BEGINILAH PROGRAM LIBERALISASI AMERIKA TERHADAP PESANTREN

Shortlink:

santri-dan-liberal
Beberapa tahun lalu, Laskar Santri menggelar unjuk rasa menentang sikap Amerika Serikat (AS) yang represif terhadap umat Islam. Para santri Surakarta ini dengan lantang meneriakan yel-yel anti Yahudi dan AS.

Salah seorang di antara mereka ada yang bernama David Adam Al-Rasyid. Dialah santri paling lantang berteriak di antara demonstran lainnya. Di hadapan massa dia berkata, ”Hancurkan Yahudi! Hancurkan Amerika!”

Kenangan itu kini tinggal rekaman peristiwa masa lalu. Sejak David diundang mengikuti pertukaran pelajar ke Amerika selama satu tahun, ada yang berbeda dari dirinya.

”Kalau dulu waktu jadi Laskar Santri saya mengatakan, ’Hancurkan Yahudi! Hancurkan Amerika!’ Tapi sekarang, siapa yang mau dihancurkan? Tidak semua orang Amerika jelek,” ujar David saat ditemui Suara Hidayatullah di Pesantren As-Salam, Surakarta, beberapa waktu lalu.

Saat David hendak berangkat ke AS, ia sempat meminta masukan kepada salah seorang kakak kelasnya di pesantren yang sama. Sang kakak kelas memberi wejangan, ”Ternyata Amerika tidak memusuhi Islam.”

Lalu, berangkatlah David ke Negara Paman Sam. Selama di sana, David dititipkan pada keluarga Katolik di Corvallis, Oregon. Menurutnya, keluarga yang ia diami amat toleran. Buktinya, ia bisa melaksanakan shalat dan membaca al-
Qur’an secara rutin.

“Mereka juga bertanya-tanya tentang Islam, mengapa harus shalat? Mengapa harus puasa? Bahkan kadang-kadang mereka menegur saya jika terlambat shalat. Rupanya tidak semua orang Amerika jahat ” kenang David.

Santri asal Yogyakarta ini juga menceritakan kehidupan bebas remaja di sana. Pernah suatu hari, David dikejutkan oleh tangan yang sekonyong-konyong melingkar di pinggangnya.

Saat menoleh ke belakang, ternyata tangan itu milik seorang perempuan. Menurut David, di Amerika, hal seperti itu biasa-biasa saja. David cuma satu dari sekian banyak pelajar Indonesia yang mengikuti program Youth Exchange Study (YES). Program ini diselenggarakan oleh AFS (American Field Service) bekerjasama dengan Yayasan Bina Antara Budaya.

Program ini dirancang setelah peristiwa 11 September 2001, dirancang khusus untuk negara yang mayoritas berpenduduk Muslim. Setiap bulan para peserta dibekali uang saku sebesar 125 dollar AS, atau sekitar Rp 1,2 juta.

Tahun 2007, dari 97 orang pelajar Indonesia yang diberangkatkan, 30 di antaranya dari pesantren seperti Darunnajah, Darul Falah, Insan Cendekia, dan IMMIM Makassar, Sulawesi Selatan.

Suara Hidayatullah sempat menyambangi kantor Yayasan Bina Antara Budaya yang terletak di Jakarta Selatan. Menurut Ketty Darmadjaya, humas yayasan, program ini didesain untuk meningkatkan wawasan santri serta mengubah pandangan masyarakat terhadap pesantren yang selama ini dianggap terbelakang.

Ketty tak menampik kemungkinan tertularnya para santri tersebut dengan paham liberal.
“Makanya, sebelum berangkat, kita memberikan orientasi kepada mereka tentang AS. Sepulangnya dari AS, mereka juga kita orientasi kembali. Kita katakan kepada mereka bahwa pengalaman satu tahun di AS bukanlah segalanya. Kita tidak ingin mengubah pandangan mereka terhadap Islam mejadi liberal,” jelasnya.

