Kewajiban Mendirikan Daulah Islamiyah

Shortlink:

Oleh: KH. Muhammad Najih MZ


Ide Daulah Islamiyah bukanlah penemuan baru, tapi inilah yang disuarakan lantang oleh nash-nash peristiwa-peristiwa historis serta karakter dakwah Islam yang universal.

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا (58) يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya. Dan menyuruh kamu apabila menetapkan hukum diantara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepada kamu. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha melihat. Hai orang-orang yang beriman ! taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya dan Ulil Amri diantara kamu kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah ia kepada al-Qur’an dan Sunnah Rasul.” (QS. An Nisaa’ : 58 – 59)

Ayat pertama, seruan kepada pemerintah dan para hakim agar menjalankan amanat dan membuat keputusan yang adil, karena bila amanat dan keadilan disia-siakan kehancuran umat dan robohnya sendi-sendi bangunan masyarakat tinggal menunggu hitungan jari. Dalam hadits:

إِذَا ضُيِّعَتْ الأَمَانَةُ فَانْتَظِرُوْا السَّاعَةَ، قِيْلَ: كَيْفَ إِضَاعَتُهَا؟، قَالَ: إذَا وُسٍٍِِِدَ الأمْرُ إلَى غَيْرِِِ أهْلِِهِِ فَِانْتَِِِِِِِِظِِِِِِِر السَّاعَةَ.

“Ketika amanat disia-siakan, maka tunggulah kehancuran umat. Ada yang bertanya; bagaimana amanat itu disia-siakan?, Nabi menjawab: bila urusan diserahkan kepada selain ahlinya, tunggulah kehancuran.” (HR. Bukhori)

Ayat kedua, seruan terhadap rakyat mukmin agar taat pada pemerintah dengan syarat dari kelompok mukmin juga dan ketaatan ini menempati rangking ketiga setelah taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta bila terjadi perbedaan hendaklah dikembalikan pada al-Qur’an dan al-Hadits.

Jelas termasuk perbuatan haram, seorang muslim bai’at kepada pemerintah yang tidak menjalankan hukum Islam. Sedangkan bai’at yang bisa menyelamatkan dari dosa adalah kepada pemerintah yang menjalankan hukum Allah. Dan kalau tidak ada, semua orang Islam berdosa sampai terwujudnya pemerintahan Islam, tidak ada yang bisa lepas dari dosa ini kecuali orang yang ingkar walau dalam hati dan berusaha semaksimal mungkin untuk memulai kehidupan yang Islami. Dan ini tidak mungkin dilakukan sendirian, harus menggalang solidaritas saudara-saudara yang seperjuangan.[1]

Fakta Historis

Rasulullah mengajak Kabilah-kabilah untuk beriman kepada beliau serta membela da’wahnya, sampai akhirnya Allah mempertemukan beliau dengan Anshor dari Kabilah Aus dan Khazraj. Setelah Islam menyebar di kalangan Anshor, pada musim haji sebanyak 73 laki-laki dan 2 wanita datang untuk bai’at kepada Rasulullah SAW. isi bai’at itu adalah :

Anshor akan membela beliau seperti halnya membela diri mereka sendiri, istri-istri serta anak-anak mereka.
Patuh dan taat pada Rasulullah
Amar ma’ruf nahi anil munkar

Dan hijrahnya Rasulullah ke Madinah tiada lain untuk membentuk masyarakat muslim yang nantinya akan berwujud Daulah Islam. Pada masa itu bagi yang telah masuk Islam diwajibkan hijrah ke Madinah untuk memperkuat eksistensi Daulah, hidup di bawah naungannya serta berperang di bawah panji-panji Daulah Madinah.

وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَلَمْ يُهَاجِرُوا مَا لَكُمْ مِنْ وَلَايَتِهِمْ مِنْ شَيْءٍ حَتَّى يُهَاجِرُوا

“Dan terhadap orang-orang yang beriman tetapi belum hijrah, maka tidak ada sedikitpun atasmu melindungi mereka sebelum mereka hijrah.” (QS. Al Anfal : 72)

Juga dalam Surat an-Nisa; 89:

فَلَا تَتَّخِذُوا مِنْهُمْ أَوْلِيَاءَ حَتَّى يُهَاجِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ

“Maka janganlah kamu jadikan diantara mereka penolong-penolongmu hingga mereka hijrah pada jalan Allah.”

