Bahtsul Masail NU Menjawab “Doa Bersama Antar Umat Beragama” Gus Mus (@gusmusgusmu)

Shortlink:

gus musWAWANCARA DENGAN JIL GUS MUS MEMELINTIR DALIL DOA LINTAS AGAMA DAN BANTAHAN DARI HASIL BAHSUL MASAIL MUKTAMAR NU DI TEMPATNYA MONDOK DULU

Berikut rekaman wawancara Novriantoni dari Jaringan Islam Liberal (JIl) dengan pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Rembang, KH. Mustofa Bisri.

NOVRIANTONI: Gus Mus, apa kesan Anda terhadap sebelas fatwa MUI hasil Munas VII akhir bulan lalu?
KH. MUSTOFA BISRI (GUS MUS): Pertama, kalau tidak ada protes dari orang-orang kota, saya kira, fatwa MUI itu–seperti yang lalu-lalu—tidak akan kedengaran di bawah. Karena ada yang protes, sampai Gus Dur segala yang turun, fatwa itu lalu bergaung. Sebetulnya kan ini soal biasa saja. Banyak dan sering sekali MUI membikin fatwa-fatwa yang kontroversial. Tapi karena sekarang ada tanggapan, jadi terus bergaung.

NOVRIANTONI: Tapi nampaknya fatwa kali ini perlu ditanggapi. Sebab doa bersama yang wajar saja, tiba-tiba diharamkan MUI.
GUS MUS: Memang kebetulan saya mencermati fatwa ini dari pers, jadi tidak tahu mereka menggunakan dalil apa. Yang saya baca hanya keputusan-keputusan saja. Jadi kalau saya menanggapi, ya hanya berdasarkan itu; berdasarkan keputusan-keputusan yang dimuat di ketentuan-ketentuan hukum yang mereka keluarkan tanpa dalil itu. Misalnya soal doa bersama yang tidak dibolehkan. Apa yang dimaksud doa? Ada yang menyebut doa itu ibadah. Itu masih bisa dipertanyakan, karena semua hal yang kita sangkut-pautkan dengan Allah itu bisa bernilai ibadah. Jadi tidak hanyadoa. Pertanyaan berikutnya untuk MUI: mubâhalah itu termasuk doa atau tidak? Mubâhalah adalah memohon. Menurut Tafsir Jalâlain, mubâhalah itu bukan hanya termasuk doa, tapi tadlarru’ fid du`â atau memohon sungguh-sungguh dalam berdoa. Nah, kalau bicara soal mubâhalah seperti bisa Anda baca di Alquran surah Âli `Imrân: 61, Nabi Muhammad Saw justru disuruh Allah untuk mengajak tokoh-tokoh Nasrani Najran untuk bermubahalah atau
memohon kepada Allah secara bersama-sama.

Kanjeng Nabi mengajak orang-orangnya, pemuka Nasrani mengajak orang-orangnya, dan mereka berdoa bersama.

NOVRIANTONI: Tapi bagi MUI itu bid’ah. Padahal seperti yang Gus Mus juga tahu, Syekh al-Azhar di Mesir juga biasa berdoa bersama dengan Pope Shenouda.
GUS MUS: Karena itu perlu dipertanyakan dulu; mubahalah itu doa atau tidak? Kalau itu dianggap doa, Nabi toh disuruh berdoa bersama orang-orang Nasrani, sekalipun tidak terlaksana karena tokoh-tokoh Nasrani waktu itu tidak mau. Jadi, waktu itu Nasrani Najran lah yang tidak mau berdoa bersama untuk meminta kebenaran yang sejati kepada Tuhan. Jadi menurut saya, doa itu bisa ibadah saja, bisa juga permohonan. Kalau diartikan permohonan, asal permohonannya baik kan tidak apa-apa, dan itu justru diperintahkan. Jadi kalau dalilnya seperti yang dikatakan Pak Amidhan, bahwa orang yang protes fatwa MUI hanya menggunakan akal, sedangkan MUI menggunakan Alquran dan Sunnah Rasul, bagaimana keterangannya tentang mubâhalah ini?