Bahaya Mengancam
Ternyata, tak hanya santri yang mendapat jatah ’terbang’ ke Amerika. Kiai pimpinan pondok pesantren juga menjadi sasaran untuk diperkenalkan dengan ’wajah manis’ Amerika.

Melalui Institute for Training and Development (ITD), sebuah lembaga milik Amerika, mulai pertengahan September 2002, para kiai bergantian bertandang ke negeri itu. Di awal program, lembaga itu mengundang 13 utusan
pesantren ’pilihan’ yang berasal dari Jawa, Madura, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.

Dukungan LSM Asing
Proyek besar penyebaran liberal ke pesantren disinyalir didanai oleh LSM asing yang cabangnya berada di Indonesia, yaitu The Asia Foundation (TAF). Lembaga donor yang disponsori Barat ini telah beroperasi di Indonesia sejak tahun 1955. Beberapa ormas dan lembaga Islam menjadi mitra utama mereka.

Dalam situs resminya www.asiafoundation.org, lembaga yang menjadi perpanjangan tangan para saudagar Yahudi ini banyak membantu LSM Indonesia yang giat menyosialisasikan liberalisme, pluralisme, dan sekularisme. Sebut saja, misalnya, Jaringan Islam Liberal (JIL), P3M, International Center for Islam and Pluralism (ICIP), dan ICRP.

Laporan tahunan TAF 2006 menyebutkan, sejak tahun 2000 mereka telah membuat kurikulum kewarganegaraan yang mendukung nilai-nilai demokrasi, mendorong siswa berpikir kritis terhadap isu-isu demokrasi, HAM, dan pluralisme agama. Untuk mewujudkan ini mereka menggandeng CCE Indonesia (pusat pendidikan kewarganegaraan).

Kurikulum itu kini telah menjadi materi wajib di seluruh UIN dan IAIN di seantero Indonesia.

Bahkan, mereka tengah berupaya mengembangkan kurikulum serupa untuk diterapkan di universitas Islam swasta. Para mitra TAF telah memberikan pelatihan kurikulum baru ini kepada 90 dosen kewarganegaraan dari 66 universitas Islam
swasta pada tahun 2006. Para dosen tadi sudah mulai mengajarkan kurikulum tersebut kepada sekitar 20.000 mahasiswa mereka.

Pasca 11/9
Proyek liberalisasi pendidikan Islam semakin deras arusnya setelah peristiwa 11 September. Workshop-workshop bertema liberal banyak digelar atas dukungan TAF dan ICIP.

Berapa dollar AS yang digelontorkan kedua organisasi ini untuk proyek liberalisasi Indonesia? Robin Bush, Deputy Country Representative TAF untuk Indonesia, saat ditanya Suara Hidayatullah tentang itu tidak bersedia menjawabnya. Begitu juga Elfiqa D Siregar, salah satu staf ICIP, saat ditemui di kantornya di kawasan elit Pondok Indah, Jakarta, juga tidak menyebutkan jumlah pasti. Ia cuma menyebut salah satu nama lembaga pemasok dana, Ford Foundation.

Namun, Robin menolak anggapan bahwa lembaganya disebut membawa misi liberalisasi. “Kami di TAF sama sekali tidak punya program liberalisasi,” ujarnya saat ditemui di kantor TAF, jl Adityawarman no 40, Jakarta Selatan. “Kami bekerja sama dengan pesantren karena tahu lembaga pendidikan ini erat kaitannya dengan masyarakat kelas bawah. Ini sesuai dengan apa yang menjadi benang merah dari semua misi TAF, yaitu good governence, serta meningkatkan kesejahteraan bangsa Indonesia,” terangnya lagi.

Menurut Bush, TAF tidak pernah menawarkan sesuatu kepada pesantren atau lembaga-lembaga Islam. ”Semua program yang dijalankan TAF adalah inisiatif mitra kami. Mereka datang ke kami dengan ide, bukan kami datang ke mereka dengan ide,” kata bule yang sudah lancar berbahasa Indonesia ini.