Juga turun ayat yang mengancam orang-orang Islam yang memilih hidup di negara kafir. Dan konsekwensinya mereka tidak bisa melaksanakan kewajiban-kewajiban agamanya.

إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ قَالُوا فِيمَ كُنْتُمْ قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي الْأَرْضِ قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا فَأُولَئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَسَاءَتْ مَصِيرًا (97) إِلَّا الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ لَا يَسْتَطِيعُونَ حِيلَةً وَلَا يَهْتَدُونَ سَبِيلًا (98) فَأُولَئِكَ عَسَى اللَّهُ أَنْ يَعْفُوَ عَنْهُمْ وَكَانَ اللَّهُ عَفُوًّا غَفُورًا (99)

“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri kepada mereka malaikat bertanya; dalam keadaan bagaiman kamu ini?, mereka menjawab; adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri Mekkah. Para malaikat berkata; bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?, orang-orang itu tempatnya neraka jahannam dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. Kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan untuk hijrah. Mereka itu mudah-mudahan Allah memaafkannya dan adalah Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.” (QS. An Nisaa’ : 97 – 99)

Dan ketika Rasulullah wafat, apa yang digagas para Sahabat?, ternyata suksesi kepemimpinan. Baru setelah Abu Bakar di bai’at, mereka mengubur jenazah Rasulullah SAW.

Tak pernah dijumpai dalam lembaran-lembaran sejarah orang Islam memisahkan agama dan negara kecuali setelah munculnya abad sekuler pada masa itu dan itulah yang dikhawatirkan Rasulullah, seperti hadits Mu’adz;

ألَا إنَّ رَحَى الْإسْلَامِ دَائِرَةٌ فَدَارُوْا مَعَ الْإسْلَامِ حَيْثُ دَارَ ألَا إنَّ الْقُرْآنَ وَِالسُّلْطَانَ سَيَفْتَرِقَانِ فَلَا تُفَارِقُوْا الْكِتَابَ أَلَا إنَّهُ سَيَكُوْنُ عَلَيْكُمْ أُمَرَاءُ يَقْضَوْنَ لِأَنْفُسِهِم مَا لَا يَقْضَوْنَ لَكُمْ فَإِنْ عَصَيْتُمُوْهُمْ قَتَلُوْكُمْ وَإِنْ أَطَعْتُمُوْهُمْ أَضَلُّوْكُمْ قَالُوْا: وَمَاذَا نَصْنَعُ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟، قَالَ: كَمَا صَنَعَ أَصْحَاَبُ عِيْسَى ابْنِ مَرْيَمَ، نُشِرُوْا بِالْمَنَاشِرِ وَحُمِلُوْا عَلَى الْخَشَبِ مَوْتٌ فِيْ طَاعَةِ اللهِ خَيْرٌ مِنْ حَيَاةٍ فِيْ مَعْصِيَةِ اللهِ. (رواه إسحاق بن راهويه).

“Ingatlah sesungguhnya lokomotif Islam akan selalu berputar, berputarlah kalian semua bersama Islam kemanapun Islam berputar. Ingatlah sesungguhnya al-Qur’an dan pemerintahan akan berpisah, maka janganlah kalian berpisah dengan kitab. Ingatlah sesungguhnya akan datang pada kalian para penguasa yang memutuskan perkara untuk mereka tidak pernah memperhatikan hak kalian. Bila kalian mendurhakai mereka, mereka akan membunuh kalian dan kalau kalian taat pada mereka, mereka akan menyesatkan kalian. Para Sahabat bertanya; apa yang harus kami lakukan wahai Rasulullah?, Nabi menjawab; seperti yang dilakukan pengikut-pengikut Isa bin Maryam, dibelah dengan gergaji dan disalib pada kayu-kayu. Mati mempertahankan taat kepada Allah lebih baik daripada hidup mendurhakai Allah.” (HR. Ishaq ibn Rohawiyah).[2]