NOVRIANTONI: Tapi bagaimana dengan anggapan bahwa berdoa bersama itu akan mendangkalkan keyakinan atau mengarah pada sinkretisme agama?
GUS MUS: Justru pemikiran yang demikian itu yang dangkal. Masak kita hanya begitu saja akan menjadi dangkal?! Ini nggak bisa. Saya pikir, hampir semua atau rata-rata fatwa yang keluar ini menunjukkan bahwa ada semacam ketidakpercayaan diri pada orang-orang Islam itu.

NOVRIANTONI: Artinya kalau kita kuat iman, tentu doa bersama tidak jadi soal?
GUS MUS: Tidak jadi persoalan. Dan kita ini tidak pantas kalau rendah diri, karena kita di sini mayoritas. Presidennya beragama Islam dan seterusnya. Itu salah satu contoh fatwa MUI.

Yang lain adalah soal kawin campur. MUI mengatakan bahwa perkawinan laki-laki muslim dengan wanita ahli kitab adalah haram dan tidak sah. Sesuai dengan omongan H. Amidhan, fatwa itu berdasarkan Alquran dan Sunnah.

Bagaimana dengan Alquran surah al-Mâ’idah ayat 5? Di situ jelas-jelas diperkenankan kawin dengan ahli kitab. Para sahabat Nabi banyak sekali yang kawin dengan perempuan-perempuan Nasrani berdasarkan ayat itu.

Bahkan, dalam Tafsîr Ibn Katsîr dikatakan, hanya Ibnu Abbas saja yang mengatakan bahwa yang boleh dinikahi itu adalah Nasrani yang tidak memerangi orang Islam. Selain Ibnu Abbas justru mengatakan tidak apa-apa, baik yang memerangi atau yang tidak, baik yang dzimmî atau pun harbî. Jadi semuanya dibolehkan li `umûmil âyah karena ayat itu bersifat umum.

Ayat itu mengatakan, “Al-yauma uh illa lakum al-thayyibât, watha’âmu alladzîna ûtûl kitâb h illun lakum, watha’amukum h illun lahum, wal muhshanâtu min al-mu’minat, wal muhsanâtu min alladzîna ûtul kitâb min qablikum (pada hari ini dihalalkan untukmu semua yang baik.

Makanan orang-orang ahli kitab halal bagimu, dan makanan kalian dihalalkan untuk mereka. (Begitu juga) dihalalkan bagi kalian untuk menikahi perempuan-perempuan baik dari kalangan beriman dan para ahli kitab sebelum kamu, Red) .

NOVRIANTONI: Tapi biasanya selalu ditegaskan bahwa sekarang ini tidak ada ahli kitab lagi.
GUS MUS: Pertanyaannya, apakah ahli kitab yang dulu lain dengan ahli kitab yang ada sekarang? Ahli kitab pada zaman Rasulullah itu sudah sering kali diajak berdebat oleh kanjeng Rasul karena pada waktu itu sudah seperti sekarang juga. Dari dulu sudah ada Trinitas segala macam. Ahli kitab dulu itu sama saja dengan sekarang. Jadi sejak masa kanjeng Nabi, orang-orang Nasrani itu sudah begini juga, jadi tidak sekarang saja begini.

Sumber Web Resmi JIL http://islamlib.com/…
========================================================================

Lihatlah !!! Kepandaiannya mengolah kata hingga mengkorupsi dalil mubahalah yang pada prakteknya adalah doa saling melaknat hingga salah satunya mati tetapi Gus Mus memelintirnya untuk membolehkan keharaman doa bersama lintas agama yang pada prakteknya para pemuka agama berdoa bersama dan saling meng ‘amin’ kan. Sesuai Hasil Keputusan Bahsul Masail PP Lirboyo Kediri menyatakan, bahwa “Doa Bersama Antar Umat Beragama” hukumnya haram. Lirboyo adalah pondok tempat Gus Mus dulu mondok yang pernah beliau puji dalam salah satu puisinya.

