[BUKU] Kisah Pendirian Nahdlatoel Oelama

Shortlink:

BUKU pendiri NU

Judul : The Founding Fathers of Nahdlatoel Oelama
Penulis : Amirul Ulum, dkk
Sambutan : KH. Maimoen Zubair
Pengantar : Prof. Dr. M. Abdul Karim, M.A.
Cetakan : I, September 2014
Penerbit : Bina Aswaja, Surabaya
Tebal : xxviii+278 Halaman
ISBN : 978-602-70139-2-6

Organisasi sosial keagamaan, Nahdlatoel Oelama (NU), berandil besar dalam perjuangan dan mengisi kemerdekaan. Dalam kancah internasional, NU kerap kali menjadi rujukan perdamaian dunia.

Buku The Founding Fathers of Nahdlatoel Oelama mengisahkan para kiai pendiri NU. Tanggal 31 Januari 1928, kiai pesantren se-Jawa dan Madura berkumpul. Mereka memilih KH Hasyim Asyari sebagai Rois Akbar NU yang diwakili KH A Dahlan Ahyad (halaman 26).

Perkumpulan yang juga menjadi hari lahir NU tersebut dipimpin KH Wahab Hasbullah, konseptornya. Walaupun demikian, Wahab tidak menerima jabatan Rais Akbar (halaman 45). Nama NU usulan KH Mas Alwi bin Abdul Aziz. Peran Syaikhona Kholil tidak bisa dilepaskan sebagai penyemangat (halaman 63).

Jauh hari sebelum pertemuan, para kiai gusar ingin mendirikan organisasi. Syaikhona Kholil mengutus KH Asad Syamsul Arifin, salah seorang muridnya, untuk menyampaikan pesan kepada Hasyim. Dia mengisyaratkan menyetujui dicita-cita tersebut (halaman 72).

Kegusaran para kiai terjadi karena antara Islam modernis dan tradisionalis berbeda paham. Perdebatan ini dijembatani kongres al-Islam yang didirikan di Cirebon. Kelompok Islam modernis diwakili KH Ahmad Dahlan dan Syaikh Ahmad Surkati, sedangkan Islam tradisionalis diwakili KH Raden Asnawi dan KH Wahab Hasbullah (halaman 88–89).

Setelah NU berdiri, organisasi ini juga membutuhkan lambang sebagai simbol. Ridwan Abdullah ditugasi membuat lambang organisasi. Dia bermimpi melihat gambar di langit. Setelah bangun, sekitar pukul 02.00, Ridwan spontan mengambil kertas dan pena membuat sketsa (halaman 103). Gambarnya diperlihatkan kepada KH Nawawie Noerhasan.

Nawawie menyetujui gambar bumi dan bintang. Dia menambahi tali untuk mengikatnya (halaman 133). Selain lambang, NU juga membuat sebuah prasasti yang hingga kini masih terpajang di Masjid Menara Kudus. KH Raden Hambali bersama Raden Asnawi memprakarsai prasasti tersebut (halaman 141).

Para ulama merasa terpanggil untuk mencegah golongan Wahabi yang menghadap Raja Ibnu Saud selaku penguasa di daratan Hijaz (halaman 174). Wahab Habullah dan Syaikh Ahmad Ghanaim al-Mishri ke Mekah menghadap Raja Ibnu Saud (halaman 175–176).

Bersama Hasyim Asyari selaku Rois Akbar dan Hasan Ghipo sebagai Ketua Tanfidziyah, NU menunjukkan diri sebagai gerakan sosial yang lebih dari sekadar mempertahankan tradisi dari serangan kaum modernis (halaman 225).

Kedekatan Muhammad Zubair dengan beberapa ulama selama di Mekah mendorongnya peduli dan berperan aktif dalam gerakan sosial keagamaan (halaman 249–250).

Anton Prasetyo, guru ponpes Nurul Ummah, Yogyakarta


Artikel Terkait