Partisipasi tokoh-tokoh Islam dalam menolak formalisasi Syari’ah Islam telah membawa dampak buruk bagi upaya penegakan syari’ah Islam. Mereka tidak saja memposisikan syari’ah Islam sebagai ancaman bagi ummat Islam, tetapi juga meletakkan posisi sebagai terdakwa, bahkan biang keladi kemunduran dan menajamnya konflik antar warga. Hal ini disadari atau tidak, ikut menyukseskan skenario global yang disusun orang-orang kafir dengan mengatasnamakan demokrasi, hak asasi dan toleransi. Penolakan terhadap berlakunya syari’at Islam berdampak multikompleks, terutama bagi perbaikan Indonesia masa depan. kerusakan moral kian sulit dihentikan,kebejatan merajalela, koropsi kian menggurita, bencana kemanusiaan kian silih berganti, orang-orang kafir semakin berani melecehkan ajaran Islam dan meminggirkannya dari area politik dan pemerintahan. Akan tetapi yang paling tragis dan patut disesalkan, sekiranya Islam dimusuhi dan dicaci, mengapa harus tokoh-tokoh Islam sendiri yang melakukannya?[3]

Penentangan Syari’at Islam tampaknya dilakukan oleh sebagian tokoh dengan tidak malu-malu lagi membela kejorokan dan kemaksiatan yang amat dilarang dalam Islam. Contohnya ketua P3M, Masdar Farid Mas’udy, Katib syuriah PBNU dan juga anggota komisi fatwa MUI, tidak malu-malu lagi membela perzinaan. Diantaranya dia menyiarkan, kalau toh laki-laki nekat berzina dengan pelacur, maka hendaknya pakai kondom.

Menurut Masdar, sebaiknya kampanye kondom dilakukan tidak secara terbuka dimedia umum. Yang penting bagaimana menjangkau kaum pria yang tidak bisa menahan hajat seksualnya dan tetap nekat berhubungan seks dengan pekerja seks komersial agar mau menggunakan kondom sehingga tidak menularkan HIV kepada istrinya.

Anehnya, Masdar yang jelas-jelas antek Yahudi-Nashrani, diangkat menjadi ketua PBNU sementara dalam rapat ditempatnya KH. Musthofa Bisyri mertua Ulil, pelukis aneh, yang melukis “berdzikir bersama Inul”. Menggantikan KH. Hasyim Muzadi yang mencalonkan diri sebagai wakil presiden berpasangan dengan Megawati pada pilpres 2004. dengan demikian berarti NU telah kemasukan faham liberal, karena dipimpin oleh orang yang mengkampayekan akidah kufur. [4]

Lebih ironis lagi, Masdar Farid Mas’udy dan kedua teman se-profesinya, Ulil Absor Abdalla dan Sa’id aqil Siraj, ketiga tokoh NU kontroversial yang menjadi antek-antek Yahudi-Amerika dan Salibis itu melenggang-kangkung masuk dalam bursa kandidat ketua PBNU dalam muktamar ke-32 pada tanggal 22 Januari 2010 di Makasar, Sulawesi Selatan. apa yang terjadi jika NU, organisasi warisan agung para ulama salafussholih ini dipegang mereka. NU akan dijual ke Amerika Serikat, Australia dan negara-negara Zionis lainnya, aqidah umat Islam akan dipermainkan mereka. Sistem kurikulum pendidikan Islam bisa dirubah sesuai dengan syahwat mereka. Syahwat untuk merusak Islam yang dikendalikan oleh aktor utama mereka, Amerika.

Tentunya kita tidak rela organisasi NU dijadikan komoditi bagi berkembangnya pemikiran kufur dan aliran-aliran sesat lainnya, bahkan kepentingan orang-orang non-Muslim. Bahkan ada indikasi, mereka ingin menjadikan negara Indonesia sebagai negara Zionis-Sekuleris ke-2 seperti negara-negara mereka.