Berikut Keputusan Bahtsul Masail al-Diniyah al-Waqi’iyyah Muktamar XXX NU di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, 21-27 Nop. 1999, tentang “Doa Bersama Antar Umat Beragama”. KH. Muhammad Idrus Ramli yang alumni PP Sidogiri pernah juga mengutipnya di salah satu artikelnya yang berjudul ” Sikap Bahtsul Masail NU terhadap Ucapan Natal dan Menjaga Gereja”.

Berikut ini sebagian kutipan isinya:

Deskripsi Masalah :
Adanya Krisis (moneter, kepercayaan, keimanan) yang melanda bangsa Indonesia dewasa ini, menuntut bangsa Indonesia untuk meningkatkan persatuan dan kesatuan. Diantara usaha- usaha yang dilakukan adalah mengadakan doa bersama antar berbagai umat beragama (Islam, Katholik, Kristen, Hindu, Budha).

Soal : Bagaimana hukum doa bersama antar berbagai umat beragama yang sering dilakukan di Indonesia?

Jawab: Tidak boleh, kecuali cara dan isinya tidak bertentangan dengan syariat Islam.
Dasar Pengambilan: (1) Hasyiyah al-Jamal ‘ala Fathil Wahhab Juz V, hlm. 226: Wa’ibaratuhu: walazimanaa man’uhum idhhaarun minkum baynanaa ka-ismaa’ihim iyyaana qaulahum lillaahi tsaalitsu tsalaatsah. (“Menjadi keharusan kita untuk mencegah mereka menampilkan hal tersebut di kalangan kita, semisal mereka memperdengarkan syiar mereka; Allah adalah trinitas.”)

Dasar Pengambilan: (2) Hasyiyah al-Jamal Juz II, hlm. 119: Wa’ibaaratuhu: Laa yajuuzu at-ta’miinu ‘alaa du’aail kaafiri li-annahu ghairu maqbuulin liqaulihi Ta’aalaa: Wa maa du’aaul kafiriina illaa fii dhalaalin. (Dan tidak boleh mengamini doa orang kafir karena doanya tidak diterima dengan firman Allah SWT: Dan doa (ibadah) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka” (ar-Ra’du: 14).

Dasar Pengambilan: (3) al-Bujairimi ‘alal Khathib juz IV, hlm. 235: (yang artinya): “Haram mencintai orang kafir, yakni adanya rasa suka dan kecenderungan hati
kepadanya. Sedangkan sekedar bergaul secara lahir saja, hukumnya makruh… adapun bergaul dengan mereka untuk mencegah timbulnya sesuatu mudharat yang tidak diinginkan yang mungkin dilakukan oleh mereka, ataupun mengambil sesuatu manfaat dari pergaulan tersebut, maka hukumnya tidak haram.”

Dasar Pengambilan: (4) Mughnil Muhtaj, Juz I hal. 232, yang juga menegaskan, bahwa haram hukumnya mengamini doa orang-orang kafir, sebab doa orang kafir tidak maqbul. (Wa laa yajuuzu an-yuammina ‘alaa du’aaihim kamaa qaalahu ar-Rauyani li-anna du’aal kaafiri ghairul maqbuuli…).

(Sumber: buku Ahkamul Fuqaha, Solusi Problematika Aktual Hukum Islam: Keputusan Muktamar, Munas, dan Konbes Nahdlatul Ulama (1926-2004), penerbit: Lajtah Ta’lif
wan-Nasyr, NU Jatim, cet.ke-3, 2007, hal. 532-534). Wallahu a’lam.


Artikel Terkait