Hal senada juga disampaikan Elfiqa. ”Saya pribadi melihat tuduhan itu nggak benar. Saya turun langsung ke lapangan, saya lihat tidak ada. Tidak ada doktrin-doktrin itu,” jelasnya.

Apa pun perkataan mereka, faktanya, TAF dan ICIP telah banyak menggelontorkan program liberalisasi. Bahkan, kalau melihat visi dan misinya, jelas tujuan ICIP adalah mempromosikan pluralisme. Apalagi jika melihat daftar orang-orang yang duduk di jajaran dewan direktur. Di sana ada Moeslim Abdurrahman, Musdah Mulia, dan Ulil Abshar Abdalla. Siapa
mereka? Pembaca pasti sudah tahu.

Diajak Dansa, Jilbab Dibuka
Saat mengikuti program pertukaran pelajar di Amerika Serikat, David Adam Al Rasyid merasakan betapa bebas pergaulan di sana. Saking bebasnya, ada peserta dari negara lain yang tak tahan.

”Peserta dari Saudi dan Jerman pulang sebelum program selesai,” ujar santri Pondok Pesantren As-Salam, Surakarta, itu.

Bagaimana dengan pelajar dari Indonesia?
”Banyak juga teman-teman yang ikutan dugem,” jawab David. Dugem adalah singkatan dari dunia gemerlap, yaitu kehidupan malam di diskotik dan cafe. David sendiri mengaku tak pernah ikut-ikutan.

Ironisnya, ada salah satu peserta Muslimah yang rela melepas jilbab saat diajak berdansa. “Supaya tidak malu, ia lepas jilbabnya. Tapi, dia dari SMU luar (bukan pesantren),” kenangnya. Nau’zubillah minzalik!

Pesantren-pesantren Musuh Liberal
Berbagai jurus dilancarkan Barat untuk menyusupkan liberalisme ke tubuh pesantren. Namun, beberapa pesantren sigap menangkis jurus tersebut Pondok Pesantren (Ponpes) At-Taqwa yang terletak di Ujung Harapan, Bekasi, Jawa Barat,
salah satu pesantren yang tak mengenal kompromi terhadap pemikiran Barat. Almarhum KH Noer Ali, pendiri pondok ini, dikenal sebagai pejuang yang keras terhadap kolonialisme, termasuk paham yang dibawanya.

”Semangat beliau adalah spirit kami untuk senantiasa menentang segala bentuk kolonialisme. Liberalisasi itu adalah kolonialisme gaya baru,” ujar Mawardi Mahmud, salah seorang pengasuh At-Taqwa, kepada Suara Hidayatullah.

Di At-Taqwa, kata Mawardi, tidak ada kurikulum khusus untuk menanggulangi pemikiran sekuler, liberal, dan pluralisme. Mereka hanya rutin menggelar kajian mengenai isu-isu keislaman yang sedang berkembang saat itu. Para santri juga diwajibkan mengikuti training keislaman bekerjasama dengan Pelajar Islam Indonesia (PII). ”Hasilnya terbukti efektif untuk membendung pemikiran nyeleneh,” jelas Mawardi.

Di Pasuruan, Jawa Timur, ada juga pesantren yang konsen membendung liberalisme. Pesantren Sidogiri namanya.
Berbeda dengan At-Taqwa, pesantren ini lebih mengutamakan metodologi dalam meredam pemikiran luar. Di Pesantren yang kini berusia 270 tahun ini setiap santri diajarkan membaca kitab klasik, kitab karya ulama Salaf.

Kurikulum dirancang agar berhaluan ahlu sunnah wal jamaah. Para santri dididik untuk melaksanakan amalan para ulama Salaf. Seleksi penerimaan guru baru sangat ketat. Guru-guru yang berpola pikir liberal tidak akan bisa masuk Sidogiri.

