Ketika Ulama NU Mengadili Tokoh Liberal NU – Bag.III

Shortlink:

[KILAS BALIK] Para Kiai lurus dan Istiqomah kembali mengadili Gus Dur. Pertemuan kubu Gus Dur dan penentangnya berubah menjadi pengadilan terbuka di Pesantren Zainul Hasan, Genggong, Probolinggo, Jawa Timur.

Tampak hadir Gus Dur (panggilan Abdurrahman Wahid), Wahid Zaini, Wakil Ketua PBNU Jawa Timur, KH Imron Hamzah, Ketua Syuriah PWNU Jawa Timur, Choirul Anam, Ketua GP Anshor Jawa Timur, dan H. Mahid Asa, Ketua Forum Komunikasi Generasi Muda NU. Sedangkan dari pihak yang berseberangan hadir Muhammad Tohir, Wakil Ketua PWNU Jawa Timur dan anggota Dewan Pakar ICMI Pusat, KH Badri Masduki, pengasuh Pesantren Badridduja, Kraksaan, Probolinggo, serta KH Bashori Alwi, pimpinan Pesantren Ilmu Al-Quran, Malang, yang anggota Mustasyar PWNU Jawa Timur. Ada pun Pak Ud, panggilan akrab KH Yusuf Hasjim, KH. Hasyib Wahab, dan KH. Attabik Ali, yang direncanakan hadir, ternyata berhalangan.

Acara dibuka pertama oleh KH Imron Hamzah dengan doa bersama untuk kesembuhan KH. Sochib Bisri — paman kandung dan penentang Gus Dur — yang kini tengah sakit. Kemudian KH. Hasyim Muzadi selaku moderator mempersilakan Muhammad Tohir, Kiai Badri, dan Kiai Bashori untuk berbicara. Di tengah suasana hujan deras, pertemuan dua setengah jam itu ternyata berlangsung panas.

Menurut KH. Hasyim Muzadi, pertemuan berhasil merumuskan beberapa kesepakatan dan saling pengertian. Para pihak sepakat untuk mengadakan pertemuan serupa di tingkat PBNU tiga bulan sekali.

“Setidaknya untuk mengakomodasikan berbagai macam pikiran dan meluruskan beberapa hal yang tak benar,” katanya. Melalui pertemuan semacam itu, mereka mengharapkan muncul langkah antisipatif. Mereka sepakat agar PBNU membuat tuntunan tentang ajaran ahlusunah waljamaah secara utuh. Baik tentang masalah akidah, peribadatan, maupun urusan sosial dan kenegaraan. “Tapi saya tak mengatakan bahwa persoalan sudah dianggap selesai. Yang penting, kini sudah ada cara penyelesaian dengan mengadakan pertemuan-pertemuan,” ujar KH. Hasyim Muzadi.

Tapi keterangan itu justru membuat gerah Kiai Badri dan kawan-kawannya yang “menghajar” Gus Dur.

Menurut Kiai Badri, pertemuan tak menghasilkan keputusan tentang materi yang didiskusikan. Kiai Badri menyatakan bahwa masalah akidah sudah dikemukakan secara blak-blakan, tapi tak selesai.

Misalnya, menurut Kiai Badri, ia mempertanyakan ucapan Gus Dur bahwa menyembelih binatang cukup dengan menyebut nama Tuhan, bukan Bismillah. “Saya pernah dengar pernyataan Gus Dur bahwa menyembelih binatang itu tak harus membaca nama Allah, yang penting sudah menyebut nama Tuhan,” kata Kiai Badri. Padahal, menurut Kiai itu, di dalam Quran jelas disebutkan bahwa untuk menyembelih hewan, harus menyebut nama Allah.

Menjawab persoalan itu, menurut Effendy Choiri dari Litbang PWNU Jawa Timur, yang ikut dalam pertemuan, Gus Dur mengatakan bahwa itu adalah problem UUD 1945. Bahwa di dalam UUD 1945, semua warga negara punya hak yang sama, termasuk untuk menyembelih binatang. Problemnya, apabila yang menyembelih itu orang nonmuslim, lalu kita menyerang mereka karena dianggap tak sesuai dengan hukum Islam. Di mata UUD 1945, tindakan seperti itu, menurut Gus Dur, tak dibenarkan. Maka problem itu dilemparkan Gus Dur, agar menjadi bahan pemikiran.

Di dalam pertemuan itu, Kiai Bashori mengatakan pernah mendengar pidato Gus Dur di Bangil, Jawa Timur, menyebut Ayatullah Khomeini sebagai waliyullah atau wali terbesar abad ini. Padahal, menurut pendapat ahlusunah waljamaah, jelas bahwa Syiah itu menyimpang dari Islam. Maka Kiai Bashori bertanya, “Bagaimana sih sebenarnya akidah sampeyan tentang Syiah ini?”

Menurut Effendy Choiri, yang dikenal sebagai pendukung Gus Dur, jawaban Gus Dur sebagai berikut: dari segi akidah, memang beda antara Syiah dan Sunni. Saya melihat Khomeini itu waliyullah bukan dalam konteks akidah, melainkan dalam konteks sosial. Khomeini adalah satu-satunya tokoh Islam yang berhasil menegakkan keadilan, memberantas kezaliman, dan lain-lain. Jadi soal akidah kita tetap beda dengan Syiah.

Tapi, seperti dikatakan Kiai Badri, akhirnya pertemuan selesai begitu saja. Yang jelas, dalam pertemuan itu ternyata tak ada upaya untuk melakukan muktamar luar biasa, yang semula ramai sebagai tuntutan para kiai.

di olah dari IN: GATRA – Bertemu Gus Dur di Zain


Artikel Terkait