HABIB ACHMAD BIN ZAIN AL-KAFF: SYIAH JUGA ANCAMAN BAGI KEDAULATAN NKRI

Shortlink:

Habib-Zein-Al-Kaff1

Berbagai upaya dan strategi dilakukan oleh kelompok Syiah untuk menyebarkan pahamnya. Mereka mencari celah dan peluang dari berbagai sisi dan aspek untuk menyusup dan menghujamkan cengkeramannya; melalui ekonomi, pendidikan, sosial budaya, dan politik. Dengan pendanaan yang kuat dari Iran, semakin lama ancaman pergerakan Syiah semakin membahayakan.

Berikut perspektif Habib Achmad bin Zain Al Kaff, Ketua Majelis Syura Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) terkait gerakan politik Syiah yang kian hari kian gencar di Nusantara ini, saat diwawancarai Alil Wafa, Pemred SIDOGIRI, di kediamannya beberapa waktu yang lalu.

1. Tanya: Menyikapi penyerangan masjid az-Zikra, Sentul pada Rabu malam (11/2/2015) oleh sekelompok orang yang ditengarai sebagai orang-orang Syiah?
Jawab: Meskipun ada pernyataan dari tokoh mereka, bahwa yang melakukan penyerangan itu bukan orang-orang Syiah, tapi ada di antara mereka yang dengan terang-terangan mengakui bahwa mereka kelompok Syiah. Apalagi yang memicu adanya penyerangan tersebut adanya spanduk di sekitar masjid yang berisi penolakan terhadap paham Syiah. Ini kok sama seperti Jalaluddin Rahmat yang tidak mengakui kalau dirinya Syiah. Saya melihat Jalaluddin Rahmat itu tidak punya keberanian untuk mengakui dirinya Syiah.

Ini sebenarnya bukan kejadian yang pertama kali. Beberapa hari sebelumnya, juga di Sentul, di masjid As-Sa’adah, di sana akan mengadakan sebuah acara, ternyata panitia diteror oleh beberapa orang, sekitar 50-an, mereka teriak-teriak agar acara digagalkan dan tidak dilanjutkan. Ada profokator yang memanas-manasi. Saya sudah beli tiket ketika itu. Acaranya Ahad pagi, mereka meneror hari Jumat malam. Panitia sempat ketakutan.

Paginya saya ditelepon, acaranya terkendala, kalau terpaksa gagal, silaturrahim saja, kata panitia. Saya jawab ya tidak masalah, monggo, saya sudah beli tiket, saya tetap datang. Saya sebarkan kejadian ini via watsap. Banyak dukungan kepada panitia agar acara tetap diadakan, meskipun tidak di tempat itu, bisa dipindah ke tempat lain. Dari dewan dakwah juga menelepon, memastikan apakah saya tetap hadir atau tidak? Saya langsung ke Bogor, semua dikumpulkan, dan mereka punya semangat hamasah semua. Saya bilang harus bersatu, tidak boleh kelihatan lemah, dan acara harus tetap terlaksana.

Sebelumnya lagi di masjid Bintaro. Ya orang yang meneror itu-itu juga. Panitianya yang didatangi, bukan menyerbu ketika acara. Acara kurang lima hari, panitia didatangi agar spanduk acara diturunkan. Panitia ketakutan. Saya ditelpon ketika itu. Saya bilang, teruskan saja acara itu, kita harus bersatu, tidak boleh takut dengan ancaman-ancam seperti itu.

2. Tanya: Bagaimana Habib melihat perkembangan kelompok Syiah di Nusantara dewasa ini?
Jawab: Begini, Indonesia ini kan bumi Ahlusunah wal Jamaah. Meskipun di dalamnya terkotak-kotak dalam berbagai organisasi Islam; ada NU, ada Muhammadiyah, dan lainnya, tapi mereka bisa berdampingan. Perbedaan masih dalam batas furû’ yang bisa ditoleransi, sehingga tidak ada masalah. Nah kemudian ada satu kelompok datang.

Mengaku cinta kepada Ahlul Bait, tapi mengolok-ngolok, bahkan mengkafirkan para Shahabat nabi, mencaci sayyidah Aisyah, mengatakan al-Quran tidak lengkap. Nah ini yang kemudian membuat masyarakat kita marah.