Pada tanggal 2 Desember 2007, beberapa orang akademis/ intelektual muslim Indonesia dari perguruan tinggi Islam dan pondok pesantren diundang presiden Shimon Peres ke Israil untuk misi perdamain, di Israil mereka bertemu dengan pemimpin moderat yahudi, kepala para Rabby, Uskup Munib A Younan dan presiden Israil sendiri. Pemilihan lima akademisi itu kata Charles Holland Taylor, pendiri Liberty For All Foundation yang berpusat di Winston Carolina AS karena mereka dinilai memiliki toleransi yang tinggi dan memiliki pemahaman yang baik tentang Islam. Dia percaya bahwa nantinya muslim Indonesia, Palestina, Israil akan berdamai. Susunan organisasi ini di Indonesia adalah terdiri dari: Penasehat Senior: Abdurrahman Wahid, Dewan Penasehat: Musthofa Bisyri, Abdul Munir Mulkan, Amin Abdullah, Azyumardi Azra, Romo Magnis Suseno dan Ahmad Dani. Direktor Program: Hodry Ariev.

Sebuah pertanyaan, mengapa justru orang non muslim notabene yahudi dan kristen yang mensponsori perdamaian dan merangkul orang Islam? mengapa kok orang Islam saja yang dimintai berdamai, sementara mereka sendiri selalu menyerang secara fisik dan teritori ekonomi dan politik? Beritanya tamu negara itu bernyanyi, berdansa bersama pemimpin Israil, dan menghadiri hari raya Hanukkah salah satu hari suci yahudi. Salah seorang tamu terhormat itu melaporkan kepada tuan rumahnya bahwa “ada sekelompok kecil muslim ekstrim di Indonesia, dan juga ada muslim bringas”. laporan ini dinilai sudah tendensius dan tidak seimbang.

Sungguh suatu tindakan yang memalukan dan menjijikkan, karena telah “menjual” kaum muslimin dan mereka berjabatan tangan dengan orang-orang yang paling berdosa yang tangannya berlumuran darah kaum muslimin tak berdosa, anak-anak, wanita dan orang-orang tua. mereka dibunuh secara keji diladang pembataian dan disinyalemen ada penghapusan etnis muslim secara sistematis. Bantuan makanan, obat-obatan, selimut dilarang masuk, listrik dipadamkan dan kran-kran air disumbat. Jama’ah haji Palestina tahun 2007 tertahan diperbatasan tidak boleh pulang ketanah airnya sendiri. Sementara kaum muslimin didunia khususnya di Palestina digerus dan dibantai, pada saat yang sama ditingkat elit bermesraan dengan zionis kafir dan menari diatas bangkai dan darah saudaranya. Jika tujuan pertemuan antara yahudi dan delegasi itu mengagendakan perdamaian abadi dan sejati, cukup mudah, berikan tanah Palestina yang dirampas itu kepada pemiliknya. Langkah yang mereka tempuh sebenarnya hanya untuk menguatkan cengkraman kuku Israil ditanah Baitul Maqdis dan Palestina secara keseluruhan.

Israil sejak dulu selalu merepotkan orang, tidak henti-hentinya membuat ulah. Walaupun mereka pernah dimanja tetapi kenakalannya tidak kunjung berhenti, hingga akhirnya mereka dikutuk menjadi kera yang hina. Al qur’an mengabadikan peristiwa itu, manusia menyaksikannya dan Allah SWT menegaskan karakter orang yahudi serta memberikan atensi kepada kita semua agar mewaspadai tipudayanya.[5]

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka.” (QS. Al Baqarah : 120)

يُرِيدُونَ أَنْ يُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللَّهُ إِلَّا أَنْ يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ (32)

“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya”. (QS. AS Shof : 8)

Akhir-akhir ini kerjasama sebagian umat Islam dengan orang-orang kafir sangatlah erat terjalin, bahkan diantara tokoh-tokoh Islam ada yang ikut berperan aktif dalam membela kepentingan agama orang lain, sebut saja Kristen atau Khonghucu yang dinegara kita minoritas. Yang lebih tragis banyak kalangan Pesantren, Kyai, Gus, Ibu-Ibu Nyai, yang seharusnya menjadi penjaga gawang akidah ahlussunnah waljama’ah justru mereka dengan bangga bergandengan erat dengan para tokoh liberal yang nyata-nyata telah menjerumuskan ummat Islam ke dalam kubangan kesesatan. KH. Drs. Husein Muhammad, Pengasuh Pondok Pesantren Arjawinangun, Cirebon, Jabar. KH. Drs. Afifuddin Muhajir MA, Pengasuh Pondok Pesantren Sukorejo, Asembagus, Situbondo, Jatim. Dra. Ny. Hindun Anisa. MA. PP. Krapyak, Jogjakarta. Dra. Badriyah Fayumi Lc. MA. Mereka inilah yang sudah menjadi agen murahan Zionis-Amerika, yang bergabung dalam tim 11 dibawah komando Siti Musdah Mulia lewat LSM-nya itu selalu berjuang mati-matian untuk menyuarakan kesetaraan gender, menyusun sebuah Draft Counter legal Kompilasi Hukum Islam, yang akhirnya mereka kebakaran jenggot karena buku mereka dicabut oleh Menteri Agama, oktober 2004. [6]

