Antara Zuhairi Misrawi, LC Dan KH. Moh. Tidjani Djauhari MA: Murid Liberal Sedangkan Sang Guru Pejuang Syariah

Shortlink:

Kicauan Zuhairi Misrawi selalu menyakiti perasaan Umat Islam

Kicauan Zuhairi Misrawi selalu menyakiti perasaan Umat Islam

Zuhairi Misrawi, Lc, tokoh liberal dari ujung timur pulau Garam Sumenep Madura. Setelah menyelesaikan SD di kampungnya ia meneruskan studi di pesantren TMI al-Amien, Preduan, Sumenep, Madura di bawah asuhan KH. Moh. Tidjani Djauhari dan KH. M. Idris Jauhari. Di pondok inilah ia mengenal dunia tulis menulis sebagai redaktur majalah dinding SUASA, dan redaktur majalah QOLAM. Kemudian ia melanjutkan pendidikan di jurusan Aqidah Filsafat di
Fakultas Ushuluddin Universitas al-Azhar Kairo Mesir, 1995.

Selama menjadi mahasiswa ia aktif di dunia tulis menulis sebaai redaktur mahasiswa TEROBOSAN, Pimred jurnal OASE, pimred bulletin INFORMATIKA. Ia juga aktif di lembaga filsafat Mesir yang dipimpin Hasan Hanafi dan mengikuti forum pemuda muslim sedunia ( al Muasykar al Alamy Lissyabab la Islami ) di Alexandria Mesir. Akhir tahun 2000 ia kembali ke tanah air dan aktif di lembaga kajian dan pengembangan SDM (Lakpesdam NU) sebagai koordinator kajian dan penelitian serta bersama anak-anak muda NU lainnya menggarap Jurnal Pemikiran Tashwirul Afkar. Kini aktif di Himpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat P3M sebagai Koordinator Program Islam Emansipatoris.
Bersama anak muda NU di Jakarta ia mendirikan Lembaga Studi Islam Progresif (LSPI) sebagai wadah dialog pemikiran keislaman. Ia menulis sangat produktif di media masa nasional yaitu Kompas , Koran Tempo , Media Indonesia, Republika , Suara Pembaharuan , Gatra , dan Jawa Pos. Karya-karya yang sudah diterbitkan antara lain Dari
Syariat menuju Maqoshid Syariat (2003), Fiqih Lintas Agama (2004), Doktrin Islam Progresif (2005), Islam Melawan Terorisme (2004), Menggugat Tradisi (2004).

Zuhairi termasuk anak muda yang aktif menyuarakan liberalisme dan pluralisme agama. Atas pendapatnya yang cukup ‘keras’ tersebut ia sempat diancam mati ketika akan menyampaikan seminar di almamaternya di Mesir. Seperti yang di muat di majalah Gatra edisi 14, tanggal 20 Desember 2004. Waktu itu Zuhairi Misrawi dan Masdar F. Mas’udi dari Pengurus Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) bekerja sama dengan kekatiban Syuriah PB NU, Organisasi siswa setempat, Sanggar Strategi TEROBOSAN akan menghadiri seminar bertajuk “Pendidikan dan Bahtsul Masail Islam Emansipatoris ” di hotel Sonesta, Kairo. Namun di lobi hotel mereka diancam mati oleh Limra Zainuddin, Presiden Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI) Mesir. Mereka menolak kegiatan tersebut karena lontaran Zuhairi yang dianggap meresahkan masyarakat.

Menurut Limra, “Pernyataan Zuhairi tentang Shalat tidak wajib. Dan permasalahan mudlim menikahi wanita musyrik. Juga pendapat Masdar tentang haji.” PPMI meminta Duta Besar RI untuk Mesir meniadakan acara yang digelar Zuhairi Misrawi selaku Koordinator Program Islam Emansipatoris P3M. Sebelumnya juga terdapat surat penolakan dari ICMI dan NU Mesir. Dalam surat ICMI yang dilayangkan ke Dubes tersebut disebutkan bahwa Zuhairi sebagai sosok yang menimbulkan kontroversi karena pernah menyatakan Shalat tidak wajib.

Sedangkan surat NU Mesir menyatakan bersedia bekerja sama menyelenggarakan acara tersebut dengan catatan tidak menampilkan Zuhairi sebagai pembicara. Zuhairi dinilai memiliki resistensi kuat di kalangan mahasiswa Indonesia di Kairo. PPMI malah secara khusus menulis surat kepada Zuhairi yang dinilai sering mengusik ketenangan umat dalam menjalankan Syari’at.

Zuhairi sendiri menyangkal pernah mengatakan Shalat tidak wajib. “Saya hanya mengkritik Shalat yang tidak memiliki efek sosial bagi perbaikan masyarakat. Shalat jalan tapi korupsi juga jalan.”

