Ketika Ulama NU Mengadili Tokoh Liberal NU – Bag.I

Shortlink:

Persidangan Terhadap Said Agil Semenjak Menjabat Katib Syuriah PBNU

Pemimpin JIL Ulil Abshar Abdalla dalam tulisannya di Tempo mengungkap Said Agil Siradj sudah berkali -kali dan sering di sidang para Kiyai NU semenjak mengampanyekan syiah dalam tubuh NU.

Pada tahun 1996, Ulil mengungkapkan bahwa Dua tahun yang lalu, ketika baru pulang dari Arab, Said Agil diundang dalam sebuah diskusi terbatas oleh anak-anak muda NU. Diskusi yang juga dihadiri oleh kolumnis Mohamad Sobari itu, membicarakan gagasan Kiai Said mengenai “Penafsiran Kembali Doktrin Ahlussunnah Wal Jama’ah”. Ketika itu, Kiai Said banyak mengungkap aspek-aspek yang kritis dalam sejarah pembentukan doktrin tersebut. Dia menganggap bahwa definisi doktrin Aswaja yang dibuat oleh Hadlratussyeikh K.H. Hasyim Asy’ari, “boleh dianggap memalukan, jika didengar orang lain”. Pernyataan ini rupanya yang menyebabkan “sengatan” luar biasa pada kalangan kiai-kiai sepuh.

Beberapa hari setelah MLB di Pondok Gede kubu KH. Abu Hasan Dan lahirlah PBNU tandingan melawan NU Gus Dur, sebuah surat protes melayang ke PBNU. Surat itu ditandatangani 12 orang antara lain:

KH. Attabik Ali (putera Kiai Ma’shum Krapyak), KH. Hasib Wahab (putera Kiai Wahab Hasbulloh), KH. Badri Masduki, KH. Abdul Hamid Baidlowi, KH. Bashori Alwi Ayahanda KH. Luthfi Bashori. Menurut para ulama istiqomah ini, Sa’id Agil telah menyeleweng dari doktrin resmi NU, dan, karenanya, harus di- DO dari kepengurusan PBNU. Belakangan, kiai Badri Masduki malah mengirim surat ke majalah , Aula terbitan PW-NU Jawa Timur. Isinya seabreg argumen yang menyatakan: Sa’id Agil telah murtad.

Menurut Ulil, pengamat beranggapan bahwa Sa’id Agil adalah sasaran antara. “Saya kira ada benarnya itu,” kata Sa’id Agil suatu ketika. The real target tentu Gus Dur. Tentu ini tak aneh. Tuduhan pasal Syi’ah bahkan mengenai Gus Dur sendiri. Dalam berbagai kesempatan, Gus Dur selalu mengatakan bahwa secara kultural, NU ada kesamaan dengan Syi’ah. Tradisi pemujaan wali, kepercayaan pada keramat, ziarah kubur, penghormatan kepada ahlul bait (keluarga Nabi: Ali, Fatimah, Hasan, Husen), adalah sebagian tradisi yang berkembang kuat di kalangan Syi’ah. Pernyataan Gus Dur ini, oleh Kiai Hamid Badlowi dan kiai-kiai yang sepaham, dianggap sebagai perasaan simpati pada Syi’ah.

Ulil melanjutkan, Tanggal 11 Maret lalu, berlangsung semacam “pengadilan” atas Sa’id Agil di Bangil. Acara itu bertempat di Pesantren Wahid Hasyim, asuhan Kiai Chalid Syakir, dihadiri oleh 70 kiai lokal serta ratusan warga nahdiyyin. Selama kurang lebih tiga jam, Sa’id Agil dengan didampingi Gus Dur, mempertanggungjawabkan ide-idenya.

Selang tiga hari kemudian, 14 Maret, “pengadilan” berlangsung kembali. Kali ini di Madura, daerah yang paling fanatik “memeluk” (agama?) NU. Bertempat di
pesantren Syaikhuna, Bangkalan, Sa’id Agil harus berbicara mengenai ide-idenya yang “nakal” di hadapan publik awam. Dia sempat bingung. Tapi dengan dukungan Gus Dur, masyarakat Bangkalan akhirnya bisa di”maklum”kan. Konon, acara serupa akan digelar di berbagai tempat di Jawa Timur.
Ulil menambahkan, Cabang NU Pasuruan, dua bulan lalu, melayangkan surat ke PBNU, agar Sa’id Agil dicopot.

” Tahun 1988, di Pesantren Buntet, Cirebon, terjadi “pengadilan” atas Gus Dur . Juga ketika muktamar Cipasung. Dengan retorikanya yang cerdas, Gus Dur bisa mendudukkan segala soal yang semula nampak kontroversial, termasuk isu kunjungan ke Israel yang oleh majalah Gatra di”sulut-sulut” untuk membangkitkan sentimen ABG (Asal Bukan Gus Dur).” Tulis Ulil.

Diolah Dari Tulisan Ulil Abshar-Abdalla  pada Tempo

Jadi sebenarnya para Ulama NU yang lurus sudah resah dari dulu. Kalau hari ini kami muncul lalu para ABG labil Gusdurian marah -marah, Sejatinya mereka adalah korban doktrin dari liberalisasi yang semakin akut. Ditambah doktrin Wali, doktrin fanatik buta, cerita palsu kewalian semakin memupuk liberalisasi. Wallahu Alam.

Semoga Allah memberi kita kekuatan untuk melakukan perlawanan. Aamiin


Artikel Terkait