Mereka menghormati dan menghargai tokoh-tokoh liberal layaknya mujaddid yang membangkitkan kebesaran agama Islam, padahal Rasulullah telah bersabda :

مَنْ وَقَّرَ صَاحِبَ بِدْعَةٍ فَقَدْ أَعَانَ عَلَى هَدمِ الإِسْلاَمِ

“Siapapun yang memuliakan pembuat bid’ah berarti dia telah membantu kehancuran agama Islam” (HR. Al Baihaqi )

Gerakan kaum muda PBNU yang dipelopori oleh Sa’id Aqiel Siradj, dan didorong oleh Gus-Dur untuk memodernisasikan pemikiran pengurus dan warga NU. Bahkan mengulang kembali “Asas NU”, yaitu madzhabnya dua Imam (Abu Hasan al-Asy’ary dan Abu Mansur al-Maturidy) dan Madzahibul Fuqaha’ al-Arba’ah, sudah sangat memperhatikan.

Menurut pendapat kami bahkan keyakinan kami, ini sangat berbahaya, bahkan lebih menyimpang dari pada Jam’iyyah Muhammadiyah. Karena, mereka masih menghormati fatwa-fatwa ulama mereka dan dalam dasarnya tetap berpegangan dengan al-Qur’an dan Sunnah. Walaupun mungkin salah tata caranya.

Kalau Sa’id mengajak “Nahdlah” diartikan dengan menerima pemikiran-pemikiran dan budaya non Islam, ini berarti berakibat mengajak kepada kekufuran.

Sa’id Aqil. Katanya, ‘Abu Bakar tak punya integritas, Umar hanyalah putra mahkota yang berarti terpilihnya tidak lewat pemusyawaratan, tapi ditunjuk langsung oleh Abu Bakar. Dan lebih tragis adalah nasib sayyidina Utsman. Beliau dipikun-pikunkan oleh Sa’id Aqiel dan suka menghambur-hamburkan uang pada kerabatnya.’

Sa’id Aqiel, tokoh Syi’ah antek Khomeni yang mengaku NU itu terus mengumbar mulut kotornya, dalam makalahnya, Sa’id mengatakan bahwa pada enam tahun terakhir dari kekhilafahan Utsman terjadi banyak kesalahan yang bersumberkan dari Marwan dengan mengangkat pejabat dari golongan Bani Umayyah.

Bagaimanakah sebenarnya permasalahan tersebut…? Siapakah sebenarnya Marwan? Apakah dia seorang yang tak pantas jadi pejabatnya? Dan salahkah bila kekhalifahan sayyidina Utsman diwarnai kelompok Bani Umayyah? Atau bagaimanakah sebenarnya peristiwa tersebut? Maka, tulisan-tulisan di bawah ini akan membuka lebar-lebar mata Sa’id Aqil yang sebenarnya belum begitu pengalaman tentang sejarah para Sahabat Rasulullah SAW. sehingga lucu sekali bila Sa’id Aqil diberi titel “Pakar Sejarah”. Dan sangat disayangkan bila dia menyandang gelar “Doktor”.

Sayyidina Utsman dalam menjalankan pemerintahannya sama sekali tidak didikte oleh Marwan bin Hakam. Justru Marwan mendapat amarah dari Khalifah Utsman manakala hendak campur tangan urusan beliau dalam menangani para demonstran. Ini suatu bukti bahwa walaupun sayyidina Utsman sudah tua namun tak bersedia dicampuri pihak lain dalam melaksanakan amanat kekhalifahannya. Entah sumber dari mana yang mendikte Sa’id Aqil untuk melontarkan tuduhan keji pada sayyidina Utsman sampai mengatakan bahwa, pada masa ini (6 tahun terakhir) khalifah Utsman sudah mulai usia senja (harom) sehingga hampir semua urusan pemerintahan banyak didikte oleh sekretarisnya, Marwan bin Hakam.