Para santri dan pengasuh bahu membahu melawan liberalisame melalui tulisan. Tulisan itu mereka publikasikan melalui website dan buletin yang dimiliki pesantren.

”Dengan cara ini, paham-paham yang bertentangan dengan Islam otomatis tertolak,” jelas Masykuri.


Ditolak di Sumbar

Di Sumatera Barat (Sumbar), liberalisme sama sekali tidak memiliki tempat. Ini diakui Ibnu Aqil D Ghani, pengasuh Pondok Pesantren Subulussalam, Padang.

”Paham sipilis di tanah Minang (Sumatera Barat), terutama di kalangan pondok pesantren, tidak akan mendapat tempat seperti di Jawa,” tegas Aqil.

Walau demikian, Aqil yang menjabat sebagai Ketua FPPS (Forum Pondok Pesantren se- Sumbar) ini mengaku dulu sempat kecolongan.

Sebuah pesantren di Bukittinggi dan satu lagi di Padang Pariaman, mengirimkan santrinya ke Amerika Serikat (AS). Ironisnya, studi banding itu dicantumkan dalam brosur dan pamflet penerimaan santri pada tahun ajaran baru.

Kini, pesantren-pesantren di Sumbar telah bersatu padu membendung liberalisasi. Belum lama ini, pimpinan 49 pesantren di Sumbarberkumpul guna mengikuti bimbingan tentang bahaya sipilis dan ajaran sesat lainnya, serta kiat-kiat membendungnya. Pelatihan ini diselenggarakan di Asrama Haji, Padang.

Alhamdulillah, para pimpinan pesantren yang mengikuti pelatihan ini telah mempunyai bekal yang cukup untuk embendung serangan sipilis.

Bahkan, Ponpes yang dulu pernah mengirim santrinya studi banding ke Amerika, sudah berkomitmen untuk tidak ecolongan lagi. Khusus di internal Subulussalam sendiri,kata Aqil, berbagai kegiatan dilakukan untuk membendung Sipilis. Bahan bacaan yang datang dari luar seperti buklet, pamflet, dan buku-buku, diperiksa dengan teliti. Begitu juga calon tenaga pengajar diseleksi secara ketat.

“Jika ada bahan bacaan yang berbau sekuler atau ajaran sesat lainnya, kami buang ke tong sampah, kemudian kami bakar saja,” jelas Ibnu Aqil.

Seleksi yang ketat juga dilakukan terhadap calon pengajar, terutama yang berasal dari IAIN. Sebab, kata Aqil, IAIN merupakan lembaga yang paling gencar dimasuki JIL.

“Bagi yang telah mengajar dan lolos seleksi, kami terus melakukan pengawasan ketat. Caranya macam-macam, mulai dari pengawasan langsung oleh pengasuh pondok sampai menempatkan satu-dua orang santri (untuk memata-matai) di setiap kelas,” ujarnya.

Tolak Bantuan Barat

Satu lagi upaya Barat mengampanyekan paham liberal ke pesantren. Mereka gencar mendatangi lalu menawarkan bantuan dana. Tahun lalu, misalnya, Kedutaan Besar dan Konjen Amerika Serikat di Surabaya berkunjung ke Pesantren Sidogiri. Agendanya, sosialisasi kebudayaan dan berbagai kebijakan politik negara tersebut.

Para santri langsung menyambut utusan kedutaan itu dengan cecaran pertanyaan seputar sikap AS yang tak adil terhadap negara-negara Muslim. Misi tersembunyi di balik kunjungan tersebut juga dikritisi oleh para santri.

Menurut Masykuri, Sekretaris Umum Pesantren Sidogiri, sudah beberapa kali mereka mendapat tawaran bantuan dari luar negeri, salah satunya dari LAPIS (Learning Assistance Program for Islamic School) dan AUSAID Australia. Namun, bantuan senilai Rp 1 miliar itu ditolak.