Kamil Alfi Arifin, teman dekat Zuhairi Misrawi di almamater Pondok Pesantren Al-Amien menulis pengalaman pribadinya yang di beri judul ” Pemikiran Kopong Zuhairi Misrawi”. Menurut Kamil Alfi Arifin, Zuhairi adalah sosok congkak dan sama sekali tak mencerminkan pemikirannya yang sering mewacanakan dengan akan pentingnya Islam yang toleran, inklusif, dan ramah.

Zuhairi pernah mencalonkan diri sebagai wakil rakyat di parlemen melalui Partai Demokrasi Perjuangan Indonesia (PDIP) dengan daerah pemilihan (dapil) Jawa Timur, namun tak lolos. Ini menandakan bahwa para intelektual dan cendekiawan sudah kehilangan keriangannya dalam lapangan ilmu pengetahuan, dan mulai tergiur dengan kekuasaan struktural.

Jika benar asumsi diatas, maka premis pemikiran Zuhairi Misrawi tak ubahnya jajajan di pasar-pasar. Begitu murah! Sebab benar kata Ghandi, kita harus menjadi bagian dari perubahan yang ingin kita lihat, sekecil apapun. Atau kata Rendra, perjuangan adalah melaksanakan kata-kata.”tutup tulisan Kamil Alfi Arifin.


Mengenal Almarhum KH. Moh. Tidjani Djauhari, Pengasuh Pondok Tempat Dulu Zuhairi Menimba Ilmu

KH. Moh. Tidjani Djauhari MA lahir di Sumenep, Madura pada 24 Dzulqa’dah 1365 H/23 Oktober 1945 M. Beliau wafat pada hari Kamis, 15 Ramadhan 1428 H/27 September 2007 M, meninggalkan seorang istri, Ny. Hj. Dra. Anisah Fathimah Zarkasyi, 3 orang putra dan 5 orang putri, serta 2 orang cucu.

KH. Moh. Tidjani Djauhari

KH. Moh. Tidjani Djauhari


Tentang Profil dan karya beliau yang cemerlang dan mengagumkan bisa di lihat di http://id.m.wikipedia.org/wiki/Mohammad_Tidjani_Djauhari

PEJUANG SYARIAH

Berawal dari sebuah Musyawarah Nasional (MUNAS) Alim Ulama yang digelar pada tanggal 22 desember 2005 di gedung Gradhika kota Pasuruan Jawa Timur, berhasil dibentuk Dewan Imamah Nusantara (DIN). KH. Moh. Tidjani Jauhari bersama beberapa ulama, habaib, kiai, dan tokoh Islam yang memang berpegang teguh pada akidah Ahlussunnah wal Jamaah terlibat dalam proses perumusan dan sebagai Anggota Tetap, antara lain: Putra Hadhrotus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari yang juga paman gus dur, Almarhum KH. Yusuf Hasyim (Jombang) yang akrab di panggil Pak Ud, Almarhum KH Abdullah Faqih (Langitan), Almarhum KH. Abdul Hamid Baidhowi (Lasem), Al Alim Syaikh KH. Nuruddin Marbu (Kalsel), KH. Muhammad Najih Maimun Zubair (Sarang), KH. Syukron Makmun (Jakarta), Almarhum KH. Husein Umar (Jakarta), Hb. Tohir Abdullah Al Kaff (Tegal), Hb. M Rizieq Syihab (Jakarta), Baba Abdul Aziz (Thailand), dan Ust. Abdul Halim Abbas (Malaysia).

Sementara sebagai pelaksana harian beranggotakan sepuluh orang sebagai berikut, Hb. Abdurrahman Assegaf (Pasuruan), KH. Ali Karrar Shonhaji (Pamekasan), Almarhum KH. Saiful Hukama’ (Pamekasan), KH. A Yahya Hamiddin (Sampang), KH. Misbah Sadat (Surabaya), KH. Luthfi Bashori Alwi (Malang), KH. Mahfudz Syaubari (Pacet), KH. Hidayatullah Muhammad (Pasuruan), KH. Luqman Hakim (Pasuruan), dan Hb. Ahmad Al Hamid (Malang).

Berangkat dari visi dan misi serta potensi para pendiri tersebut diharapkan DIN dapat memberikan kontribusi kongkrit bagi perjuangan umat Islam di pentas global dan di nusantara pada khususnya.

Jika selama ini kelompok Ahlussunnah didentikan dengan pondok pesantren saja, tidak semuanya benar. Justru mereka memiliki kepedulian yang sangat tinggi terhadap kegelisahan umat Islam dewasa ini. Seperti semakin maraknya aliran- aliran sesat yang meresahkan. Termasuk diantaranya adalah tegaknya Syariah Islam di bumi pertiwi ini. Wallahu Alam.


Artikel Terkait