Ketika Ulama NU Mengadili Tokoh Liberal NU – Bag.II

Shortlink:

Kali ini kami akan menceritakan persidangan yang di lakukan langsung oleh para putra pendiri NU terhadap keponakannya yang liberal.

Lebih dari 20 ulama NU bertemu di Jombang, sepakat menggusur Gus Dur melalui muktamar luar biasa. Mereka antara lain: KH. Yusuf Hasyim (Pengasuh Pesantren Tebu Ireng Jombang yang merupakan Putra Hadhrotus Syaikh yang merupakan paman Gus Dur, KH Shohib Bisri Putra KH. Bisri Syamsuri Salah satu Rois ‘Am NU generasi awal, beliau juga paman Gus Dur, KH Attabik Ali (pengasuh Pesantren Al Munawir Ali, Krapyak, Yogyakarta dan putera Kiai Ma’shum Krapyak), KH Sholeh Wahab (pengasuh Pesantren Bahrul Ulum, Jombang), KH Sarodji (pengasuh Pesantren Asalafik, Babakan, Cirebon), Dan segenap para ulama NU yang gerah dengan kelakuan GD.

KH. Yusuf Hasjim dan KH. Shohib Bisri, keduanya paman kandung Gus Dur, dalam undangan mengajak ulama se-Jawa melakukan istighotshah — Shalat atau doa meminta pertolongan Allah SWT dalam keadaan genting. Selain itu, mereka juga bermaksud berziarah ke makam KH. Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbullah, dan KH Bisri Syamsuri, ketiganya dikenal sebagai ulama puncak yang pernah ada di NU, dan dimakamkan di Jombang.

Kamis pagi, 7 September, para undangan berkumpul di ruang pertemuan Pesantren Tebu Ireng. Dari sini mereka menuju makam. Usai ziarah, acara dilanjutkan dengan bincang- bincang di kediaman Kiai Shohib Bisri di kompleks Pesantren Mambaul Maa’arif. mereka melihat NU dalam kondisi genting. Di mata mereka, NU menyimpan segudang problem yang perlu segera diatasi.

Semua itu, lanjut mereka, tak terlepas dari ulah Gus Dur yang mengundang bahaya. Umpamanya ia runtang- runtung — kian kemari bersama — dengan Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia, Megawati, yang menimbulkan isu Gus Dur akan menggiring warga NU masuk PDI. Padahal, dulu Gus Dur selalu
menghantam lawannya dengan tuduhan terlibat politik praktis, sementara ia sendiri bersih dari politik praktis. Sebagaimana maklum Gus Dur menggunakan poros Situbondo dengan jargon kembali ke Khittah untuk menggulingkan KH. Idham Khalid.

Selain itu, Gus Dur tampak sibuk dengan Forum Demokrasi, dan lain-lain. Tak lupa mereka menyoroti gaya kepemimpinan Gus Dur yang cenderung menyepelekan peran ulama di lembaga Syuriah, lembaga tertinggi NU yang dipimpin oleh Rais
Am KH Ilyas Ruchiyat. Walhasil, kata mereka, satu-satunya cara untuk menyelamatkan organisasi hanyalah dengan mengganti/ memecat Ketua Umum Tanfidziyah yaitu Gus Dur.

Muncul suara keras dari KH Badri Masduqi.
“Sudah waktunya kita bertindak. Tak perlu lagi siasah untuk menggulingkan Abdurrahman Wahid,” ujar pimpinan Pesantren Badriduya, Kraksaan, Probolinggo.

Ada juga yang memilih cara baik-baik, meminta Gus Dur mundur. Cara paksa jelas bukan gaya ulama. Namun mereka juga tak yakin Gus Dur bersedia mundur. Maka mereka memilih cara konstitusional:
Muktamar Luar Biasa (MLB). Karena yang berhak memutuskan penyelenggaraan MLB adalah Syuriah, mereka menunjuk KH. Yusuf Hasyim, KH. Shohib Bisri, dan KH. Hasib Wahab untuk segera menemui Rais Am KH. Ilyas Ruchiyat. Mereka akan menuntut supaya Syuriah segera menggelar rapat pleno dan memutuskan pelaksanaan MLB.

“Pesantren Tebu Ireng siap menjadi tuan rumah Muktamar Luar Biasa,” ujar KH. Yusuf Hasyim.

Bulat sudah tekad mereka. Keberangkatan para utusan ke KH. Ilyas Ruchyat tinggal menunggu waktu. Namun mereka sadar, pendukung Gus Dur tak akan tinggal diam. Seperti kata KH Muhammad Thohir dari Surabaya, di sekeliling Gus Dur berdiri pendukung setia yang cenderung mengkultuskan cucu KH. Hasyim Asy’ari itu.

Yang pasti, Gus Dur sedang menghadapi masalah. Selain manuver dari Jombang, berbagai aktivitas warga NU menunjukkan tanda-tanda untuk berpaling darinya. Di Jawa Timur, akhir Agustus lalu, Ahlith-Thariqah Al-Muktabarah An-Nadliyah, organisasi kaum sufi yang menghimpun para kiai senior NU pimpinan KH. Idham Chalid, menyatakan keluar dari NU. Konferensi besar Ikatan Pemuda/Pelajar NU (IPPNU) di Jambi, tanggal 8-10 September silam, adalah bentuk pembangkangan yang lain. Gerakan Pemuda Anshor juga tampaknya melanggar larangan yang sama. Mereka akan mengadakan muktamar di Palembang, Sumatera Selatan, pekan ini, yang juga dianggap daerah “terlarang” oleh Gus Dur.

Diolah dari IN: GATRA – Serangan Baru buat Gus


Artikel Terkait