BAHAYA MENYAKITI TETANGGA

Shortlink:

Oleh: KH. Luthfi Bashori

Sahabat Abu Hurairah ra berkata, “Seseorang berkata kepada Nabi SAW, bahwa ada seorang wanita yang rajin beribadah di malam hari, berpuasa di siang hari, selalu berbuat kebajikan, selalu bersedekah, tetapi ia suka menyakiti tetangga dengan lisannya. Maka Rasulullah SAW bersabda, “Semua kebajikannya tidak bermanfaat baginya dan ia termasuk calon penduduk neraka. Ada pula seseorang yang berkata kepada Nabi SAW bahwa ada seorang wanita yang hanya melakukan shalat fardu dan ia bersedekah sedikit, namun tak pernah menyakiti orang lain. Maka Rasulullah SAW bersabda, “Wanita itu termasuk calon penduduk surga.” (H.R.Bukhari)

Ada seorang shahabat Nabi SAW yang mengadu kepada kawannya tentang banyaknya tikus di rumahnya, maka kawannya itu memberi saran: “Sebaiknya engkau memelihara kucing .”

Shahabat itupun menjawab, “Aku takut jika tikus-tikus itu mendengar suara kucing, maka mereka akan berlari ke rumah-rumah tetanggaku dan aku tidak ingin menyakiti mereka sebagaimana aku tidak ingin disakiti oleh mereka.”

Dari besarnya perhatian para shahabat terhadap tetangganya, sehingga di antara mereka, ada yang rumahnya banyak tikusnya, namun tidak mau memasukkan kucing ke rumahnya, karena khawatir jika ada kucing, tikus akan lari berpindah ke rumah tetangganya, dan itu sama halnya akan mengganggu tetangganya.

Karena itulah kehidupan mereka begitu indah, tidak ada percecokakan antara tetangga, karena saling menghormati, dan itu adalah ukuran keimanan seseorang.

Betapa pentingnya umat Islam dewasa ini meniru apa yang telah diperagakan dalam kehidupan para shahabat Nabi SAW dengan mempraktekkan tata cara hidup bertetangga dan bermasyarakat yang sangat islami.

Begitu hati-hatinya mereka, demi ingin mendapatkan layaknya kehidupan akhirat yang hakiki, mereka rela mengorbankan kenikmatan dan kenyamanan hidup di dunia, yaitu lebih mendahulukan hak tetangga dari pada menuntut hak pribadinya sendiri.

Mengenyampingkan suatu kepentingan yang bersifat pribadi, sekalipun dalam masalah yang mubah, atau hal yang biasa dan boleh menurut syariat, demi untuk tujuan mendahulukan kepentingan tetangga, adalah amalan yang sangat mulia, dan yang semacam ini tidaklah mudah untuk dilakukan oleh setiap muslim, kecuali bagi orang-orang yang hatinya lebih terikat terhadap kehidupan akhirat daripada memilik hiruk pikuknya kehidupan duniawi.

Karena secara manusiawi, setiap orang itu selalu menginginkan kelayakan dan kenyamanan dalam menjalani kehidupan duniawi. Belum lagi setiap orang pasti mempunyai jiwa kepemilikan terhadap apa-apa yang menjadi hak pribadinya. Maka jika ada orang yang lebih mengutamakan hak kepemilikan orang lain daripada mempertahankan hak kepemilikan pribadinya, yang seperti inilah hakikatnya derajat keimanan yang sangat tinggi.

Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari Qiamat, maka hendaklah ia menghormati tetangganya, dan tidak sempurna iman seseorang sehinnga ia mencintai saudaranya (sesama muslim) sebagaimana ia mencintai diri sendiri.

Selalu memasang parasaan khusnuddhan atau berbaik sangka terhadap saudaranya sesama muslim, lebih-lebih jika saudaranya itu merangkap jadi tetangga, maka itulah hakikat jurus yang paling ampuh untuk dapat melunturkan kepentingan pribadi, hingga dapat mendahulukan kepentingan orang lain.

Mata keridlaan yang dibangun atas dasar perasaan khusnuddhan itu, akan melihat kekurangan orang lain, sebagai sesuatu yang indah dan termaafkan, lebih-lebih terhadap tetangganya. Sedangkan mata kebencian yang dibangun atas dasar su-uddhan dan selalu curiga terhadap orang lain, akan menghasilan rasa permusuhan yang menyakitkan dalam hatinya, lebih-lebih terhadap tetangganya, bahkan terhadap perkara yang hak atau kebenaran sekalipun.


Artikel Terkait