Alasannya, mereka ingin hidup mandiri. Pesantren Sidogiri memang pernah mengirimkan utusannya studi banding ke Inggris selama beberapa bulan bersama 18 pesantren lain.

Sebelum pulang ke tanah air, para peserta mendapat uang saku belasan juta rupiah dari panitia penyelenggara. Menurut Masykuri, dari 18 perwakilan itu, hanya Sidogiri yang menolak uang saku tersebut.

Hal serupa juga dilakukan pesantren At-Taqwa. ”Kami menolak segala bentuk bantuan dari Barat. Tiada bantuan yang Barat lakukan tanpa pamrih. Kalau kami mau, At-Taqwa sudah kami bangun megah dengan bantuan Barat. Tapi kami tidak mau. Kami hanya menerima bantuan yang halal dan tidak mengikat,” tegas Mawardi.

Program Liberalisasi Pesantren:

1. Mengubah kurikulum pesantren. Kurikulum yang menjadi target utuk diubah adalah bidang akidah dan syariah Islam. Beberapa tahun lalu AS menyiapkan dana 157 juta dolar AS untuk program intervensi kurikulum. Saat itu AS menjanjikan uang Rp 50 juta bagi setiap pesantren yang mau mengubah kurikulumnya. Tapi, ini ditolak mentah-mentah oleh pesantren.
2. Bantuan dana. TAF telah mendanai sedikitnya 1.000 pesantren di Indonesia untuk mengampanyekan paham liberalisme.
3. Mengadakan workshop atau pelatihan liberalisasi.
4. Mengundang Kiai ke Amerika. Institute for Training and Development, September 2002, mengundang pimpinan 13 pesantren di Indonesia untuk berkunjung ke Amerika.
5. Kunjungan ke Pesantren. AS melalui dubesnya di Indonesia gencar mengunjungi pesantren. Yaitu Ponpes Darunnajah (Jakarta), Ponpes Sidogiri (Pasuruan Jawa Timur), dan Ponpes Syekh Abdul Qodir Al-Jailani (Probolinggo, Jawa Timur)
merupakan pesantren yang pernah dikunjungi AS.
6. Bagi-bagi buku. Tahun 2004 pesantren-pesantren di Jawa Barat pernah menerima kiriman buku dari Pemerintah AS. Buku-buku itu antara lain berisikan sejarah, geografi, ekonomi, kesusastraan, dan pemerintahan AS.

Tips Memilih Pesantren

1. Perhatikan pimpinan pondok dan guru-guru yang mengajar di pesantren tersebut. Jangan sampai ada satu saja yang dikenal sebagai orang liberal. Jika ada maka sebaiknya jangan pilih pesantren tersebut, karena bisa jadi si orang liberal itu akan menyebarkan virus liberalnya kepada para santri. (baca daftar pesantreen liberal)

2. Cari tahu apakah pesantren tersebut pernah menerima dana dari Barat (negara maupun LSM). Kalau pernah, kemungkinan besar pesantren tersebut telah tersusupi ide liberal. Setidaknya pesantren tersebut sudah “berteman” dengan Barat. Ingat pepatah yang mengatakan “Tidak ada makan siang gratis.”

3. Cermati pelajaran yang di tawarkan, apakah ada yang aneh. Misalnya, pelajaran hermeneutika atau studi pemikiran orientalis.

4. Jika ada koperasi pesantren, periksa buku-buku yang dijual, apakah ada buku-buku yang beraliran liberal atau tidak.

5. Kalau perlu dialog langsung dengan pimpinan pondoknya mengenai isu liberlaisme masuk pesantren. Dari situ akan terlihat bagaimana pemahaman dan sikap pimpinan pondok terhadap ide liberalisme. Jika pimpinan pondoknya menentang keras, insya Allah pesantrennya bebas liberal.


Artikel Terkait