Mungkin Marwan telah banyak melakukan kesalahan dalam masa pemerintahan sayyidina Utsman. Tapi, hal itu bukanlah merupakan sebab timbulnya kekacauan dan pemberontakan. Sebab utamanya adalah munculnya isu-isu negatif yang ditiupkan oleh orang Yahudi bernama Abdullah bin Saba’. Dan jikalau Sa’id Aqil mengingkari adanya Abdullah bin Saba’ sehingga menganggapnya sebagai tokoh fiktif, maka itu adalah suatu pertanda bahwa dia (Sa’id Aqil) adalah benar-benar bodoh dan tak kenal sejarah. Karena, Thobariy, al-Kamil dan al-Bidayah telah memuatnya. Sungguh memalukan bualan si-Doktor sejarah malah tak mengetahuinya. Inilah akibatnya bila mata hati telah rusak dan teracuni ajaran sesat Syi’ah. Buktinya, Sa’id Aqil ikut menghadiri pertemuan “Peringatan Arba’in” di Malang. Dan di sana dia mengaku terus terang sebagai agen Syi’ah. Demikian pula dalam pertemuan “Peringatan Karbala” yang diadakan pengikut-pengikut Syi’ah di Jakarta, dia juga ikut mendatanginya. [7]

Nabi bersabda:

ِستَّةٌ لَعَنْتُهُمْ لَعَنَهُمُ اللهُ وَكُلُّ نَبِيٍّ مُجَابٌ الزَّائِدُ فِىْ كِتَابِ اللهِ وَالْمُكَذِّبُ بِقَدَرِ اللهِ تَعَالَى وَالْمُتَسَلِّطُ بِالْجَبَرُوْتِ فَيُعِزُّ بِذَلِكَ مَنْ اَذَلَّ اللهَ وَيُذِلُّ اللهُ وَيُذِلُّ مَنْ اَعَزَّ اللهَ وَالْمُسْتَحِلُّ لِحَرَمِ اللهِ وَالْمُسْتَحِلُّ مِنْ عِتْرَتِىْ مَا حَرَّمَ اللهُ وَالتَّارِكُ لِسُنَّتِيْ .

“Ada enam orang yang aku la’nat di la’nat Allah dan semua nabi yang di kabulkan do’anya,yaitu orang yang memberi tambahan arti dalam Al Qur’an (yang tidak sesuai dengan apa yang diajarkan Rasulullah), orang yang mendustakan qodarnya Allah, orang yang otoriter dengan kekuasaannya, maka dia memulyakan orang yang direndahkan Allah (Kafir, Ahli Bid’ah, orang fasiq) dan merendahkan orang yang dimulyakan Allah (Ulama, orang sholeh), orang yang merendahkan tempat-tempat yang dimulyakan Allah ,(berbuat ma’siat, keonaran di Tanah Haram Makkah, Madinah, Masjid, Pesantren dll.), orang yang menghalalkan perkara yang telah diharamkan oleh Allah atas keturunanku (Membunuh, berbuat asusila, menghina,melecehkan dll.) dan orang yang meninggalkan sunnahku” (HR. Al Hakim)

Sa’id Aqil Siradj, Penasehat Gerakan Pemuda Kristen Indonesia, yang pernah memasukkan aliran Syiah di NU, menghina Nabi dan para Shahabatnya, dia berkata: “Nabi Muhammad tidak berhasil mempersatukan orang arab, dengan bukti, sepeninggal beliau orang arab murtad, kecuali Quraisy (Anshor), itupun tidak keluarnya dari islam bukan karena agama tetapi karena fanatik kesukuan”, (Hartono Ahmad Jaiz, Ada Pemurtadan di IAIN) dalam makalahnya,dia menghujat Shahabat “Abu Bakar tak punya integritas, Umar hanyalah putra mahkota yang berarti terpilihnya tidak lewat pemusyawaratan, tapi ditunjuk langsung oleh Abu Bakar. Dan lebih tragis adalah nasib sayyidina Utsman. Beliau dipikun-pikunkan oleh Sa’id Aqiel dan suka menghambur-hamburkan uang pada kerabatnya” (Makalah Said yang disampaikan pada tanggal 19 Oktober 1996 di Kantor PBNU Jakarta) dia bilang: “Tauhid Islam dan Kristen sama saja”. [8]

Omongan yang keterlaluan, entah iblis mana yang telah memengaruhi pikiran Said Aqil, sehingga dia merasa melebihi Allah SWT, berani menghujat Nabi dan Shahabatnya.

