Sadat (Surabaya), KH. Luthfi Bashori Alwi (Malang), KH. Mahfudz Syaubari (Pacet), KH. Hidayatullah Muhammad (Pasuruan), KH. Luqman Hakim (Pasuruan), dan Hb. Ahmad Al Hamid (Malang).

Tokoh senior (sesepuh) NU dan Mustasyar Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur ini meninggal dunia hari Minggu, 14 Januari 2007 pukul 18.40 di Rumah Sakit Umum Dr Soetomo Surabaya. Putra pendiri Nahdlatul Ulama KH Hasyim Asy’ari, itu meninggal akbat menderita radang paru-paru. Jenazah kakek dari 11 cucu itu dimakamkan Senin 15 Januari 2007 di Kompleks Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Hari Minggu, 14/1, ribuan santri Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur menyambut kedatangan jenazah sesepuh pengasuh ponpes Tebuireng itu dengan bacaan tahlil.

Berbeda dengan Gus Dur yang tidak peduli dengan Pesantren peninggalan kakeknya, Puluhan tahun KH Yusuf Hasyim alias Pak Ud mengasuh Pondok Pesantren (PP) Tebuireng, Jombang, sekaligus menjadi Tokoh Politisi politisi nasional. Dia pernah menjabat anggota DPR RI, Wakil Ketua MPP Ketua Umum DPP PPP (1989-1994) PPP, dan Ketua Umum Partai Kebangkitan Umat (PKU). Sejak 13 April 2006, dia menyerahkan tongkat kepemimpinan Ponpes Tebuireng kepada keponakannya, KH Salahudin Wahid (Gus Solah).

Dalam pesannya saat memberikan tongkat kepemimpinan pondok pesantren kepada Gus Sholah, Pak Ud meminta agar selalu istiqamah dan berpegang teguh pada semangat perjuangan pondok yang digariskan mendiang KH Hasyim Asyari.

KH. Hasyim Muzadi: Pak Ud Bukan Hanya Milik NU, tapi Milik Bangsa

Cucuran air mata mengiringi pemakaman tokoh Nahdlatul Ulama (NU) KH Yusuf Hasyim. Pria yang disapa Pak Ud ini dimakamkan secara militer di pemakaman keluarga di kompleks Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Menurut Ketua Umum PBNU kala itu KH Hasyim Muzadi, Pak Ud tidak hanya milik NU, tapi milik bangsa. Ribuan santri mengirimi pemakaman anak bungsu pendiri NU KH Hasyim Asyari itu, Senin (15/1/2007).

Selain KH Hasyim Muzadi, tampak hadir sejumlah kiai dan politisi dalam pemakaman ini. Saat memberikan sambutan, Hasyim menyatakan, dengan pemakaman upacara militer ini, Pak Ud bukanlah hanya milik NU, tapi sudah milik bangsa Indonesia. “Hari ini seluruh warga NU kehilangan, termasuk juga Republik Indonesia, karena Pak Kiai Yusuf Hasyim adalah tidak hanya tokoh NU, tapi tokoh bangsa,” ujar Hasyim. Selama masa hidupnya, Pak Ud dikenali sebagai tokoh NU yang terlihat sering berseberangan dengan keponakannya, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Berkali-kali, polemik antara Gus Dur dengan Pak Ud menghiasi media massa. Pak Ud menyandang banyak bintang penghargaan. Antara lain, Bintang Gerilya, Satya Lencana Kesetiaan, Satya Lencana Madya, dan sejumlah bintang penghargaan lainnya.

Semoga semakin banyak lahir kembali generasi-generasi l


Artikel Terkait