Perbedaannya bukan pada batas yang bisa ditoleransi, tapi ini sudah menyangkut hal yang asasi. Nah sikap mereka yang seperti itu membuat masyarakat kita marah. Siapa yang akan terima kalau Shahabat Abu Bakar, Umar dan lainnya, dicaci bahkan dikafirkan.

Selama hal ini dibiarkan dan tidak ada langkah tegas dari pemerintah, maka sampai kapanpun tidak akan pernah selesai konflik antara kita dengan mereka. Akan terulang lagi kisruh seperti di daerah sampang dulu. Akan ada lagi penyerangan-penyerangan seperti di Yapi bangil. Kita dan mereka itu seperti air dan minyak. Apa mungkin air dan minyak jadi satu. Tidak mungkin. Meskipun kita berusaha menaruhnya di dalam satu ember.

3. Tanya: Jadi ketegasan pemerintah sangat dibutuhkan?
Jawab: Ya! Sudah pasti sangat dibutuhkan.

4. Tanya: Bagaimana Habib melihat sikap pemerintah selama ini?
Jawab: Sebenarnya pemerintah itu tahu, sadar kalau Syiah itu bukan hanya sekadar ancaman akidah, tapi juga ancaman keutuhan NKRI. Karena Syiah menganggap pemerintahan selain imamah tidak sah. Begitupun dengan NKRI, mereka menganggapnya tidak sah. Jadi jelas Syiah adalah ancaman serius juga terhadap kedaulatan NKRI.

Pemerintah bukannya tidak tahu kesesatan Syiah. Mereka tidak bisa bersikap tegas, karena mereka melihat ulama-ulama kita, utamanya di NU sendiri, malah rukun-rukun saja dengan Syiah, malah menjadi pembela Syiah, mesra dengan Iran. Ini yang sulit. Ini yang paling berbahaya sebenarnya. Ulama kita sekarang sudah bisa dibeli. Kalau ulama sudah bisa dibeli, hilang sudah kemauan mereka untuk tegas mengatakan ini benar dan ini salah. Aneh kan kalau ada ulama NU minta bukti kesesatan Syiah.

Kita kalah dengan Malaysia. Ulama di sana tidak bisa dibeli. Pemerintahnya bisa dengan tegas melarang Syiah beraktivitas, sehingga perkembangan Syiah di sana, tidak seperti di negeri kita ini.

5. Tanya: Pergerakan dan strategi politik mereka yang perlu kita waspadai?

Jawab: Mereka itu terus bergerak mencari celah, tidak tidur siang dan malam, sedangkan kita nyenyak saja tidurnya, tidak sadar, atau tidak tahu menahu kalau Syiah itu sudah sangat mengancam sekali. Di antara strategi mereka adalah mengkader pemuda-pemuda dengan cara memberikan beasiswa untuk melakukan studi di Iran. Sudah ribuan pelajar Indonesia yang berada di Iran. Hampir bisa dipastikan setelah mereka pulang, meskipun tidak 100 %, mereka akan menjadi pembela dan penyebar paham Syiah. Jumlah mereka tidak begitu banyak. Tapi ketika pulang, mereka punya orang tua, punya anak nantinya, punya istri, dan kerabat-kerabat dekat di rumahnya. Parahnya, yang menjadi mediator beasiswa- beasiswa ini adalah NU. Jadi menurut saya, pemuda-pemuda Islam di Indonesia jangan mau menerima beasiswa-beasiswa seperti ini. Berbahaya.

Salah satu upaya-upaya yang mereka lakukan adalah, dengan mendirikan lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia. Salah satu contoh gamblangnya YAPI Bangil. Biayanya murah, bahkan gratis. Dananya dari Iran.

Mereka juga berupaya melakukan pergerakan melalui birokrasi dan politik. Mereka juga terendus menunggangi partai politik tertentu. Paling tidak, ini terindikasi dari ruang gerak mereka yang saat ini mulai menemukan angin segar. Kalau dulu Syiah itu tidak berani menampakkan diri. Mereka bergerak sembunyi-sembunyi, karena memang pemerintah ikut melarang berbagai aktivitas dan penyebaran Syiah. Tapi saat ini, mereka menemukan momentumnya, blak-blakan di berbagai media, bahkan sampai mengadakan seminar nasional di kantor Kemendagri. Ini indikasi kuat kalau orang-orang Syiah sudah masuk ke panggung politik.

==========
Rubrik Wawancara SIDOGIRI edisi 102, Jumadats-Tsaniyah 1436 H.


Artikel Terkait