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ (4)

“Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.”(QS. Al Qolam : 4)

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ

“Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, Sesungguhnya ia Telah mentaati Allah. dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), Maka kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” (QS. An Nisaa’ : 80)

وَكَانَ فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكَ عَظِيمًا (113)

“dan karunia Allah sangat besar atasmu.” (QS. An Nisaa’ : 113)

تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ

“Rasul-rasul itu kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain.” (QS. Al Baqarah : 253)

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللَّهِ

“Dan kami tidak mengutus seseorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah.” (QS. An Nisaa’ : 64)

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ فَخْرَ ، وَأَنَا أَوَّلُ مَنْ تَنْشَقُّ عَنْهُ الأَرْضُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ فَخْرَ ، وَأَنَا أَوَّلُ شَافِعٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ فَخْرَ.

“Rasulullah bersabda: aku adalah tuan anak keturunan Adam di hari kiamat, dan tidak ada kesombongan. Akulah orang yang pertama kali keluar dari bumi di hari kiamat, dan tidak ada kesombongan. Akulah orang pertama yang minta syafa’at di hari kiamat, dan tidak ada kesombongan.” (HR. Ahmad)

عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قال: كان بين خالد بن الوليد وبين عبد الرحمن بن عوف شَيْئٌ فَسَبَّهُ خَالِدٌ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : لاَ تَسُبُّوا أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِى فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَوْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيفَهُ

“Diantara Kholid Bin Walid dan Abdur Rahman Bin A’uf telah terjadi sesuatu, lalu Kholid mencacinya. Mendengar hal itu, Rasulullah SAW bersabda: Janganlah kamu mencaci shahabatku, maka sesungguhya walaupun salah seorang dari kamu membelanjakan emas sebesar gunung uhud sekalipun, dia dapat menandingi salah seorang ataupun separuh dari mereka” (HR. Bukhori Muslim)

Amanah yang diemban oleh para ulama pesantren adalah mengkader para santri menjadi generasi penerus perjuangan para ulama dalam memelihara, membela dan mempertahankan akidah ahlussunnah wal jama’ah sekaligus membimbing umat agar mereka selalu berada di jalan yang diridhoi Allah. Namun dengan sikap sebagian dari mereka yang menjalin kerjasama dengan kalangan liberal justru mereka telah mencederai amanah itu. Akhirnya kini banyak alumni pesantren yang berada di garda depan dalam membela faham liberal dan banyak pula masyarakat yang menganut faham liberal dalam kehidupan keagamaan mereka. Naudzubillah Min Dzalik.

Marilah kita selamatkan umat islam dari wabah Sekulerisme. Demi kehidupan yang baik dari generasi ke generasi di bawah bendera Islam ahlus sunnah wal jama’ah.


  1. M. Sudarto, Transparansi Rasional, Menjawab dan Menyoal Balik Pemikiran-Pemikiran Liberal
  2. M. Sudarto, Transpalasi Rasional, Menjawab da menyoal balik pemikiran-pemikiran Liberal
  3. KH. Lutfi Bashori, Musuh Besar Ummat Islam
  4. Hartono Ahmad Jaiz, Jejak Tokoh Islam Dalam Kristenisasi
  5. Dr. HM. Afif Hasan, M. Pd, Membongkar Akar Sekularisme
  6. Hartono Ahmad Jaiz, Ada Pemurtadan di IAIN
  7. KH. Muh. Najih Maimoen, Kerusakan Jalan Pikiran Sa’id Aqil Siradj, Tanggapan Makalah Sa’id Aqil Siradj, 19 oktober 1996 di Kantor PBNU
  8. Majalah Bidik, Januari 2003

artikel sumber: Ancaman Liberalisme, Salafy-wahabi, Sekularisme (Bagian VII)


Artikel Terkait