KH. Achmad Munib Sang Anti Pancasila, Kapolsek Yang Menentang Kualat Jatuh Sakit Hingga Meninggal

Shortlink:

kyai-munibDari jutaan masjid dan mushalla di seluruh Indonesia, yang paling unik ternyata ada di pulau garam Madura, tepatnya di Desa Beluk Kenek, Kecamatan Ambunten, Kabupaten Sumenep. Di desa itu terdapat seorang kyai kharismatik yang cukup terkenal seantero Madura, Kyai Achmad Munib namanya. Kiyai sepuh ini terkenal gigih mendukung penegakan syariat Islam dan menentang Pancasila sejak Pancasila tersebut dijadikan asas tunggal di Indonesia.

Untuk mempertahankan keyakinannya menolak Pancasila, KH Achmad Munib sering berkonsultasi maupun berdebat dengan beberapa kiai di antaranya KH. Hasyim Muzadi Calon Rois ‘Am NU, Imam Besar FPI Habib Rizieq Syihab Hingga KH. Abu Bakar Baasyir sebagai tokoh ISIS Indonesia.

Kyai tawadhu’ ini memiliki cukup banyak santri.
Beliau tidak pernah keluar dari komplek rumahnya jika tidak ada keperluan penting, karena hari-harinya disibukkan dengan ibadah dan pembinaan santri. Ia tinggal bersama seorang istri, Ibu Nyai Farhah dan dua anaknya.

..Di area rumahnya terdapat sebuah masjid yang cukup besar, namanya Masjid Anti Pancasila. Masyarakat umum, siapapun diperbolehkan melaksanakan shalat dan beribadah di masjid tersebut…

Di area rumahnya terdapat sebuah masjid yang cukup besar, namanya Masjid Anti Pancasila. Masyarakat umum, siapapun diperbolehkan melaksanakan shalat dan beribadah di masjid tersebut, karena bukan masjid eksklusif. Di bagian depan masjid terdapat plakat bertuliskan Arab pegon: “Anti Pancasila Kewajiban Kita Umat Islam”.

Salah seorang warga di sekitar komplek rumah kyai Achmad Munib menuturkan kejadian unik seputar plakat “anti Pancasila” ini. Suatu ketika Kapolsek mendapat laporan mengenai arti “plakat Arab pegon” itu. Ia pun marah dan berusaha menutupi logo dari semen. Namun karena tidak berani melakukan secara langsung, maka Kapolsek itu menyuruh anak buahnya satu-persatu untuk melempari logo tulisan tersebut dengan semen sampai tertutup penuh.

Dengan takdir Allah, setelah kejadian itu sang Kapolsek jatuh sakit hingga meninggal. Sejak itu beredar kabar bahwa sang Kapolsek kuwalat, sehingga para polisi lain di daerah itu tak berani berbuat macam-macam dengan masjid Anti Pancasila tersebut. Ada juga beberapa polisi lain yang berusaha menutup logo tulisan itu, namun begitu ketahuan salah satu santri kyai Achmad Munib, polisi itu langsung diusir paksa.

Meski mengajarkan anti Pancasila, Ketua MUI Kecamatan Dasuk, Sumenep, KH Syamsul Arifin
menganggap ajaran agama yang disampaikan KH Achmad Munib tidak ada yang aneh. “Hanya
menyatakan Anti Pancasila dan mempunyai keinginan mendirikan negara Islam,” ujar Syamsul Arifin.

Sementara, salah seorang anggota DPRD Sumenep, A Samsul Rizal, mengatakan kiai yang mengaku anti Pancasila itu tergolong kiai Jazdab, atau salah seorang yang kehidupannya antara khilaf dan waliyullah. “Apa yang disampaikan menjadi tanda-tanda dan sulit untuk dilogikakan. Namun, soal anti Pancasila juga tidak ada pengaruh pada lingkungan,” kata Samsul saat ditemui di kantornya, Jalan Trunojoyo.

Masyarakat sekitar, tambah dia, tidak mau untuk membicarakan kiai tersebut yang berkaitan dengan Pancasila. Sebab diyakini akan terjadi konsekuensi tersendiri. Konsekuensi itu terjadi secara ghaib. “Warga yang tidak suka dengan ideologi anti Pancasila itu ya tidak mau membicarakan, mereka membiarkan saja,” pungkasnya.

Polisi: mendirikan negara Islam dan menyatakan anti Pancasila merupakan hak individu. Aparat kepolisian bukan tidak tahu keberadaan KH Achmad Munib yang menyatakan anti Pancasila. Namun karena ajaran itu tidak berdampak pada lingkungan sekitar, maka polisi belum perlu mengamankan yang bersangkutan.

Hal ini pernah diutarakan oleh Wakalpolres Sumenep Kompol Ahmad Husin. Ia mengatakan, keinginan untuk mendirikan negara Islam dan menyatakan anti Pancasila merupakan hak individu. Selama keinginan itu tidak berdampak pada warga dan tidak ada pengikutnya, biarkan saja.

Kompol Achmad Husin, menjelaskan, setiap warga negara harus punya ideologi sesuai dengan yang berlaku di negara Indonesia. Jika ada yang tidak mengakui perlu dipertanyakan.

“..keinginan untuk mendirikan negara Islam dan menyatakan anti Pancasila merupakan hak individu”, kata Wakapolres Sumenep.

Menurut dia, bila yang bersangkutan berdakwah dan merekrut orang lain, maka yang bersangkutan tetap salah dan perlu penyelidikan. “Sampai saat ini Sumenep aman- aman saja,” ujarnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, KH Achmad Munib yang tinggal di Desa Beluk Kenek, Kecamatan Ambunten, Kabupaten Sumenep, Madura mempunyai ajaran yang sedikit nyleneh. Dia selalu berdakwah anti Pancasila, karena berniat mendirikan negara Islam.

Saat ini, kiai yang sudah mempunyai 13 cucu ini sulit sekali ditemui oleh siapapun. Itu dilakukan sejak 5 tahun terakhir. Dia menutup diri dan memilih berdiam diri di dalam kamar khusus. Bahkan, kiai ini juga melarang semua orang masuk ke areal rumahnya yang dikelilingi tembok setinggi 2 meter.

Bahkan, pada saat itu, Kiai Munib -panggilan KH Achmad Munib- sempat mempunyai 150 santri. Namun para santri akhirnya berhenti dengan sendirinya ketika Kiai Munib mulai menutup diri dan tidak menerima tamu.
“Yang tidak mau ditemui oleh siapun sejak 5 tahun terakhir. Otomatis para santri berhenti mengaji Al-Qur’an dan Kitab ke sini,” ujar Ny Farhah, istri KH Achmad Munib, saat berbincang-bincang dengan detiksurabaya.com, di sebuah Mushola yang tak jauh dari rumahnya di Desa Beluk Kenek, Kecamatan Ambunten, Sumenep.

Nama KH Achmad Munib pernah menjadi pembicaraan hangat karena mempunyai ajaran yang sedikit nyleneh. Dia selalu berdakwah anti Pancasila, karena berniat mendirikan negara Islam.


Artikel Terkait