ASWAJA Mengibaratkan Wahhabi dan Syiah

Shortlink:

Ahlus Sunnah Mengibaratkan Wahhabi dan Syiah Adalah : Ba`ratun Tuqsamu Qismain (Ibarat Kotoran Sapi Dibelah Dua)
kecuali-ali

Wahhabi ini, maka dalam memahami ayat Kullu syai-in haalikun illa wajhah, yang artinya menurut pemahaman umat Islam adalah : Segala sesuatu itu akan rusak (di hari Kiamat) kecuali Dzat Allah, maka pemahaman sempit Wahhabi akan terjerumus pada kesesatan arti : Segala sesuatu itu akan rusak kecuali WAJAH Allah. Lantas apakah mata Allah, tangan Allah, kaki Allah dan seluruh anggota tubuh Allah selain wajah-Nya itu akan rusak?

Syiah pun meyakini tajsim pada Dzat Allah, sebagaimana yang tertera pada buku KECUALI ALI, karangan Abbas Rais Kermani yang diterbitkan oleh Penerbit Alhuda Jakarta, pada halaman 22, saat Syiah mengklaim pembicaraan Imam Jakfar Shadiq tatkala ditanya tentang arti ayat Kullu syai-in haalikun illa wajhah, maka Imam Jakfar Shadiq menjawab : Segala sesuatu itu akan rusak kecuali WAJAH Allah, dan Wajah Allah itu adalah Ali bin Abi Thalib.

Al-Hafizh Ahmad bin Muhammad bin al-Shiddiq al-Ghumari al-Hasani adalah ulama ahli hadits yang terakhir menyandang gelar al-hafizh (gelar kesarjanaan tertinggi dalam bidang ilmu hadits). Ia memiliki kisah perdebatan yang sangat menarik dengan kaum Wahhabi. Dalam kitabnya, Ju’nat al-’Aththar, sebuah autobiografi yang melaporkan perjalanan hidupnya, beliau mencatat kisah berikut ini.

“Pada tahun 1356 H ketika saya menunaikan ibadah haji, saya berkumpul dengan tiga orang ulama Wahhabi di rumah Syaikh Abdullah al-Shani’ di Mekkah yang juga ulama Wahhabi dari Najd.

Dalam pembicaraan itu, mereka menampilkan seolah-olah mereka ahli hadits, amaliahnya sesuai dengan hadits dan anti taklid. Tanpa terasa, pembicaraan pun masuk pada soal penetapan ketinggian tempat Allah subhanahu wa ta‘ala dan bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala itu ada di atas ‘Arasy sesuai dengan ideologi Wahhabi.

Mereka menyebutkan beberapa ayat al-Qur’an yang secara literal (zhahir) mengarah pada pengertian bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala itu ada di atas ‘Arasy sesuai keyakinan mereka.

Akhirnya saya (al-Ghumari) berkata kepada mereka:
“Apakah ayat-ayat yang Anda sebutkan tadi termasuk bagian dari al-Qur’an?” Wahhabi menjawab: “Ya.” Saya berkata: “Apakah meyakini apa yang menjadi
maksud ayat-ayat tersebut dihukumi wajib?” Wahhabi menjawab: “Ya.”

Saya berkata: “Bagaimana dengan firman Allah subhanahu
wa ta‘ala: ﻭَﻫُﻮَ ﻣَﻌَﻜُﻢْ ﺃَﻳْﻨَﻤَﺎ ﻛُﻨْﺘُﻢْ . (ﺍﻟﺤﺪﻳﺪ : ٤ ). “Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada.” (QS. al-Hadid: 4). Apakah ini termasuk al-Qur’an?” Wahhabi tersebut menjawab: “Ya, termasuk al-Qur’an.”

Saya berkata: “Bagaimana dengan firman Allah subhanahu
wa ta‘ala: ﻣَﺎ ﻳَﻜُﻮْﻥُ ﻣِﻦْ ﻧَﺠْﻮَﻯ ﺛَﻼَﺛَﺔٍ ﺇِﻻَّ ﻭَﻫُﻮَ ﺭَﺍﺑِﻌُﻬُﻢْ .
( ﺍﻟﻤﺠﺎﺩﻟﺔ : ٧ ). “Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya….” (QS. al-Mujadilah : 7). Apakah ayat ini termasuk al-Qur’an juga?” Wahhabi itu menjawab: “Ya, termasuk al-Qur’an.”

Saya berkata: “(Kedua ayat ini menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala tidak ada di langit). Mengapa Anda menganggap ayat-ayat yang Anda sebutkan tadi yang menurut asumsi Anda menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala ada di langit lebih utama untuk diyakini dari pada kedua ayat yang saya sebutkan yang menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala tidak ada di langit? Padahal kesemuanya juga dari Allah subhanahu wa ta‘ala?”

Wahhabi itu menjawab: “Imam Ahmad mengatakan demikian.” Saya berkata kepada mereka: “Mengapa kalian taklid kepada Ahmad dan tidak mengikuti dalil?” Tiga ulama Wahhabi itu pun terbungkam. Tidak ada satu kalimat pun keluar dari mulut mereka.

Sebenarnya saya menunggu jawaban mereka, bahwa ayat-ayat yang saya sebutkan tadi harus dita’wil, sementara ayat-ayat yang menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa ta‘ala ada di langit tidak boleh dita’wil.

Seandainya mereka menjawab demikian, tentu saja saya akan bertanya kepada mereka, siapa yang mewajibkan menta’wil ayat-ayat yang saya sebutkan dan melarang menta’wil ayat-ayat yang kalian sebutkan tadi?

Seandainya mereka mengklaim adanya ijma’ ulama yang mengharuskan menta’wil ayat-ayat yang saya sebutkan tadi, tentu saja saya akan menceritakan kepada mereka informasi beberapa ulama seperti al-Hafizh Ibn Hajar tentang ijma’ ulama salaf untuk tidak menta’wil semua ayat-ayat sifat dalam al-Qur’an, bahkan yang wajib harus mengikuti pendekatan tafwidh (menyerahkan pengertiannya kepada Allah subhanahu wa ta‘ala).”

Wahhabi itu bukan mencari kebenaran, tapi bagaimana cara menjatuhkan lawan bicara.
cuplikan-kecuali-ali

Imam Ja’far Shadiq sebagai Ahlul Bait Nabi SAW, seorang alim, suci nan bersih dari kesyirikan, tidak akan mengatakan keyakinan semacam itu (seperti syiah). Maka hanya pengklaiman sesat para pengikut Syiah Indonesia saja yang menisbatkan keyakinan Tajsim terhadap Dzat Allah itu kepada Imam Ja’far Shadiq.


Artikel Terkait