AL-IMAM AHMAD BIN HANBAL SAJA MEMOHON KEBERKAHAN

Shortlink:

Oleh KH. Luthfi Bashori

Biarkan saja anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu. Biarkan saja Wahhabi menggonggong, warga Sunni Asy’ari akan tetap saja eksis dengan amalannya.

Warga Sunni Asy’ari adalah penganut Ahlus sunnah wal jamaah yang beraqidah Asy’ariyah-Maturidiyah, dengan pengamalan fiqih mengikuti 4 madzhab: Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali, serta bertashawwuf mengikuti Imam Junaid Albaghdadi.

Sejatinya, semua amalan yang diajarkan oleh para ulama Sunni Asy’ari adalah berdasarkan dalil-dalil syar’i yang berlaku di kalangan para ulama Salaf, yang mana para ulama salaf itu pada hakikatnya telah melestarikan ajaran para Tabi’in, ajaran para Shahabat yang otomatis berdasarkan ajaran baginda Rasulullah SAW.

Contohnya, warga Sunni Asy’ari menyakini adanya keberkahan pada beberapa peninggalan dari orang-orang shalih, terlebih jika peninggalan itu berasal dari baginda Rasulullahi SAW. Berbeda dengan kaum Wahhabi yang meningkari adanya keberkahan tersebut, bahkan menghukumi para pencari keberkahan itu sebagai pelaku syirik.

Padahal Syeikh Abdullah putra Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan:
“Saya melihat ayah (Imam Ahmad bin Hanbal) mengambil sehelai rambut dari rambut Nabi SAW lalu meletakkan pada mulutnya seraya menciumi rambut tersebut. Saya pernah melihat ayah meletakkan rambut itu pada matanya, mencelupkan rambut tersebut ke dalam air dan meminumnya serta memohon kesembuhan dengannya. Saya juga lihat ayah mengambil mangkuk Nabi SAW lalu membasuhnya dalam sebuah wadah kemudian meminumnya. Saya lihat ayah juga minum air zam-zam guna memohon kesembuhan dengannya dan mengusapkannya pada kedua tangan dan wajahnya.

Imam Addzahabi berkata, “Dimanakah orang yang ekstrem dan berani mengingkari amalan Imam Ahmad bin Hanbal, padahal telah terbukti bahwa Abdullah bertanya kepada ayahnya tentang orang yang menyentuh mimbar Nabi SAW dan menyentuh kamar Nabi SAW (Al-Hujrah Al-Nabawiyyah)? Lalu ayahnya menjawab, “Saya menilai hal ini tak apa-apa.”

Semoga Allah melindungi kita dan kalian dari pandangan kaum khawarij maupun tuduhan bid’ah. (Siyaru A’lami Al-Nubalaa. Vol.11 hlm 212).

Catatan ini, tentunya hanyalah sekelumit dari apa yang diamalkan para ulama Salaf Ahlus sunnah wal jamaah, yang tidak dapat dipungkiri oleh siapapun, kecuali oleh golongan yang hatinya ditutup oleh Allah dari cahaya keberkahan.

Sumber: Pejuang Islam


Artikel Terkait